
Bab 146
"Bicara denganmu?" Ivan mengerutkan dahi dan mengamati perempuan di depannya.
Perempuan ini berusia sekitar dua puluh tahun, memakai jas dan rok yang terlihat profesional, dan memakai kacamata. Dia terlihat pintar dan cakap.
Ivan melihat dengan seksama dan berpikir bahwa perempuan ini lumayan cantik.
"Ya, aku supervisor di sini dan lumayan punya pengaruh!"
Sonia tersenyum melanjutkan, "Banyak orang di sini. Bagaimana kalau kita ke ruanganku saja dan bicara empat mata!"
"Ya, tentu saja!" Ivan diam-diam kegirangan saat mendengar kata-kata Sonia. Jelas Sonia punya hal penting untuk dibicarakan dengannya jika dia memaksa mereka berdiskusi secara pribadi.
__ADS_1
Mungkinkah perempuan cantik ini naksir dirinya? Akan menyenangkan kalau memang begitu! Dengan cepat mereka memasuki sebuah ruangan dan Sonia pun mengunci pintu.
"Katakan padaku, apa yang kau butuhkan dariku?" Ivan tersenyum dan menghempaskan pantatnya ke sofa.
"Tuan Muda Taylor, kalau perkiraanku benar, kau pasti di sini untuk proyek kami yang berlokasi di Kota Selatan, bukan? Sepertinya banyak orang sudah tahu kalau perusahaanku membeli sebidang tanah di daerah elit itu!"
Sonia tersenyum sambil menyajikan segelas air.
"Sepupuku adalah manajermu. Aku sudah memikirkan sebuah kerjasama di antara perusahaan kita mengingat bahwa Selena adalah manajer pengadaan di sini. Akan sangat bagus bila kami diberi kepercayaan menjadi penyuplai untuk setengah dari proyek ini!"
"Tapi siapa mengira kalau dia perlu waktu untuk memikirkan tentang itu dulu. Aku merasa dia hanya mengulur waktu dan tidak mau memberikan proyek itu kepadaku. Dia bilang dia tidak mau jadi bahan gosip di antara karyawan-karyawan kantornya."
Ivan mengutarakan isi hatinya dengan blak-blakan dan jelas-jelas terlihat marah. Bagaimanapun, dia sudah berjanji pada kakeknya kalau dia akan berhasil mendapatkan kontrak ini. Bagaimana dia harus memberi penjelasan kalau ternyata dia gagal mengantongi kontrak dengan perusahaan ini. Bahkan jika misalnya Selena mengubah pikirannya suatu saat nanti, tetap saja akan memalukan buatnya bila pulang dengan tangan hampa.
__ADS_1
"Dia tidak setuju? Bagaimana mungkin?" Sonia terkejut. Kalau kontrak ini tidak ditandatangani, bagaimana dia bisa punya peluang untuk menurunkan Selena dari posisinya?
Dia memikirkan hal itu dan berkata, "Seharusnya dia tidak melakukan itu. Kita bisa saja bekerja sama, sama seperti yang perusahaanku lakukan dengan perusahaan perusahaan lain. Lagipula, kau memberi garansi kalau bahan bangunan dari Grup Taylor berkualitas tinggi! Bisa bisanya dia berbuat begitu. Apakah dia masih menganggapmu sebagai keluarganya? Kalau aku pasti sudah setuju tanpa berpikir panjang!"
"Selena mungkin masih menyimpan dendam kepada kami saat kami megusir dia keluar dari keluarga Taylor. Duh, kenapa sih perempuan suka bikin perhitungan!" Ivan menghela napas. "Aku yakin dia balas dendam padaku!"
"Bagaimana mungkin? Aku dengar kejadian itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu dan itu juga salahnya dia, bukan? Jadi wajar kalau dia diusir dari keluarga Taylor. Bisa-bisanya dia menyalahkanmu dan keluargamu?"
Sonia terlihat bersimpati. Dia diam sejenak dan berkata, " Bagaimanapun, karena dia sudah bilang kalau dia akan mempertimbangkan proposalmu, masih ada harapan untuk perusahaanmu. Paling tidak dia tidak langsung menolakmu mentah-mentah!"
Bersambung.....
Terima kasih
__ADS_1