
Bab 209
"Benar. Ayo pergi ke toko Porsche di seberang. "Fane mengangguk, mengajak Selena keluar.
Porsche?
Kedua pramuniaga itu terkesima setelah mendengar perkataan Fane, ketiga orang keluarga itu keluar. Mereka saling menatap, bertanya- tanya apakah mereka salah dengar apa yang dikatakan Fane.
Keduanya mengira kalau keluarga itu akan pergi ke toko yang menjual mobil lebih murah ketika mereka mendengar harga BMW. Mereka tidak pernah berpikir kalau mereka akan pergi ke toko Porsche.
"Joyce, menurutmu apakah kita kehilangan calon pelanggan? Bagaimana kalau dia memang punya uang?" Pramuniaga yang mengepel lantai mengerutkan kening. Ekspresi wajahnya penuh dengan penyesalan.
"Tidak mungkin!" Joyce langsung menjawab. "Pakaian yang dikenakan wanita itu sepertinya tidak terlalu buruk, tapi pakaian pria itu biasa saja," bantahnya. "Menurutmu seberapa kayakah orang seperti itu? Dia mungkin sengaja berkata seperti itu untuk menyindir kita dan menjaga harga dirinya."
Setelah dia selesai berbicara, dia langsung menuju pintu masuk. "Kalau kau tidak percaya padaku, mari kita lihat mereka dari sini. Mereka pasti tidak akan masuk!"
Pramuniaga yang sedang mengepel lantai bergabung dengan Joyce di pintu masuk. Alisnya berkerut. "Tidak mungkin... Joyce, mereka masuk. Jangan bilang mereka benar-benar ingin membeli Porsche."
__ADS_1
"Tidak, tidak. Itu pasti akting," jawab Joyce segera. " Mereka pasti tahu kita melihatnya, jadi mereka berpura pura masuk. Mereka akan keluar sebentar lagi. Aku pernah melihat banyak hal seperti itu sebelumnya!"
***
"Apa kita serius akan masuk?"
Selena mengerutkan kening di pintu masuk toko Porsche. " Apakah kau tahu bagaimana memilih mobil? Porsche sangat mahal, dan kau bilang ingin membeli dua. Aku takut kita tidak mampu membelinya! Berapa banyak sisa uang yang kau miliki?"
Setelah mendengar itu, Fane menjawab dengan tidak peduli, "Sayang, jangan khawatir. Jangankan membeli dua mobil; membeli toko dan isinya saja aku mampu!"
Jangan bilang kalau Fane benar-benar menerima sepuluh juta dolar dari kemiliteran. Kalau begitu, dia pasti seorang komandan di pasukannya, atau mungkin seorang perwira tinggi!
Selena mengerutkan alisnya saat dia memikirkan hal itu. Melihat Fane bersikap sangat percaya diri, dia mungkin mendapatkan ratusan juta dolar atau bisa jadi lebih. Kalau tidak, sama saja mereka hanya mempermalukan diri sendiri kalau sampai masuk ke toko itu.
Kemarin, dia kebetulan mencari tahu posisi seorang komandan dan kapten; yang pertama bertanggung jawab memimpin seratus orang, sedangkan yang terakhir akan memimpin kira-kira seribu atau setidaknya beberapa ratus orang.
Pensiunan kolonel bisa mendapatkan sepuluh juta, meski bisa melebihi jumlah itu.
__ADS_1
Tentu saja, beberapa hanya menerima empat atau lima juta.
Fane mungkin punya sepuluh juta. Dia baru saja menghabiskan 3,2 juta sebelumnya. Kalau dia membeli dua mobil, pengeluarannya bisa menjadi sekitar lima juta. Dia bahkan berjanji untuk mengganti uang ibuku sebesar 3, 8 juta kalau sampai uang yang hilang tidak bisa ditemukan. Dia tidak mungkin memiliki kepercayaan diri seperti ini kalau dia tidak memiliki setidaknya sepuluh juta!
Selena perlahan merangkai potongan di kepalanya.
Menyadari tatapan linglung istrinya, Fane berkata, "Apa yang kau pikirkan, Sayang? Lihatlah sekeliling dan lihat apa ada yang kau suka? Kau bisa memilih sesuka hatimu!"
Selena tersentak, sampai pada akhirnya sadar. "Aku tidak tahu harga mobil di sini, dan kau menyuruhku membeli apa pun yang aku suka? Ayo cari harga yang murah! Pemborosan kalau kita membeli yang mahal."
Setelah dia mengatakan itu, Selena melangkah ke area resepsionis dan melihat seorang pramuniaga mengepel lantai. Ekspresinya berubah muram. "Oh ayolah. Mereka sedang mengepel! Kurasa kita tidak bisa membeli mobil hari ini..." gerutunya.
"Ayo kita kembali lagi besok." Ajak Selena.
Bersambung.....
Sekian Terima Kasih
__ADS_1