Pejuang Terhebat No. 1

Pejuang Terhebat No. 1
Pejuang Terhebat No. 1


__ADS_3

Bab 188


Selena keluar dari kamar mandi. Dia mengenakan gaun tidur biru muda. Gaun tidur itu tampak halus dan lembut. Fane bisa melihat kaki putih Selena di balik gaun tidurnya. Sangat menggoda.


"Apa yang kau lihat?"


Selena menatap Fane dengan tajam saat dia memergoki pria itu menatap kakinya.


Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Selena. Dia mengedipkan mata pada Fane lalu berbicara dengan nada merayu, "Sayang, apa kau ingin menciumku? Alu lihat kau berlama-lama menatapku. Haruskah aku memberimu kesempatan?"


Fane tidak menyangka Selena akan mengatakan hal seperti itu padanya.


Melihat putri mereka yang sudah tertidur lelap di tempat tidur, Fane mengangguk, "Tentu saja aku ingin menciummu!"


Selena tersipu saat dia berjalan ke arah Fane. Kemudian dia berkata, "Aku akan membiarkanmu menciumku kalau kau mengatakan yang sebenarnya!"


"Kau yakin? Kau akan membiarkan aku menciummu kalau aku mengatakan yang sebenarnya?"


Fane mengerutkan kening. Dia merasa bahwa segala sesuatunya jauh lebih rumit daripada yang terlihat.


"Tentu saja! Aku tidak pernah berbohong!"


Selena bersumpah..


"Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya!"


Fane mengangkat tangannya dan bersumpah.

__ADS_1


"Kalau begitu, katakan sejujurnya, apakah wanita yang memakai masker itu benar-benar Dewi Perang?"


Selena bertanya.


Fane menganggukkan kepalanya, "Iya. Dia adalah Lana, satu-satunya Dewi Perang. Itu benar!"


"Apa dia benar-benar temanmu? Jangan bohong padaku!" Selena menatap Fane dalam-dalam seakan-akan dengan begitu dia bisa melihat semua isi kepala Fane dengan jelas.


Fane tersenyum pahit lalu berkata, "Baiklah, aku sebenarnya berbohong sebelumnya. Dia sebenarnya bukan temanku!"


Wajah Selena berubah muram ketika dia mendengar kalimat Fane. Dia bukan temannya, dan dia kaya raya; apa Fane benar-benar menjadi lelaki simpanan demi mendapatkan uang empat puluh juta dolar?


"Aku sudah tahu. Kau pembohong!"


Mata Selena memerah, dia merasa sakit hati.


"Maaf, aku hanya ingin hidup damai. Dia bukan temanku, dia sebenarnya muridku!"


"Murid?"


Selena terkejut. Dia meragukan apa yang dia dengar, "Kau semakin konyol! Aku tidak percaya ketika kau mengatakan kalau dia adalah temanmu, tapi sekarang kau mengatakan bahwa dia adalah muridmu..."


"Apanya yang konyol? Dia memang muridku!"


Fane mengangkat bahu, "Kaulah yang terus mengusikku untuk memberitahumu. Sekarang aku sudah memberitahumu, tapi kau tidak percaya padaku!"


"Kenapa kau tidak sekalian bilang kalau sembilan Dewa Perang adalah muridmu juga? Konyol sekali!"

__ADS_1


Selena memutar matanya ke arah Fane.


"Sebenarnya, apa yang kau katakan itu benar. Mereka semua adalah muridku."


Fane tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis, " Aku pikir kau tidak akan memperhatikan itu. Istriku, kau luar biasa!"


Selena hampir pingsan. Orang ini benar-benar tidak tahu malu. Kapan dia mendapat nyali untuk mengatakan bahwa sembilan Dewa Perang adalah muridnya? Dia pikir dia siapa?


"Aku muak dengan kebohonganmu, dasar pembohong. Kau benar-benar bodoh!"


"Ya ampun, kenapa aku percaya bahwa kau bisa membawa kebahagiaan buat keluarga kita? Kau hanya tahu cara menyombongkan diri!"


Selena memandang Fane, berbalik, dan bersiap untuk pergi tidur.


"Tunggu!"


Fane menariknya kembali dan memojokkannya ke dinding dengan satu tangan di atas kepalanya. Dia melangkah maju dan berdiri lebih dekat ke tubuhnya.


"Kau, apa yang kau coba lakukan?"


Merasa bingung, jantung Selena berpacu tak terkendali. Mata indahnya terbuka lebar.


"Kau bilang aku bisa menciummu kalau aku mengatakan yang sebenarnya. Kau tidak bisa menarik kembali kata katamu, "kan?"


Fane menyeringai, menatap sosok di depannya.


"Tapi ... kau tidak mengatakan yang sebenarnya. Kau masih berbohong padaku..." Selena mengangkat kepalanya dengan marah.

__ADS_1


Bersambung.....


Terima kasih


__ADS_2