
Bab 152
"Ya ya ya. Sekarang negara kita sudah damai, jadi kalian harus istirahat dan sedikit bersantai!"
Fane tertawa lembut dan berkata, "Saudaramu si Abner mengirimiku SMS yang mengatakan bahwa dia terlalu bosan dan akan pergi berlibur."
"Benarkah? Ketika Kakak Johnson kembali, dia langsung dikerumuni orang-orang di desanya. Aku dengar ada banyak orang yang menunggu tanda tangannya. Ya Tuhan, adegan itu..."
Lana tertawa dan berkata, "Benar, Kakak Fane, bagaimana denganmu? Apakah istrimu dan orang-orang di sekitarmu sudah mengetahui identitasmu?"
"Tidak!"
Secarik senyum manis terlihat di wajah Fane. Tak seorangpun pernah melihat senyum seperti itu sebelumnya.
Fane lalu berkata, "Untuk saat ini aku tidak ingin mereka mengetahuinya. Aku takut mereka tidak bisa menerima identitasku jika aku menjatuhkan bom ini kepada mereka. Belum lagi, aku ingin hidup damai tanpa gangguan."
"Huft!"
Lana kembali meratap setelah mendengar pernyataan Fane.
Dia berkata, "Oh, betapa irinya aku padamu. Jika aku tahu sebelumnya, aku juga tidak ingin gelar ini dan tidak ingin diumumkan secara resmi. Oh, alangkah bagusnya jika aku bisa hidup damai. Sekarang, seluruh Cathysia tahu bagaimana wajah kesembilan Dewa Perang. Jika tidak ada yang mengenalku, aku bahkan tidak perlu memakai kacamata hitam ini untuk keluar rumah!"
__ADS_1
"Aku rasa kau harus memakai masker. Tidak aman hanya mengenakan kacamata hitam saja,"
Fane menggodanya saat melihat penampilan Lana.
Padahal sebenarnya saat mobil Lana terparkir di hadapannya, dia sama sekali tidak mengenali murid perempuannya itu.
Hanya setelah mendengar suaranya barulah Fane menyadari itu adalah Lana.
"Hmm, kenapa aku tidak memikirkan itu, ya? Ya, untuk seterusnya aku harus memakai masker, terutama di keramaian. Akan berakibat buruk jika beberapa bocah kaya tidak jelas mengenaliku!!" ujar Lana.
"Oh iya, tempat yang akan kau tuju bersamaku, tempat seperti apa itu?"
"Sebuah rumah lelang!"
Sambil terus mengemudi, Lana berkata, "Aku dengar seseorang telah mendapatkan harta karun. Sebuah mutiara bercahaya seukuran bola pingpong dan sangat istimewa. Jika diletakkan pada rangka tempat tidur, mutiara itu dapat membantu seseorang tertidur lelap dan bahkan ada rumor yang mengatakan bahwa mutiara itu dapat memperpanjang hidup,"
"Ada rumah lelang di kota ini?"
Fane mengerutkan keningnya dan berkata, "Mutiara itu sangat besar, ya? Kita harus melihatnya!"
"Ya! Tahukah kau berapa harga awalnya?"
__ADS_1
Setelah berpikir sebentar, Fane berkata, "Kita bisa menawar mutiara itu karena sebentar lagi ulang tahun Kakek Taylor yang ke-70 dan aku masih memeras otak memikirkan hadiah apa yang akan aku berikan untuknya!"
"Benarkah? Jika kau ingin menawar, lakukanlah!"
Lana tertawa. "Jadi, tujuan utama hari ini adalah untuk menawar benda itu. Rumah lelang ini biasanya melelang lukisan atau barang antik terkenal. Mutiara bercahaya tersebut hari ini sedang dilelang secara pribadi dan tidak banyak orang yang mengetahuinya. Mereka hanya memberi tahu beberapa keluarga bangsawan kelas satu dan kelas dua dan bahkan mengabaikan para keluarga bangsawan kelas tiga!"
"Bagaimana kau tahu soal itu?"
Fane terkejut saat dia bertanya dengan penasaran.
"Sebaiknya jangan mengungkit hal itu. Anak-anak kaya tidak jelas itu semuanya ingin mendekati aku. Tahukah kau saat aku hendak keluar tadi, saat aku keluar dari pintu beberapa anak kaya itu mendatangiku dengan membawa bunga mawar? Orang-orang itu sebenarnya tidak benar benar mencintaiku, yang mereka lihat hanya koneksi dan kekuatanku!"
Fane berkata tanpa daya, "Lebih baik nanti kau memakai masker. Pakai seperti yang dikenakan para artis atau kau akan dikenali."
"Oh, betapa indahnya hidupmu. Jika tidak ada yang tahu siapa dirimu, kau tidak perlu khawatir orang-orang akan mengganggumu saat berjalan di jalanan!"
Lana merasa iri saat melihat Fane di sampingnya. Dia lalu berkata, "Kau bahkan sudah memikirkan semua rencana jangka panjangmu!"
Bersambung.....
Terima kasih
__ADS_1