Pejuang Terhebat No. 1

Pejuang Terhebat No. 1
Pejuang Terhebat No. 1


__ADS_3

Bab 119


Fane hanya bertindak setelah mendapat izin dari Selena.


"Ini..."


Beberapa karyawan pria saling menatap dengan ragu-ragu.


"Wow, kau benar-benar ingin bertarung, ya?" Sonia dalam hati berteriak gembira melihat kejadian selanjutnya karena merasa telah berhasil memprovokasi Fane.


"Nona Selena, apa kau yakin suami tersayangmu akan baik -baik saja? Bukan hanya satu atau dua orang lo di sana." Sonia berdoa keras Fane dipukuli sampai mati oleh preman-preman itu. Fane sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat padanya. Fane bahkan membuatnya terlihat buruk di depan semua orang.


"Aku percaya padanya!" Selena tersenyum acuh tak acuh. Ketika Fane menghajar anak buah Neil sampai babak belur kemarin siang, kepercayaan Selena terhadap suaminya menjadi berlipat ganda.


"Apa masalahmu, Bajingan Kecil? Kau mau jadi pahlawan, Ya?"


Dua orang pria menghampiri Fane saat mereka melihat Fane mendekati mereka.


"Wanita itu berkata dia di sini hanya untuk minum dengan pelanggan, bukan untuk tidur dengan mereka. Apa kau tidak mendengarnya dengan jelas?" Cela Fane.

__ADS_1


"Biarkan wanita ini pergi, Kalau tidak, aku akan membuatmu paham apa itu arti penyesalan."


"Wow, ternyata kau banyak omong juga, ya. Apa kau tidak tahu siapa kami?" Bentak salah satu pria dengan arogan. " Kami adalah anak buah Tuan Howard. Kalau kau menantang kami, itu sama artinya dengan menantang Tuan Howard."


"Bocah Kecil, bos kami menyukai wanita itu. Dan juga, bukannya kami tidak membayarnya. Apa masalahmu?" Pria lain menimpali.


"Lagipula, dia sendiri yang berpakaian seperti itu untuk minum bersama kami lalu berpura-pura sok suci dan lugu. Salah siapa, coba!"


Buk! Buk!


Tanpa jeda Fane langsung mengayunkan kakinya dan memberi mereka masing-masing satu tendangan memutar; membuat mereka terbang beberapa senti di atas lantai.


Bruk!


"Karena kau tidak membiarkan wanita itu pergi, kau memaksaku melakukan ini!"


"Aku tidak peduli tuan mana yang kau layani. Di Provinsi Tengah, kalau kau menyinggungku, kau harus berlutut!*


Tatapan Fane membeku sedingin es seolah-olah dia berasal dari dunia bawah tanah. Auranya yang terlalu kuat seakan membuat suhu di lorong itu turun beberapa derajat.

__ADS_1


Matanya menggelap seperti raja hutan; membawa aura penuh wibawa yang tak seorang pun berani untuk menantangnya.


"Apa-apaan ini! Hei, kau menggali kuburanmu sendiri, ya?^


Si pria bertato melonggarkan cengkeramannya pada wanita itu dan mengeluarkan pisau dari saku belakang celananya. Dia meregangkan tubuhnya, kemudian berjalan ke arah Fane dengan ekspresi buas seolah siap untuk membantai Fane. Dia melangkah maju, membidik perut Fane.


"Aaarrgghh!"


Detik berikutnya, Fane dengan kuat meremas lengan pria bertato itu hingga pisau di tangannya terjatuh ke lantai. Rasa sakit yang membara menjalar dari lengan hingga ke kepala pria itu. Di wajahnya tergambar kesakitan yang luar biasa.


"Bos!"


Pria satunya yang memegangi wanita itu segera melepaskan cengkeramannya juga. Dia segera membuka ruang VIP dan berteriak, "Teman-teman, ini buruk sekali! Bos kita telah dipukuli! Semuanya, keluar sekarang! Bocah ini benar-benar cari mati!"


"Apa apaan ini? Berani-beraninya dia mengalahkan bos kita! Dia sudah bosan hidup ya!"


"Sialan! Siapa yang melakukan ini? Bos kita adalah salah satu anak buah Tuan Howard!"


Tiba-tiba, anggota gerombolan yang lain bergegas keluar dari ruang VIP, semua sama marahnya.

__ADS_1


Bersambung......


Terima kasih


__ADS_2