
"Insya Allah ya mas saya usahakan" jawab Habibah singkat. Setelah itu diapun berlalu meninggalkan Alvian yang hanya termangu menatap kepergian gadis itu dengan perasaan yang tak menentu.
Disisi lain ada mata yang memperhatikan mereka dari jauh, yah Purnomo hanya memperhatikan sahabat dan gadis yang dia cintai itu berbicara di kejauhan. Ada rasa cemburu melihat keduanya, tapi melihat sikap gadis itu pada Alvian ada sedikit rasa tenang karena sikap gadis itu masih tetap sama pada Alvian, masih dingin. Dia merasa masih ada harapan untuk dia mendapatkan hati gadis itu.
* * *
Hari-hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Pengumuman kelulusan telah terpampang di papan pengumuman. Semua siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah berkerumun mencari nama mereka dengan berdebar-debar. Tak terkecuali Habibah dan kedua temannya Riya dan Faizah. Mereka ikut berdesak-desakan dengan yang lain demi mengetahui mereka lulus atau kah tidak. Tiba-tiba Riya berteriak dan melompat kegirangan sambil memeluk Faizah sahabatnya.
" Izah, kita lulus..!!!" serunya sambil memeluk Faizah.
" Alhamdulillah...!!"sambut Faizah tak kalah senangnya. Habibah pun sudah melihat hasilnya, diapun lulus dengan nilai yang cukup memuaskan karena ternyata dia mendapatkan peringkat tiga besar di kelasnya dan peringkat lima besar di sekolahnya.
" Alhamdulillah..!!"ucap gadis itu dengan sedikit terharu. Dia tak pernah menyangka bahwa nilai yang dia capai melebihi dari perkiraannya.
__ADS_1
Setelah mengetahui hasil kelulusan, semua siswa-siswi diperbolehkan untuk pulang. Dan acara perpisahan di adakan ke esokan harinya. Sebagian ada yang langsung pulang dan ada juga yang pergi merayakan kelulusan mereka dengan makan-makan di rumah makan pinggir jalan. Dan Habibah memilih langsung pulang dengan naik angkot.
Sesampainya di rumah diapun memberi tahukan hasil kelulusan nya pada orang tuanya. Tapi reaksi orang tuanya membuat hati gadis itu sakit dan bersedih. Sebab orang tuanya menanggapi keberhasilan nya yang diluar perkiraan dengan mendapatkan nilai yang cukup memuaskan baginya justru di tanggapi hanya dengan jawaban "Alhamdulillah kalau lulus."
Gadis itupun masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang mungil itu di kasur, dia membayangkan apa tanggapan orang tua teman-temannya jika mendapati nilai anaknya melebihi dari target. Ingin rasanya dia pergi dan bertanya pada teman-teman nya tentang tanggapan dan reaksi orang tua mereka saat mendengar bahwa mereka lulus dengan hasil yang memuaskan?
Tak terasa air matanya mengalir, dia hanya bisa menangis dalam diam. Perlahan-lahan dia meraih pena dan buku diary yang tersimpan di dalam tas nya. Dia hanya bisa menumpahkan segala isi hatinya di sana. Hanya buku diary itulah yang menjadi teman setianya. Kemanapun dia pergi buku dan penanya yang setia menemani. Hanya dengan menuliskan segala isi hatinya saja itu sudah membuat dadanya terasa lega.
* * *
" Yah, lumayan memuaskan. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Purnomo pada Alvian.
" Agak mengecewakan sih, gak sesuai dengan harapan." sahut Alvian dengan wajah yang lesu.
__ADS_1
" Kenapa lesu begitu sih, gak biasanya kamu seperti ini.?" tanya Purnomo karena melihat keadaan sahabatnya yang tak seperti biasanya.
" Gak Taulah Pur, aku juga gak ngerti aku ini kenapa. Sejak aku ketemu dan kenal dengan cewek itu aku jadi gak bisa fokus. Aku selalu kepikiran dia terus. Apalagi suratku yang aku titipkan sama kamu itu sampai sekarang belum dia balas juga. Kira-kira dia bakal balas suratku gak ya? Aku ingin sebelum aku pergi dia sudah balas suratku itu Pur, tapi aku kok malah jadi takut ya." kata Alvian sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi dan memejamkan matanya.
Purnomo hanya diam tak bisa menjawab apapun yang di pertanyaan oleh sahabatnya itu. Karena diapun tak bisa memaksa agar gadis itu mau membalas surat Alvian. Akhirnya mereka pulang dengan wajah yang lesu dan hati yang kacau.
* * *
Ke esokan harinya acara perpisahan pun berjalan dengan lancar dan cukup meriah di sekolah Habibah. Sebelum acara inti, ada persembahan dari siswa-siswi berupa tarian dan nyanyian, puisi dan qiro'ah . Ada juga grup rebana yang semua di tampilkan oleh siswa-siswi dari madrasah Tsanawiyah itu. Semua orang tua wali murid dan para tamu undangan hadir nampak bergembira. Tapi ada yang bersedih sendirian. Ya, itu adalah hati Habibah sebab tak ada yang hadir di hari yang selalu di nanti-nantikan. Orang tuanya sibuk dan kakak-kakaknya semua sibuk masing-masing. Tapi apa boleh buat, memang seperti itu lah keluarganya. Habibah perlahan berlalu dari tempat acara berlangsung, namun baru beberapa langkah meninggalkan ruangan itu dia mendengar namanya di panggil agar naik ke atas panggung. Teman-temannya yang melihat keberadaan nya segera menarik tangan gadis itu agar masuk kedalam ruangan dan naik ke atas panggung. Setelah masuk kembali ternyata sudah ada beberapa orang siswa-siswi yang berada di atas panggung. Dengan gugup akhirnya gadis itupun naik ke atas panggung, karena baru kali ini dia naik ke atas panggung itu sebabnya dia gugup sekali.
" Inilah beberapa siswa-siswi yang berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah dan dari Perusahaan yang selama ini menjadi donatur di sekolah kita ini.Mari kita beri tepuk tangan yang meriah pada siswa-siswi yang berprestasi ini" kata MC dengan penuh semangat. Tak lama ada beberapa orang perwakilan dari Perusahaan yang menjadi donatur dan kepala sekolah serta pengawas sekolah naik ke panggung demi menyerahkan piagam dan menyerahkan beasiswa secara simbolis. Dan ada kejadian yang membuat canggung dipanggang itu, Habibah tak menerima uluran tangan para perwakilan dari perusahaan ataupun dari sekolah dan pengawas sekolah untuk berjabat tangan. Dia justru mengatakan " maaf kita bukan muhrim" karena semuanya memang laki-laki. Dan untungnya semua mengerti, karena melihat dari penampilannya saja sudah berbeda dari yang lain, hijab yang digunakannya adalah hijab besar. Untuk itu semuanya memakluminya, walau ada rasa canggung itu pasti tak bisa dihindari.
***
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya, biar tambah cumungut author nya, terimakasih 🥰🥰🥰