
Bab 183
Melihat Neil berjalan ke arah mereka diikuti semua pengawalnya, Selena merasa khawatir pada Fane.
Dia sangat marah pada suaminya karena pergi ke acara lelang dengan wanita lain, berbohong padanya, dan mengatakan bahwa wanita itu adalah Dewi Perang.
Meski begitu, keduanya masih memiliki perasaan satu sama lain setelah sekian lama menghabiskan waktu bersama. Sekarang saat Fane dalam bahaya, dia menyadari bahwa dia sangat mengkhawatirkan Fane.
Bagaimana jika Fane meninggal? Apakah itu berarti Kylie akan kehilangan ayahnya?
"Ayolah, Kak. Ayo masuk ke rumah!"
Ben juga melangkah maju. Beberapa dari mereka menyeret Selena ke dalam rumah.
Jenny segera menggendong Kylie dan cepat-cepat mengikuti mereka ke dalam rumah.
"Tuan Hugo, Fane-lah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pagi ini. Kejadian itu tidak ada hubungannya dengan keluarga kami!"
Fiona langsung meneriaki Roy Hugo dan anak buahnya yang sudah berada di halaman, setelah mundur ke dalam rumah. Dia takut orang-orang akan memukulinya atau lebih parah lagi, membunuhnya.
"Ma! Ibunya Fane. Apakah dia masih di luar? Minta dia masuk!"
__ADS_1
Selena sangat khawatir. Pintu sudah ditutup, mereka hanya bisa berdiri di belakang jendela dan melihat apa yang terjadi di luar.
"Kau terlalu baik. Kenapa memintanya masuk ketika dia sendiri tidak ingin masuk? Dia ibunya, bukan ibumu. Biarkan dia menemani anaknya jika dia ingin melakukannya."
"Selain itu, bagaimana jika keluarga Hugo menjadi tidak senang setelah dia masuk? Apa yang akan kau lakukan jika dia melibatkan kita dalam masalah?" Fiona tidak setuju.
"Nak, apakah kau benar-benar memukul tuan muda dari keluarga Hugo?"
Joan tidak mau meninggalkan putranya. Dialah satu satunya pendukungnya. Bagaimana bisa dia meninggalkannya sendirian dan bersembunyi di dalam rumah?
Namun, memikirkan bahwa keluarga Hugo adalah keluarga aristokrat kelas dua, Joan juga ketakutan. Dia menatap Fane dengan cemas dan berharap semua ini tidak nyata.
Joan hampir pingsan setelah mendengar apa yang dia katakan. Putranya memang banyak berubah setelah kembali dari perang. Dia suka melawan ketidakadilan.
Namun, ini adalah medan perang yang berbeda. Jika dia terus menyerang kelompok yang punya kekuatan besar seperti mereka, bagaimana dia bisa bertahan?
Cepat atau lambat, sesuatu yang buruk akan terjadi jika keadaan terus berlanjut seperti ini.
"Tuan-Tuan semua, anakku mungkin sedikit bertindak impulsif sekarang karena dia baru saja kembali dari medan perang. Aku harap kalian tidak menyalahkannya!"
"Datang saja padaku jika kau ingin membunuh!"
__ADS_1
Joan ketakutan. Namun ketika rombongan keluarga Hugo mendekati Fane, sebagai seorang ibu dia pun mengumpulkan keberaniannya. Dia memblokir Fane dari orang-orang itu dengan tubuh kurusnya.
"Bu, kenapa kau takut pada mereka? Kau tidak perlu takut; mereka bukan lawanku! Jangan khawatir!"
Melihat ibunya ketakutan, Fane merasa tersentuh. Dia segera mencoba menghibur Joan.
"Apa lagi yang kau tunggu?!"
Wajah Roy menggelap. Dia memelototi putranya, Neil.
Meskipun enggan, Neil tidak punya pilihan selain menundukkan kepalanya dan melangkah maju. Dia lalu berlutut di depan Fane,
"Kakak Fane, aku bersalah. Aku bodoh dan membuat kesalahan. Tolong maafkan aku!"
Fane pun merasa malu. Dia mengira mereka ada di sini untuk memulai perkelahian. Tanpa diduga, dia membawa putranya untuk meminta maaf.
Dia menatap Roy Hugo dan mengagumi pria itu.
Bersambung......
Terima kasih
__ADS_1