Pejuang Terhebat No. 1

Pejuang Terhebat No. 1
Pejuang Terhebat No. 1


__ADS_3

Bab 116


Fane menyesap anggurnya lagi dengan perlahan.


"Aku hanya memberimu waktu sepuluh menit. Ini sudah satu menit!" Sonia kembali melihat jam.


Fane tersenyum sambil mengeluarkan ponselnya lalu menekan nomor yang Tanya berikan kepadanya sore tadi. Fane sengaja meletakkan ponselnya dalam mode speaker.


Seorang karyawan melihat nomor yang tertera di layar lalu berseru dengan keras.


"Dia menelepon Nona Tanya!"


Panggilan itu segera terjawab. Dari ujung lain telepon terdengar suara renyah Tanya. "Fane? Ada apa? Kenapa kau meneleponku malam- malam begini?"


"Tidak ada apa-apa, Nona Tanya. Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Apakah benar gajiku dua puluh juta per bulan?"


Fane tersenyum simpul lalu dia menyesap anggurnya sekali lagi.


"Betul. Ada masalah dengan itu? Kau tidak berpikir kalau gajimu terlalu kecil, "kan?"

__ADS_1


Tanya terdengar bingung di ujung telepon. "Jangan khawatir. Kakekku memastikan bahwa kami tidak akan lupa memberimu bonus dua puluh juta setiap tahun baru. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup bila kau sedikit berhemat, kan?" lanjut Tanya.


Semua orang terkejut mendengar usaha Tanya bernegosiasi dengan Fane. Dia tidak hanya terdengar kurang percaya diri, tetapi juga bertanya kepada Fane apakah jumlah yang diberikan terlalu sedikit. Oh Tuhan, bagaimana mungkin dia berbicara dengan nada seperti itu kepada seorang pengawal.


"Oh, itu sudah lebih dari cukup. Aku hanya ingin memastikan. Maaf telah mengganggumu!"


Fane dengan lembut mengetuk layar ponsel untuk menutup panggilan, lalu mengangkat kepalanya melihat Sonia. "Nona Sonia yang aku hormati, itu suara Nona Tanya, benar? Kau juga dengar angka dua puluh juta, benar?"


Sonia terlihat sangat malu. Kepalanya berdengung keras. Seorang pengawal bergaji dua puluh juta sebulan? Ada apa dengan keluarga Drake?


"Iya. Benar dua puluh juta. Aku tidak menyangka gajimu sebesar itu!"


Saat dia melihat gelas di depannya, dia segera menuangkan anggur merah ke dalamnya sampai penuh dan mengangkatnya. "Maafkan aku, Fane. Aku telah meremehkanmu. Untuk itu, aku akan minum satu gelas ini sebagai hukuman!" Katanya pada Fane.


Sonia langsung meminum anggurnya tanpa menunggu jawaban dari Fane.


Felicia bertepuk tangan dari samping, suaranya menggema, "Nona Sonia memang jago minum!"


"Ha ha! Aku tidak yakin kalau soal itu, tapi kalau soal kau akan berlutut di hadapanku dan meminta maaf, itu aku yakin. Kau tidak lupa, 'kan?" Bibir Fane melengkung membentuk sebuah cibiran.

__ADS_1


"Oh, Pria Tampan. Nona Sonia hanya bercanda denganmu, jangan menganggapnya serius. Selain itu, dia sudah menghukum dirinya dengan meminum anggur itu. Buat apa menganggap serius seorang wanita lemah?"


Begitu dia merasa suasana menjadi tidak enak, Felicia langsung berusaha membuat situasi kembali mencair dengan menertawakannya.


Namun Fane tidak peduli dengan tindakan Felicia. " Jangan gunakan gender sebagai tameng. Ketika dia menghinaku beberapa saat yang lalu, dia tidak mengatakan bahwa dia seorang wanita. Ayolah, berbesar hati saja! Kalau kau tidak sanggup menelan kekalahan, lain kali jangan bertaruh dengan siapa pun!"


"Kau..."


Sonia menggertakkan gigi. Dia sangat marah sampai hampir pingsan. Dengan sekian banyak karyawan yang melihat, dia tidak akan punya muka di hadapan orang lain seumur hidupnya kalau sampai dia berlutut di depan Fane. Selain itu, berapa banyak orang yang akan menggunjingkan dirinya di belakangnya nanti?


Rasa canggung menyelimuti benak para karyawan. Mereka semua terdiam dan saling berpandangan. Tidak ada yang maju membela Sonia karena Sonia sering menyalahgunakan wewenangnya untuk menindas mereka di tempat kerja. Sonia selalu merasa bahwa dia adalah bos yang posisinya di atas semua karyawan.


Terkecuali Felicia, karena hanya dia yang selama ini selalu berusaha keras menyenangkan Sonia.


Selena akhirnya menghela napas lega setelah sakit hatinya terbalaskan. "Fane, jangan diperpanjang lagi ya, cukup sampai di sini saja. Aku mengundang semua orang untuk makan malam dan berkaraoke. Mari kita hentikan soal ini sebelum situasi semakin memburuk. Kalau kau sampai membuat seorang gadis berlutut di hadapanmu, itu tidak bagus untuk citramu juga, "kan."


Fane akhirnya menyerah setelah mendengar permohonan istrinya. Dia mengibaskan tangannya. "Baik. Aku, Fane Woods, biasanya tidak akan begitu saja melepaskan suatu masalah, bahkan jika Dewa Perang muncul di hadapanku. Tapi kali ini aku akan melupakan ini semua hanya karena istriku yang meminta."


Bersambung......

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2