
Bab 283
"Bahkan tanpa menggunakan batu pun aku tidak takut. Aku juga masih ingin bermain-main dengan kalian!"
Fane berkata dengan ringan seolah- olah dia tidak peduli tentang pria itu.
"Bagus juga. Hah!"
Ruben tertawa dan melepaskan tembakan ke paha Fane.
Swoosh!
Dalam sekejap mata, Fane mengayunkan lengannya ke depan. Kedua kerikil itu langsung melesat ke depan.
Salah satu batu kebetulan mengenai peluru dan membelokkannya. Batu lainnya menghantam salah satu jari Ruben.
"Aaah!" Ruben memekik.
Jari yang terkena batu langsung patah, seolah-olah dia terkena peluru. Separuh jarinya pun terjatuh ke tanah.
"Bos!"
"Tuan Muda!"
__ADS_1
Rasa sakit yang tiba-tiba membuat Ruben berteriak kesakitan. Pistol juga terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah.
Yang lainnya menatap situasinya dengan mata terbelalak dan bertanya-tanya apakah ini nyata.
"Sialan! Bunuh dia!"
Ruben melihat pistol di tanah, lalu berbalik ke arah salah satu anak buahnya di sampingnya. "Ambil pistol itu dan bunuh bajingan itu!" dia menggeram.
Pria itu segera membungkuk untuk mengambil pistolnya. Tubuhnya masih terguncang. Dia tidak tahu apakah tadi itu batu tersebut kebetulan berhasil mengenai pelurunya.
Adapun jari Ruben, mereka tidak melihat apa yang terjadi dengan jelas. Mereka menduga peluru itu memantul dan kebetulan mengenai jarinya.
Swoosh!
Di saat Ruben berteriak, Fane sudah bergegas menuju ke arahnya. Dia dengan cepat mencapai pria itu dengan kecepatan seekor cheetah.
"Hah!"
Saat ini, Ruben sangat kesakitan hingga keringat dingin. membasahi dahinya. Darah mengalir di tangannya.
Namun, dia tidak memikirkan luka di tangannya. Awalnya, dia adalah orang yang mengarahkan pistolnya. Tetapi dalam beberapa detik, pistol yang sama telah diarahkan ke kepalanya. Perubahan situasi yang tiba-tiba ini membuat otaknya seperti berhenti bekerja.
"Bo-bos, ba-bagaimana ini bisa terjadi?"
__ADS_1
Orang-orang yang tersisa pun menjadi ketakutan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Dua dari para preman itu sangat ketakutan sehingga mereka ingin segera kabur. Namun mereka takut bahkan jika Fane tidak membunuh mereka ketika melarikan diri, Dewa Naga juga tidak akan melepaskan mereka.
Dewa Naga adalah kelompok yang kuat dan merupakan kelompok bawah tanah. Namun kekuatan mereka bahkan bisa menghalangi para bangsawan untuk memprovokasi mereka.
"Kau akan menyesali keputusanmu jika membunuhku, dasar brengsek! Aku bilang bahwa aku adalah putra Master Harvey, grandmaster dari Dewa Naga!"
Pada saat ini, meskipun Ruben ketakutan, dia masih menunjukkan pengaruhnya dan tidak mau menyerah.
"Dewa Naga?" Dahi Fane berkerut.
la ingat kejadian di masa lalu yaitu Scar dan Ned dan anak buahnya yang berjumlah sekitar 200 orang. Bukankah dia sudah membunuh mereka semua?
la tidak pernah menyangka bahwa bos dari Perampok Sepeda Motor adalah anak dari sang grandmaster, Master Harvey. Kebetulan sekali.
Dada Ruben mengendur saat melihat Fane tidak berbicara. Sepertinya saat ini Fane takut.
Toh, tidak seorang pun yang pernah mendengar nama Dewa Naga dan mengaku tidak takut.
"Ada apa? Takut? Heh. Karena kau takut, berikan pistol itu padaku, dasar brengsek!" ujar Ruben sambil tersenyum.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen
Sekian Terima Kasih