
Bab 93
Untung bagi Harvey, Fane hanya berada beberapa meter jauhnya dari tempat dia berdiri.
Harvey punya kemungkinan lebih besar untuk mengenai targetnya.
Fane langsung bereaksi. Dia bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga tak seorang pun melihat bagaimana dia melakukannya.
Mereka hanya melihat Fane melambaikan tangannya. Waktu seolah berhenti dan tiba-tiba ada lima pisau lagi di tangan Fane. Total ada enam pisau, ditambah dengan pisau yang sebelumnya berhasil día tangkap.
"Sial!"
Harvey menelan ludah untuk menenangkan dirinya. Dia sangat terkejut karena Fane bisa menangkap semua pisaunya. Semua berlangsung sangat cepat sehingga dia tidak melihat apa yang sedang terjadi. Yang jelas semua pisau itu berakhir di tangan Fane.
Dia tahu pasti, bahkan sang Komandan Kepala pun jika berada dalam situasi yang sama akan memilihmenghindari kelima pisaunya dan merencanakan sebuah serangan balik daripada menangkap pisau-pisaunya dengan tangan kosong.
Keberhasilan Fane menangkap semua pisaunya membuktikan bahwa dia lebih jago dari Komandan Kepala
dalam hal kecepatan, kelincahan, dan aspek lainnya.
Mata Tanya berbinar-binar kegirangan saat melihat apa yang baru saja terjadi. Kemampuan Fane terbukti dan dia teryakinkan bahwa Fane memang layak mendapat gaji bulanan sebesar 20 juta dolar.
"Sekarang giliranku! Aku tidak pandai melempar pisau, tapi mungkin aku harus mencobanya!"
Merasa terpancing, Fane hanya tersenyum dan bersiap melemparkan enam pisau sekaligus ke arah Harvey.
__ADS_1
"Tidaaaak!" Harvey sangat ketakutan.
Si berandalan itu baru saja mengklaim bahwa dia bukan seorang ahli tapi tetap saja melempar pisaunya. Nona Tanya berada tepat di samping Fane dan dia khawatir dengan kecepatan pisau yang akan dilemparkan Fane.
Sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan jika benar Fane tidak pandai dalam hal itu dan pisau-pisau itu akan meleset dan malah mengenai Nona Tanya. Beberapa pengawal lain juga terkejut saat mendengar ucapan Fane. Si berandalan itu berkata ingin mencoba melempar pisau!
"Swish! Swish! Swish! Swish! Swish! Swish!"
Keenam pisau itu terbang dengan kecepatan tinggi dan dalam waktu singkat mendarat tepat di tempat Harvey berada.
"Aaargh!"
Sebelum Harvey sempat bereaksi, dia merasakan semburan rasa sakit di enam titik tubuhnya pada saat yang bersamaan. Kekuatan yang maha dahsyat melemparkannya ke udara. Harvey terbatuk dan memuntahkan seteguk darah segar
"Tamatlah sudah. Matilah aku, ada pisau tertancap di jantungku!"
"Klang! Klang! Klang!"
Tiba-tiba dia mendengar suara pisau pisau berjatuhan ke tanah.
"Apa yang baru saja terjadi? Aku.... aku tidak mati?"
Harvey meraba-raba tubuhnya dan memeriksa tangannya. Dia tidak menemukan jejak darah sedikitpun.
Harvey pun duduk dengan linglung. Dia melihat ke tanah dengan wajah pucat dan menemukan keenam pisaul
__ADS_1
tergeletak di tanah tanpa darah setetes pun.
"Kenapa tidak ada darah?" Harvey berdiri sempoyongan dan di wajahnya terlihat rasa tidak percaya. "Apa yang baru saja terjadi?"
Fane mengerutkan kening dengan getir. "Hhhh, benar benar apes. Bagaimana bisa kau hanya terkena gagang pisaunya!?"
Semua orang yang ada di situ merasa seperti jantung mereka hampir melompat keluar dari tenggorokan. Semua gagang pisau mengenai targetnya.
Tidak mungkin itu murni keberuntungan. Dengan kata lain,
Fane sengaja melakukannya.
Tanpa disadari, keringat dingin mengucur dari tubuh Harvey. Dia tadi benar-benar ketakutan.
"Terima kasih karena tidak membunuhku!"
Tanpa berpikir panjang, Harvey menggenggam kepalan tangan di depan wajahnya, memberi salam sambil membungkuk untuk berterima kasih kepada Fane,
"Kenapa berterima kasih padaku? Ini keberuntunganmu!" Fane tersenyum ringan.
Dia lalu melanjutkan.
"Ngomong-ngomong, adakah yang ingin menantangku lagi?"
Bersambung........
__ADS_1
Terima kasih