
Bab 167
Lana terkekeh dingin lalu berkata, "Aku tidak percaya pada sebuah kebetulan. Kami baru saja keluar dan entah bagaimana, kalian kebetulan muncul di sini? Belum lagi, kalau kau memang cuma lewat, kenapa kau membawa banyak orang?"
"Kami awalnya berencana untuk berkelahi dengan orang lain, makanya aku membawa banyak orang. Namun saat kami lewat di sini, kami memperhatikan payudaramu yang besar dan pantatmu yang menggoda. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak sedikit bermain-main dengan kalian berdua. Tidak apa-apa, 'kan?"
Pria botak itu melanjutkan.
Di dekatnya, Neil dan pengawal pribadinya menghela nafas lega saat mendengar alasan itu. Untunglah pria botak itu cukup pintar untuk mencari alasan alih-alih membocorkan rencana mereka.
"Aaaah!"
Namun pada detik berikutnya, Lana segera menginjak punggung tangan pria itu. Dia berbicara dengan suara yang sangat dalam. "Apa kata-kataku sebelumnya kurang jelas? Aku tidak percaya pada sebuah kebetulan! Hehehe, bagus juga kalian muncul setelah acara lelang itu selesai!"
"A-Aku mengatakan yang sebenarnya!"
Pria botak itu mengertakkan giginya dan terus berbohong.
Ekspresi semua laki-laki yang ada di sana langsung muram saat melihat betapa kejamnya Lana. Meski wanita itu menarik, pria mana pun akan mengalami kesulitan untuk mengendalikannya.
Baik Neil maupun pengawal pribadinya sangat cemas.
__ADS_1
"Ayo pergi kalau-kalau mereka menyerah, Tuan Muda. Menurutku wanita ini bukan tipe yang bisa diajak bicara baik-baik!"
"Belum lagi, Fane juga orang yang berbahaya untuk diajak main-main!" Pengawal itu sudah benar-benar takut saat dia berbisik ke telinga Ken.
"Tidak bijak kalau kita pergi sekarang, 'kan? Yang lain masih ada di sini untuk menonton, jadi kalau hanya kita yang pergi, bukankah itu sama saja memperlihatkan bahwa kita bersalah?"
"Dan di saat seperti itu, sama saja kita mengadukan diri kita sendiri sebelum mereka melakukannya!"
Ekspresi Neil meredup karena tak seorang pun dari keluarga Mont, keluarga George, Roy, atau White meninggalkan tempat kejadian. Bahkan pedagang pedagang kaya pun dengan sabar menunggu pertunjukan yang bagus, jadi bagaimana mereka mau pergi?
"Hehehe, kau jago menyimpan rahasia, ya!"
Karena Lana melihat kalau pria itu tidak mau berkata jujur, dia mengarahkan kakinya ke satu titik spesifik di tubuh pria itu sambil tertawa dan berkata, "Cepat jawab, kalau aku menginjakkan kakiku di titik itu, apa kau benar-benar ingin menjadi seorang kasim?"
Lana sudah mengangkat kakinya saat lelaki botak itu terlihat ragu-ragu. Sepatu hak tingginya tampak terlalu menyilaukan untuk dilihat.
"SAYA..."
Pria botak itu melihat ke arah Neil dan tidak cukup berani untuk berkata jujur karena dia telah berjanji kepada Neil. Namun, dia juga tak ingin menjadi kasim.
Saat Neil mengertakkan gigi, si idiot itu benar-benar menunjuk padanya sebelum berteriak, "Bahkan jika kau membunuhku, aku tidak akan berkata sepatah kata pun!"
__ADS_1
Lana melihat ke arah Neil sebelum akhirnya melepaskan pria itu. Dengan tenang dia berkata, "Kau benar-benar bisa menjaga rahasia rupanya!"
"Ayo kesini, Tuan Muda Neil!"
Lana memberi isyarat pada Neil untuk datang.
"Nona, Nona Cantik. Untuk apa kau memanggilku?"
Ekspresi pahit terlihat di wajah Neil dan suaranya terdengar bergetar.
"Jadi kau mengharapkan aku untuk menjemputmu dan secara pribadi membawamu ke sini? Kau tidak akan hidup untuk melihat hari esok kalau aku harus melakukan itu." Lana berseru dingin.
"Kau tidak takut sekarang, Tuan Muda Neil? Hahaha, jadi sebelumnya kau seorang pengecut, Tuan Muda Neil?"
Fane terkekeh dengan ekspresi menghina di wajahnya.
Neil mengertakkan gigi lalu berjalan mendekat. Dia berkata, "Apa yang perlu ditakuti, lagian itu bukan perbuatanku. Oleh karena itu, kenapa aku harus takut? Ini benar-benar lucu!"
"Benar sekali, kami tidak takut!"
Pengawal pribadinya langsung mengikuti dari belakang. Dia kemudian dengan marah membentak pria botak yang masih terbaring di tanah, "Siapa kau? Mengapa kau seenaknya menunjuk Tuan Muda Neil? Apa kau mencoba menjebak Tuan Muda Neil kami?"
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih