
Bab 76
"Kalau begitu, kamu juga harusnya tahu kalau membongkar rumah kami tanpa memberikan ganti rugi itu salah, kan?"
"Kau pun pasti merasa tidak enak karena masalah ini, dan ingin menebus kesalahanmu."
Menghadapi si marsekal, Fane tidak takut sama sekali atau gugup sedikit pun. Sebaliknya, dia tersenyum acuh
tak acuh.
"Kalau saja kejadian ini ada di medan perang, kita berdua masih jadi tentara, kau tidak akan bersikap seperti ini terhadap sesama prajurit!"
Wajah Dennis berubah. "Aku tidak ingin berhitung lagi. 50 juta, dan seluruh keluargamu harus pindah. Tapi, kau jangan memberitahu Ken Clark!"
"Sungguh aneh. Kau adalah seorang prajurit yang baik dan berprestasi. Tapi kenapa kau takut pada Ken? Aku benar benar tidak mengerti apa yang kau takuti?"
Fane mengerutkan kening karena bingung.
"Bukan karena aku takut." Bertahun-tahun lalu, sebelum aku menjadi tentara, keluarga kami sangat miskin. Suatu ketika, saat aku dan saudara perempuanku hampir mati kelaparan, seorang tuan muda keluarga Clark lewat dan memberi kami beberapa ribu dolar. Meskipun uang itu bukan apa-apa baginya, tetapi, bagiku itu sangat berarti karena telah menyelamatkan hidup kami!"
"Selain itu, ada alasan lain yaitu karena aku menyukai saudara perempuan Ken..."
__ADS_1
Dennis tersenyum pahit setelah selesai berbicara, dia berkata kepada Fane, "Karena aku sudah berjanji kepada Ken bahwa aku akan membantunya, aku hanya bisa memberimu uang diam-diam dari kantongku sendiri dan kau bisa pergi bersama keluargamu. Dengan cara ini, aku tidak akan menyinggung perasaan Ken dan secara teknis, aku tidak memaksamu untuk menghancurkan rumahmu. Pertimbangkan ini sebagai untuk memberikan rasa aman bagi kita bersama!"
"Haha, kau membayar demi rasa amanmu sendiri!"
Fane terkekeh lalu kemudian berkata, "Tapi, aku tidak ingin merepotkan istriku saat kami mencari tempat tinggal!"
Fane tetap tidak peduli dengan semua perkataan Dennis. Setelah Dennis memberikan tawaran yang sangat besar ternyata Dennis punya alasan tersendiri melakukan itu semua.
Wajah Dennis tampak muram. "Anak muda, jangan berlebihan. Aku berkata seperti itu hanya denganmu saja karena kita pernah membunuh musuh bersama di medan perang dan kau seorang pria. Kau harus tahu bahwa kau bahkan tidak punya wewenang untuk berbicara seperti itu. kepadaku!"
"Haha, apa kau yakin?"
"Sepertinya kita harus menyelesaikan ini dengan kekerasan, jangan salahkan aku karena tidak kenal ampun. Izinkan aku bertanya lagi, apa kau setuju atau tidak? Kalau kau tidak setuju, kami akan menghancurkan secara paksa. Aku bahkan bisa membunuh atau menghancurkanmu jugal"
Dennis mengepalkan tinju, auranya menakutkan. Dia ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara yang baik, tetapi dia tidak menyangka Fane tidak menghargainya sama sekali.
"Kau?"
Fane tersenyum dingin. "Anggap saja kau beruntung karena aku tidak membuatmu berlutut di depanku saat bertemu denganku!"
"Aku berlutut di hadapanmu? Huh, kau pikir kau Dewa Perang? Aku bahkan tidak akan berlutut di hadapan Raja Perang seumur hidupku. Kecuali jika aku bertemu Dewa Perang. Hanya dia yang layak aku hormati untuk berlutut
__ADS_1
di hadapannya. Anak muda, apa kau Dewa Perang?"
Dennis sangat marah hingga hampir meledak. Dia mengambil langkah ke depan, menerjang, dan tinjunya. terbang langsung ke wajah Fane.
Fane dengan pelan beringsut ke samping untuk menghindari serangan lawan.
"Apa!"
Lawan tidak menyangka Fane bereaksi begitu cepat, kejutan melintas di matanya, Detik berikutnya, Dennis menyerang terus menerus dengan kedua tinjunya. Kecepatan tinjunya sangat menakutkan hingga terdengar seperti angin menderu.
Blaaar!
Fane menghindari serangan satu demi satu. Di saat tertentu, Fane akhirnya melawan balik. Dia menendang. dan kebetulan mengenai engkel lawan. Tenaga yang sangat kuat menyebabkan Dennis berlutut di lantai dengan satu lutut.
Krak!
Retakan tipis muncul di atas batu kapur tebal di tanah. "Kau...."
Bersambung.....
Terima kasih
__ADS_1