Pejuang Terhebat No. 1

Pejuang Terhebat No. 1
Pejuang Terhebat No. 1


__ADS_3

Bab 385


Fane berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Nah, yang ketiga... Wanita itu memiliki tatapan mata yang menggoda. Istriku tidak akan mengajakku keluar. Dia tidak memiliki mata yang menggoda dan yang terpenting dia tidak akan merayuku!"


"Ay! Aku sudah merasa sangat khawatir di sana, khawatir kau akan jatuh ke dalam perangkapnya dan terbunuh. Siapa yang tahu ternyata kau cukup jeli untuk melihat tipuannya. Kau seharusnya menjadi detektif!"


Selena tercengang. Sepertinya rasa khawatirnya sia-sia saja. Fane telah melihat petunjuk yang mencurigakan.


Baru kemudian Fane mengaku, "Bahkan dengan orang orang yang telah kupertimbangkan, aku masih ragu-ragu untuk bergerak membunuhnya. Bagaimana jika aku salah? Aku hanya bisa bergerak ketika identitasnya terungkap,"


"Apa yang membuatnya terungkap?" Selena mengerutkan keningnya dan ragu saat dia mengira penyamaran pembunuh bayaran itu sempurna.


"Itu adalah, fakta bahwa istriku tidak akan mau menciumku. Yang lebih penting lagi, aku mencium bau rokok. Itu artinya dia merokok. Istriku tidak pernah merokok! Saat itulah aku memastikan penilaianku, bahwa wanita itu adalah pembunuh bayaran dan bukan dirimu,"


"Kau cukup pintar juga, ya?"

__ADS_1


Lalu Selena berpikir tentang bagaimana wanita itu mencium Fane. Dengan kesal, dia lalu mengejeknya, "Jadi, bagaimana sekarang? Apakah kau senang karena dia menciummu? Harus aku katakan kalau dia memang memiliki tubuh yang bagus, kau senang sekarang?"


Fane merasa malu. Jadi, Selena cemburu.


Dia pun tersenyum getir. "Sayang, itu pembunuh bayaran yang sedang aku hadapi. Apakah kau pikir aku punya waktu untuk memikirkannya? Aku harus sedikit ikut dengan situasinya karena aku khawatir salah menilainya. Jadi aku menunda tindakan untuk membunuhnya dan hanya melakukannya setelah aku yakin akan hal itu,"


"Tunggu sebentar, dia adalah pembunuh bayaran yang terampil! Bagaimana bisa kau menghabisinya begitu cepat? Aku melihatnya memiliki sebuah belati!" Selena merasa kebingungan.


Jika Fane jauh lebih ahli dari wanita itu, itu berarti dia adalah raja perang!


"Benar, benar! Itu yang dia katakan. Sangat mudah membunuh seseorang saat sedang tidak waspada dan lengah. Aku berani bertaruh dia tidak akan berpikir kau bisa mengakalinya!"


"Selena, apa kau menangis saat melihatku barusan? Apa kau khawatir kepadaku?" Fane akhirnya tertawa.


Wajah Selena memerah lagi setelah berusaha keras untuk mengingat kembali dirinya sendiri.

__ADS_1


Dia memutar bola matanya dan berkata, "Dalam mimpimu! Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku khawatir tentang diriku sendiri. Bagaimana jika dia membunuhku? Aku khawatir tentang Kylie dan aku menangis karena Kylie, oke?"


Selena tahu dirinya sedang berbohong. Setelah itu, dia mengalihkan perhatian ke mayat di lantai dan mengalihkan topik pembicaraannya.


"Jadi bagaimana kita menyelesaikan ini? Kita tidak bisa begitu saja meninggalkannya di sini,"


"Ini benar-benar rumah yang bobrok... Ayo kita bakar seluruh tempat ini!" Fane menjawab setelah memikirkannya.


Yang terjadi selanjutnya adalah mereka berdua membuat api di luar rumah.


Saat menyaksikan api mulai menyala, Selena tiba-tiba memikirkan sesuatu. "Sial, kita seharusnya memeriksa tubuhnya kalau-kalau dia memiliki ponsel. Dari situ kita bisa melihat kenalannya dan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini!"


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komen

__ADS_1


Sekian Terima Kasih


__ADS_2