
Bab 184
"Apa? Apakah aku tidak salah lihat? Tuan Muda Hugo berlutut di depan Fane?"
Fiona menggosok matanya dan bertanya-tanya apakah dia sedang berhalusinasi.
"Dia membawa begitu banyak orang, tapi bukan untuk menghabisi Fane? Fane menampar putranya, sama saja artinya dia mengejek keluarga Hugo! Anehnya, Roy Hugo malah menyuruh putranya berlutut di depan Fane dan meminta maaf padanya?"
Xena juga terkejut. "Apa yang terjadi? Apakah orang-orang dari keluarga Hugo sudah gila?"
"Ini..."
Andrew juga bingung.
Fane sedikit tertegun setelah mendengar kata-kata Neil. Kemudian dia berkata,
"Bangunlah. Hari ini kau belum menyentuh batas kesabaranku. Kalau tidak, aku pasti sudah membunuhmu!"
Fiona dan yang lainnya merasa malu setelah melihat Fane begitu mendominasi. Apakah dia benar- benar hanya seorang veteran perang biasa? Mengapa dia tidak takut pada keluarga Hugo?
__ADS_1
Seolah-olah dia bisa memutuskan hidup dan mati seseorang. Seolah- olah dia adalah seorang diktator!
Saat menatap sosok Fane, Selena langsung merenung.
Apakah dia benar-benar mengenal dan berteman dengan si Dewi Perang itu?
Kalau tidak, bagaimana bisa dia begitu acuh tak acuh menghadapi orang-orang dari keluarga Hugo? Dia tampak begitu santai dan tenang.
"Terima kasih, terima kasih banyak, Kakak Fane!"
Hati Neil dipenuhi dengan rasa tidak puas, tetapi dia terpaksa menundukkan kepalanya. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Fane, dia mundur dan kembali ke sisi ayahnya.
Ayahnya hanya ingin hidup damai sepanjang hayatnya. Sudah banyak insiden di mana ayahnya tetap diam meskipun diintimidasi.
Ayahnya mengatakan kalau sikap diamnya adalah karena dia tidak ingin menyinggung pihak lain untuk mencegah kehancuran keluarga Hugo. Neil tidak bisa membantah karena semua itu demi keluarga Hugo.
Saat itu, dia merasa ayahnya seperti kura-kura yang bersembunyi di dalam cangkangnya. Selama ini, dia hidup dengan penuh kehati-hatian.
Pria di depan mereka hanyalah seorang veteran perang. Apa yang harus ditakuti darinya?
__ADS_1
Selain itu, meskipun pria itu mungkin punya wanita kaya sebagai pendukungnya, ayahnya seharusnya tidak usah jauh-jauh membawanya ke sini dan memaksanya untuk meminta maaf. Dia bahkan harus berlutut di depan Fane. Ini sangat memalukan.
"Kau harus minta maaf. Berlutut dan minta maaf!"
"Jika seorang tentara berani memukulmu, itu artinya dia tidak takut. Pasti ada wanita kaya di belakangnya yang tidak boleh kita singgung! Jadi, kau harus meminta maaf demi keselamatan keluarga Hugo!"
"Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Kau bisa berpesta sesuka hatimu bahkan tidak perlu melakukan apa -apa dan hidup dari uang keluarga kita. Kita punya banyak uang dan itu akan bertahan selamanya. Aku sudah bilang jangan membuat ulah tapi kau tidak mau mendengarkan!"
"Selain itu, kau mengirim segerombolan preman untuk merampok barang orang lain yang baru saja mereka beli dari pelelangan. Kau mempermalukan keluarga Hugo di depan semua keluarga aristokrat kelas satu!"
Kata-kata agresif ayahnya masih terngiang-ngiang di telinga Neil.
"Tuan Fane, aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi hari ini. Itu semua salah anakku. Ini sedikit sesuatu dariku. Aku harap kau mau menerimanya!"
Melihat Fane sudah memaafkan anaknya, Roy menepukkan kedua tangannya. Dua pengawal lalu melangkah maju dan membuka dua koper. Koper-koper itu penuh dengan uang kertas berwarna merah.
Bersambung...
Terima kasih
__ADS_1