
Bab 416
"Aku... Aku masih bisa minum!"
Yvonne bersendawa. Pipinya bersemu merah muda, bicaranya sedikit cadel.
Pada saat ini, masing-masing dari mereka telah minum 12 gelas bir, dan itu setara dengan sekitar 30 botol bir per orang! Ketakutan dan kecemasan membungkam orang orang. Dengan kondisi seperti itu membuat lidah mereka kelu.
"Y-Yvonne, kau... Kau terlihat mabuk! Berhentilah minum. Lihat Fane; dia masih sadar. Menyerah sajalah, kau bukan tandingannya!"
Jelas bagi Tanya bahwa Yvonne tidak bisa menahannya lebih lama lagi, namun sikap keras kepala dan harga diri Yvonne yang mendorongnya. Yvonne hanya ingin melihat Fane jatuh ke tanah di hadapannya.
"Aku tidak mabuk. Aku masih bisa minum! Aku pikir Fane adalah orang yang tidak bisa menahannya lagi, 'kan?" Yvonne mabuk tertawa cekikikan. "Dia menipu dirinya sendiri sekarang!"
Yvonne mengoceh sambil menopang kepalanya dengan satu telapak tangan. Dia tampak seperti bisa jatuh kapan saja.
"Maafkan aku, Tuan-tuan. Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyentuhmu!"
Tidak jauh dari meja Fane, suara minta maaf mengganggu suasana.
Plak!
__ADS_1
Suara tamparan yang kuat bergema di udara. "Sialan! Apa kau tahu berapa harga bajuku? Apa menurutmu kata 'maaf' bisa mengubah keajaiban?"
Seorang preman dengan anting-anting berdiri, mengayunkan tangannya, lalu menampar wajah seorang pria. Pria malang itu mengenakan pakaian kerja dengan cap logo perusahaan pengiriman barang. "Kau hanya seorang tukang pengantar barang. Beraninya kau menyentuhku!" raung preman itu.
"Bagaimana kau bisa menampar seseorang? Dia tidak bermaksud untuk menyentuhmu. Ditambah lagi, lantainya terlalu licin! Dia bahkan tidak menyakitimu; itu hanya dorongan ringan!"
Seorang wanita berpakaian sederhana berlari, menarik pria yang dipukuli itu ke samping. Dia melihat preman itu dengan tatapan tajam. "Kau tidak bisa begitu saja memukuli seseorang, meskipun dia membuat bajumu kotor. Kami akan membayar bajumu!"
Preman itu mengejek. "Ingin membayarnya? Bagaimana kau akan membayarnya? Dengan tubuhmu?"
Pria dengan anting-anting itu tersenyum licik saat dia melirik wanita di hadapannya.
Wanita tersebut juga mengenakan seragam dengan logo perusahaan di atasnya. Sepertinya mereka berdua adalah rekan kerja. Wanita itu pendek, tetapi bentuk tubuhnya sangat proporsional. Bentuk tubuhnya tidak hanya menggairahkan, tapi kemejanya yang ketat di bagian dada memberikan kesan seperti itu.
Di sisi lain, wataknya yang lembut dan feminin dari wanita tersebut memancarkan aura yang alami dan polos. Kehadirannya tanpa disadari membuat orang lain bersimpati padanya.
"Bajingan tak tahu malu!"
Wanita itu sangat murka sehingga dia mengatupkan giginya dengan erat.
Plak!
__ADS_1
Tiba-tiba di luar dugaan semua orang, preman dengan anting-anting itu menamparnya dengan keras. "Siapa kau berani mencela diriku ? Kau punya nyali, ya? Pernahkah kau mendengar namaku dan Klan Elang?"
"Betul sekali! Kakak Tempest Klan Elang. Apakah menurutmu kami ini preman kampung biasa? Kami memiliki kekuatan dan otoritas yang mendukung kami!"
"Hmph! Beraninya kau berbuat sesuka hati dan menyinggung KakakTempest!"
"Kau..."
Preman yang lainnya berdiri lalu menyilangkan tangan di dada. Mata mereka memandang tempat kejadian, menunggu seseorang yang berani muncul.
Pria pengantar barang itu gemetar saking marahnya, tetapi dia tahu dia tidak mampu menyinggung pihak lawan. Dia hanya bisa menahan kekesalannya saat dia berbicara, "Seribu dolar, 'kan? Aku akan membayarnya."
Fane, yang sedang minum di seberang warung, langsung mengenali suara itu. Bukankah suara itu milik teman baiknya? Wajah Fane dengan cepat berubah menjadi gelap dan tinjunya mengepal.
Fane paling dekat dengan pria itu saat dia masih bekerja sebagai pengantar barang. Keduanya sering nongkrong dan minum bersama.
Fane tersadar bahwa setelah lima tahun, teman baiknya itu masih bekerja sebagai pengantar barang.
Sepertinya keduanya baru saja pulang kerja dan akan makan malam.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen
Sekian Terima Kasih