
Bab 286
"Tuan Muda Ruben, kenapa kau lama sekali menelepon? Kau sedang tidak merencanakan sesuatu, kan? Sudah kukatakan bawa uang tunai $3,8 juta itu, kau menelepon tidak untuk meminta bantuan, 'kan?"
Fane melihat Ruben menelepon sudah cukup lama, tak lama kemudian Ruben menutup teleponnya setelah mendengar perkataan Fane.
"Bagaimana mungkin aku bisa? Aku hanya memerintahkan mereka untuk membawa uang $3,8 juta itu untukmu. Jangan khawatir, mereka akan segera datang!"
Ruben menjawab dengan cepat, terlihat panik.
"Benarkah? Aku akan memperlihatkan kepadamu apa yang akan terjadi kalau kau berbohong padaku!"
Setelah Fane berkata dengan dingin, dia melemparkan pistol ke arah Ruben.
"Aduh!"
Pistol itu mengenai paha Ruben, membuatnya marah. Dia segera mengambilnya dan hendak melemparkannya kembali ke arah Fane, "Sialan, jangan berlebihan..."
Ruben berhenti sejenak ketika mengatakan itu, barulah dia menyadari kalau Fane telah melemparkan pistol kepadanya.
"Haha, kau sungguh cari mati. Kau melemparkan pistol kepadaku?"
__ADS_1
Ruben merasa gembira. Sepertinya Fane tidak terlalu memperhatikan saat dia melempar pistolnya.
Ruben dengen cepat mengarahkan pistolnya ke Fane lalu berkata, "Jangan bergerak, jangan berani-berani mengambil batu. Bahkan kalau kau berani menggerakkan ototmu, aku akan mengakhiri hidupmu. Ha ha!"
Fane tertawa saat melihat ekspresi Ruben. Dia lalu berdiri.
"Mati!"
Ketika Ruben melihat Fane bergerak, Ruben khawatir Fane akan mengambil batu lagi, jadi dia segera mengarahkan pistolnya ke arah Fane dan menarik pelatuknya dua kali.
Namun, Ruben terdiam pada detik berikutnya. Ternyata tidak ada peluru di dalamnya.
"Apa? Mustahil!"
"Hehe, Tuan Muda Ruben, menurutmu apa aku akan melemparkan pistolnya kepadamu dengan pistol terisi peluru di dalamnya?"
Fane terkekeh saat dia meregangkan tubuh. Fane kemudian berkata, "Aku hanya mengujimu. Aku tidak menyangka kau bisa gagal begitu dramatis!"
Ruben hampir pingsan karena marah, Bocah itu terlalu cerdas.
Untungnya, bocah itu tidak memukulinya. Setelah menghabiskan sebatang rokok, dia dengan sabar menunggunya di samping.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, dua SUV melaju mendekati mereka berdua.
"Hanya beberapa orang. Tampaknya, Tuan Muda Ruben, kau pria yang sangat terhormat!"
Fane terkekeh. Namun, dia cukup sadar kalau ternyata bagi orang-orang di Klan Dewa Naga, setelah menembak kaki putra bos-nya dan mematahkan jarinya, mereka tidak akan mengerahkan semua orang-orangnya. Lagi pula, tidak mudah mengalahkan mafia.
"Yah, tentu saja, kita semua adalah pria terhormat, jadi jelaskan, kita akan menghormati setiap kata yang sudah diucapkan!"
Ruben mencemooh dalam hati. Tampaknya kematian sedang menunggu bocah ini.
Kedua SUV itu diparkir di dekat Ruben. Lima orang turun dalam mobil dan dua di antaranya masing-masing memegang kotak kulit.
Mereka berlima saling menatap satu sama lain lalu melirik ke Ruben sebelum berjalan dengan perlahan.
Fane berdiri di depan Ruben dengan tenang menatap kelima pria itu.
Fane tahu kelima pria tersebut bukanlah bajingan biasa di Klan Dewa Naga. Dari langkah kaki mereka dan auranya yang terpancar dari tubuh mereka, Fane bisa memastikan kalau kelima pria itu cukup tangguh. Kemungkinan kekuatan mereka selevel dengan Scar.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komen
__ADS_1
Sekian Terima Kasih