
Bab 139
"Hah!" Ben mendesah. "Kakak mungkin tidak pernah menyangka kalau kita bakalan diusir. Kalau dia tahu pada akhirnya kita akan ditendang dari keluarga Taylor, pasti dia akan mementingkan dirinya sendiri dan menggelapkan uang kantor."
Xena, yang selama ini hanya diam, wajahnya terlihat muram mendengar percakapan ibu dan anak itu. "Kenapa, Sayang? Kok kamu kelihatan sedih 'gitu?"
Ben bertanya saat dia menyadari ada yang tidak beres dengan sikap diam pacarnya.
Xena tersenyum pahit sebelum berbicara dengan cemberut, "Aku ikut memarahi kakak iparmu kemarin. Aku jadi kepikiran. Aku berkata seperti itu kemarin karena aku khawatir Fane membuat masalah dengan keluarga Drake. Aku takut kalau Fane dendam kepadaku."
"Fane? Dia bukan orang seperti itu. Tidak mungkin dia melakukan itu kepadamu sementara dia sendiri masih punya janji dengan keluarga kami."
"Lagi pula, apa yang terjadi kemarin itu juga hanya salah paham saja kok, pasti dia akan mengerti. Kemarin kita hanya khawatir atas masalah yang dia timbulkan di rumah keluarga Drake akan berpengaruh ke keluarga Taylor. Itu bukan salahmu!" kata Ben menenangkan dengan sangat percaya diri.
__ADS_1
"Aku takut Fane akan marah dan dia mengingkari janjinya untuk membelikanmu mobil!" Xena mengatakan apa yang ada dibenaknya.
"Hei, tidak apa-apa!" Fiona dengan cepat menyela, " Jangan khawatir soal itu. Kalau dia tidak mau membelikan mobil, Mama yang akan membelinya dengan uang yang dia berikan kepadaku. Dia berjanji akan membayar uang mahar sebesar dua puluh juta. Aku akan berikan satu juta untuk kalian membeli mobil. Bereskan?"
"Wow, bagus sekali! Terima kasih, Ma!" Xena langsung tersenyum lebar sambil melompat kegirangan.
"Selama anakku bisa bahagia, kenapa tidak."
Fiona melihat wajah cantik Xena lalu berkata dengan bangga, "Xena, sudah cukup lama kalian menjalin hubungan. Saat aku mendapatkan dua puluh juta dalam waktu dua bulan lagi, aku akan membawa Ben ke keluargamu dan melamarmu untuk Ben. Bagaimana? Kita harus memilih hari dan membuat pesta pernikahan segera di tahun ini."
"Masih belum tersambung juga panggilan teleponnya?" Harvey sedang berada di sebuah vila. Dia mengerutkan kening dengan ekspresi gelap di wajahnya.
Dia memerintahkan Scar untuk membawa ratusan orang dan bersama Ned membereskan seorang pensiunan tentara tadi malam. Sampai sekarang mereka belum kembali dan tidak ada kabar sama sekali.
__ADS_1
Harvey sudah menelepon beberapa kali tetapi tak satupun terjawab dan ini membuatnya gelisah.
"Bos Harvey, kami mendapat kabar. Sesuatu telah terjadi, benar-benar terjadi!" seorang pria berlari masuk dan berteriak entah dari mana.
Beberapa orang berdiri di sekitar Harvey. Mereka adalah para jagoan yang nama-namanya dia hafal di luar kepala.
"Apa yang terjadi? Jangan terburu-buru dan bicara pelan pelan!" Harvey segera berdiri dan bertanya.
Orang itu terengah-engah. Dia berlari ke meja, mengambil secangkir teh lalu minum seteguk besar sebelum berkata, " Mati... Mereka semua mati! Tadi malam, lebih dari dua ratus orang tewas di sebuah bangunan kosong. Sekarang, tempat itu telah dikunci dan mayat-mayatnya sedang diangkut untuk dikremasi!"
"Semua ... Semuanya mati?" sudut bibir Harvey bergerak gerak. Telinganya berdenging lalu dia bertanya-tanya dalam hati apakah dia salah dengar. Ini benar-benar kerugian besar bagi klan Dewa Naga.
"Mereka dikirim untuk menyerang satu orang, dan semuanya mati?"
__ADS_1
Bersambung.....
Terima kasih