
Bab 125
...Selena kehilangan kata-kata....
Fane memperlakukan uang seperti bukan apa-apa, seolah olah tumpukan uang kertas itu adalah gulungan kertas toilet baginya.
Dia terlalu murah hati kepada wanita itu.
"Memangnya, berapa yang seharusnya kuberikan padanya? Haruskah aku mengambil uang itu kembali?
Setelah berpikir ulang, akhirnya Fane berubah pikiran.
"Lupakan saja. Tidak ada alasan bagiku untuk mengumpulkan air yang sudah dituangkan dari botol!"
Selena tetap terdiam dan hanya memberinya senyum garing.
"Ah, sudahlah. Suamiku berpenghasilan dua puluh juta sebulan! Kita akan kaya setelah kau bekerja selama dua bulan untuk keluarga Drake dan menjadi miliarder setelah satu atau dua tahun,"
"Sayang, sekarang kita tidak kekurangan uang. meskipun..."
"Teruslah membual, apalagi sekarang kantongmu hampir kosong." Selena mendecakkan lidahnya.
__ADS_1
"Kau harus belajar bagaimana mengatur keuanganmu dengan lebih baik, mengerti? Aku juga tidak akan mau menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk makan malam jika bukan untuk memangkas ego si Sonia itu,"
"Tidak tidak Tidak! Kau harus mulai bersiap menjadi wanita kaya raya, Sayang," bantah Fane.
"Selain itu, aku bermimpi mengadakan resepsi pernikahan lagi dan membawamu pergi dengan jet pribadi suatu hari nanti!"
"Apa kau yakin? Aku rasa itu bukan ide yang bagus karena kita sekarang memiliki anak berusia empat tahun. Bukankah konyol bagi kita untuk mengadakan resepsi pernikahan lagi?"
Mereka terus saling mengolok-olok saat mengendarai skuter listrik. Suka cita dan kebahagiaan bermekaran di hati Selena seperti sinar hangat matahari yang meluluhkan hatinya yang sedingin es.
Selena perlahan menyadari bahwa cinta telah bersemi di antara mereka berdua seolah-olah mereka baru saja mulai berkencan.
Mungkin inilah yang selalu dikatakan orang, jatuh cinta pada pasanganmu setelah menikah.
"Adik, kenapa kau mengeluarkan Ayah dari rumah sakit?"
Jessica sangat terkejut dengan kehadiran ayahnya. Ayahnya, yang seharusnya menerima perawatan di rumah sakit saat ini terbaring di rumah kontrakan tua yang bobrok.
"Untungnya, Tuan Woods yang baik hati menyelamatkanku dari tangan kotor mereka! Jika kau ada di sana bersamaku, kau pasti bisa melihat betapa hebatnya Tuan Woods! Puluhan bajingan itu jatuh ke tanah bahkan tanpa menyentuh bajunya sama sekali. Aku merasa Tuan Woods ini bukanlah orang biasa. Bawahan Tuan Muda Clock atau Clark, atau siapalah itu namanya, semua takut padanya!"
"Wow! Keren sekali! Betapa aku berharap bisa menjadi seperti dia!"
__ADS_1
Jack melamun dengan kekaguman terpampang di wajahnya. Baru saat itulah dia melihat tas bergambar bunga di lengan kakak perempuannya itu.
"Kak, kenapa kau membawa tas besar dari tempat kerja? Apakah kau mengumpulkan barang yang dapat didaur ulang untuk mendapatkan beberapa uang tambahan?"
"Aku juga tidak tahu apa isi tas ini. Nyonya Woods meminta Tuan Woods membantuku dan dia menyerahkan tas ini padaku," Jessica menanggapinya dengan nada kebingungan.
"Tas besar ini... berisi sampah, kan? Tetap saja... rasanya aneh. Maukah kau pergi ke tempat mewah untuk bersenang-senang dengan tas seperti itu?"
Jack lalu membuka ritsleting tas tersebut sambil berbicara kepada dirinya sendiri.
Namun, rahangnya hampir terlepas sebelum akhirnya dia bisa menutup mulutnya.
"Ya Tuhan, ini uang! I - lni uang yang banyak sekali!"
"Apa? Uang?"
Rahang Jessica dan ibunya juga hampir jatuh mendengar kata-kata Jack.
Dengan uang sebanyak itu, ayah mereka bisa diselamatkan!
Mereka lalu segera melihat isi tas tersebut. Dalam sekejap mata, air mata bahagia yang hangat pun memenuhi mata mereka.
__ADS_1
Bersambung.....
Terima kasih