
Bab 302
Hal terakhir yang diharapkan Fane adalah melihat seorang gadis telanjang tanpa sehelai handuk pun yang membungkus tubuhnya. Gadis itu hanya mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuknya sebelum berjalan keluar dari kamar mandi.
Gadis itu tertegun sejenak saat melihat Fane untuk pertama kalinya.
"Aaah! Orang cabul!!" Gadis itu pun berteriak sekuat tenaga.
Gadis itu lalu melihat Fane membelakanginya dan dia pun segera mengambil kesempatan untuk lari ke kamarnya dan menguncinya.
"Sepertinya sepupu Tanya, Yvonne, sudah kembali!"
Fane terkekeh tanpa daya. Dia tidak menyangka akan melihatnya telanjang seperti itu.
Dia harus mengakui kalau Yvonne memiliki bentuk tubuh yang menakjubkan. Tampaknya dia lebih tua dua sampai tiga tahun dari Tanya dan tampak jauh lebih dewasa, tidak seperti Tanya yang seperti seorang tuan putri.
Fane memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan meringis karena malu. Dia tidak yakin apakah gadis itu akan keberatan atau tidak.
Sebelumnya, hal ini tidak pernah terjadi padanya.
Dia tidak kenal takut ketika menghadapi musuh yang tak terhitung jumlahnya di medan perang. Tapi ini? Dia bahkan tidak tahu bagaimana harus memulai mengendalikan akibatnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Yvonne keluar dengan marah. Dia sudah mengenakan gaun putih panjang dan langsung pergi ke kamar Fane sambil menatapnya dengan marah.
Jika satu tatapan bisa membunuh, sepertinya Fane akan mati lebih dari seribu kali.
Gadis itu memegang gunting dan mengarahkannya ke Fane sambil berteriak, "Kau ini siapa, bajingan? Bagaimana kau bisa ada di rumah keluarga Drake? Jika kau tidak berterus terang, aku — aku akan membunuhmu!"
"Aku seorang pengawal di sini dan kamar ini telah disediakan untukku oleh Nona Tanya. Dia bilang aku boleh beristirahat di kamar ini kapan pun aku merasa lelah dan juga bisa tinggal di sini!" Fane menjelaskan setelah tertawa tak berdaya.
"Pengawal?"
Dia menatap Fane dengan curiga sebelum akhirnya melihat ke tempat tidurnya.
Yvonne segera menyadari bahwa selimut di tempat tidur Fane ditumpuk dengan rapi dan setiap sudutnya sejajar dengan sangat sempurna. Bentuknya lebih baik daripada tumpukan tahu kering. Ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan orang biasa.
Lagi pula, hanya veteran perang yang kembali dari medan perang yang bisa mempertahankan kebiasaan seperti itu.
"Iya!" Fane mengangguk.
"Menjadi pengawal setelah dipulangkan dari medan perang adalah hal yang normal. Sepertinya kau tidak berbohong padaku,"
Yvonne menatap pria itu. Dia awalnya sangat marah pada Fane. Tetapi ketika memikirkan bahwa pria ini yang mempertaruhkan nyawanya di medan perang dan menangkis serangan musuh, dia pun menjadi tenang.
__ADS_1
Orang seperti itu mungkin bukan orang cabul.
Namun, ketika memikirkan tentang bagaimana dia tidak pernah dilihat oleh pria dalam keadaan seperti yang sebelumnya, Yvonne merasa tidak senang dan terhina sampai tingkatan yang paling tinggi.
"Ya, aku tidak akan berbohong padamu! Aku tidak suka berbohong kepada semua orang!"
Fane tertawa canggung. Peristiwa yang terjadi beberapa saat yang lalu membuatnya malu.
"Kalau begitu katakan dengan jujur. Apakah sebelumnya kau sudah melihat semuanya?"
Yvonne bertanya sambil mengertakkan gigi-giginya.
"Ya, semuanya!" Fane merasa canggung.
"Kau... Dasar brengsek. Kau seharusnya mengatakan tidak, bahwa kau tidak melihat apa-apa saat itu!"
Yvonne menghentakkan kakinya dengan marah. Ia marah atas pengakuan Fane yang terlalu blak-blakan.
"Sudah kubilang 'kan, aku tidak suka berbohong kepada semua orang. Lagi pula, kau menyuruhku untuk jujur!"
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen
Sekian Terima Kasih