
Sesampainya mereka di lobi hotel, semua berkumpul untuk di absen sebelum akhirnya cek in kamar. Ada 10 orang siswa, 5 orang pembimbing dan 8 orang tua wali murid yang mendampingi anak-anak nya. Setelah selesai absen, semua memasuki kamarnya masing-masing. Sesampainya didalam kamar, mereka segera membersihkan diri dengan air hangat.
Setelah beristirahat sebentar, mereka kembali turun ke lantai dasar untuk makan malam bersama para panitia dan peserta lomba cerdas cermat yang lain. Sambil menunggu antrian, ada yang saling menyapa dan berbasa basi dengan anggota yang lain atau sekedar berkenalan dengan peserta dari daerah lainnya.
Makanan yang di sediakan adalah makanan yang mewah bagi mereka. Karena kebanyakan dari mereka belum pernah memakan makanan yang di sediakan oleh hotel, bahkan sebagian besar dari mereka baru pertama kali tidur ke hotel berkelas seperti itu. Jangankan tidur di hotelnya, hanya sekedar masuk saja mereka belum pernah. Untungnya mereka menyimpan rasa takjubnya dalam hati saja, tak sampai membuat malu dengan bersikap norak.
Pukul 9 malam semua sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Nur Laily tidur dengan dua orang temannya yang lain beserta dua orang ibu yang salah satunya adalah Habibah. Sebelum tidur, mereka belajar bersama untuk menambah persiapan di esok pagi. Sementara Habibah hanya mendampingi kegiatan belajar mereka, walau sesekali bertindak sebagai penguji. Sedangkan ibu yang satu nya sudah terbuai dalam alam mimpi nya sejak mereka mengeluarkan Doble bed yang terletak dibawah kasur utama. Karena memang size kasurnya besar, jadi mereka leluasa untuk tidur disana.
Pagi harinya, mereka sudah berangkat ke kantor Gubernur yang sebelumnya mereka telah sarapan dan absen pagi. Acara di mulai pada pukul 8 pagi. Setelah itu acara pembukaan dimulai yang di awali oleh MC yang menyapa dengan menyampaikan susunan acara hari itu dan di lanjutkan dengan sambutan-sambutan dari para tokoh-tokoh penting.
Lomba cerdas cermat di mulai pada pukul 9 pagi, hari pertama adalah babak penyisihan yang untuk memperebutkan posisi 25 besar dari 50 sekolah yang ikut bertanding. Acara hari itu berjalan seru dan melelahkan. Habibah tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk putri kecilnya.
Waktu terus bergulir sampai pada akhirnya sang MC menyatakan break selama satu jam untuk istirahat dan makan siang. Nur Laily segera menghampiri Habibah yang masih berdiri di tempatnya tadi duduk.
" Uma...." teriakan Nur Laily sayup terdengar diantara riuhnya suara ratusan orang yang berkumpul saat itu. Habibah hanya bisa melambaikan tangannya tinggi-tinggi untuk memberitahukan pada anaknya jika dirinya sudah melihatnya. Setelah dekat, Habibah segera meraih tangan gadis kecilnya itu dan menggenggamnya dengan erat agar tak terpisah. Mereka segera berjalan dan untuk berkumpul di tempat yang telah di tentukan oleh ketua rombongan yaitu ketua pembimbing yang di percaya oleh Pengawas sekolah untuk mendampingi perwakilan sekolah dari wilayah kecamatan.
Setelah absensi usai dlakukan, mereka bergegas masuk barisan untuk mengantri mengambil jatah makan siang mereka yang memang disajikan dengan ala prasmanan bukan dalam bentuk kotak.
Ruang makan yang begitu luas dengan hidangan yang telah tertata rapi, membuat bingung yang akan menyantapnya. Karena semua hidangannya terlihat sangat sedap untuk di nikmati. Mereka mengatur sesuai nomor urutan grup. Jadi semuanya teratur dan tak terpisah-pisah dari rombongan.
Habibah meminta pada anaknya agar mempercepat waktu makan siangnya, karena mereka harus segera menunaikan shalat Dzuhur. Sedangkan waktu yang di sediakan jaya satu jam sejak bubar istirahat tadi. Kini waktu yang mereka miliki tak sampai setengah jam lagi, karena tadi waktu mereka banyak tersita untuk absensi dan mengantri makanan.
Nur Laily adalah satu-satunya siswi yang paling berbeda dalam berpakaian. Ada beberapa siswi yang memakai jilbab, tapi hanya Nur Laily yang mengenakan jilbab yang menutupi hingga pinggangnya. Rok seragam yang di kenakannya pun berbeda dari yang lain. Rok nya bukan bermodel span panjang, melainkan rok yang memiliki tempelan di sekelilingnya sehingga hampir menyerupai rok model payung hanya saja ini versi kecilnya.
Dia terinspirasi dari Habibah yang selalu mengenakan pakaian yang longgar dan tak membentuk tubuh. Nur Laily sangat menyukai cara berpakaian Habibah. Walaupun longgar tapi tetap cantik dan anggun dipandang. Dulu Nur Laily tak memakai jilbab, tapi saat Habibah menikah dengan almarhum ayahnya diapun ingin memakainya. Karena menurutnya dia lebih cantik memakai jilbab dari pada dengan rambutnya yang di kuncir.
Sejak Habibah menjadi ibu sambungnya, Nur Laily pun kini tak pernah absen dalam melaksanakan shalat lima waktunya. Dia melakukan semua itu tanpa diminta apalagi dipaksa. Habibah adalah sosok wanita yang selalu bisa membuat gadis kecil itu terinspirasi untuk bisa melakukan banyak hal seperti Habibah.
__ADS_1
Dulu Nur Laily sangat manja pada Habibah, tapi sejak ayahnya meninggal dan Habibah menjadi sakit yang cukup lama. Gadis kecil itu selalu berusaha untuk mandiri agar saat Habibah sehat dia tak lagi membuat repot Habibah. Tadinya dia berfikir jika sikap Habibah akan berubah padanya saat ayahnya sudah tiada. Tapi nyatanya ibu sambungnya itu tetap menyayanginya bahkan lebih menyayanginya lagi setelah kecelakaan yang membuat Habibah kehilangan bayinya itu terjadi.
Setelah shalat, tiba-tiba Habibah memintanya untuk menunggunya sebentar, karena Habibah akan ke toilet. Nur Laily di minta untuk tetap menunggunya di depan pintu mushola yang ada di dalam area kantor Gubernur itu agar nanti Habibah tak sulit untuk mencarinya.
Sepeninggal Habibah, Nur Laily nampak bosan hanya berdiri saja di sana seorang diri. Akhirnya diapun mulai bergerak mondar-mandir di depan mushola itu untuk menghilangkan ke bosanan nya selama menunggu Habibah. Tapi saat mondar-mandir itu, dia tak sengaja menabrak seorang laki-laki dewasa yang baru saja keluar dari mushola itu dengan beberapa orang pria lainnya.
" Ah..! Maaf Om..! Gak sengaja..." ucap Nur Laily tunduk karena merasa bersalah.
Orang yang di tabraknya hanya diam memperhatikannya yang hanya sendirian disana.
" Sedang apa kamu disini? Di mana rombonganmu? Apa kamu kehilangan mereka?" Tanyanya sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari yang kemungkinan adalah rombongan dari gadis kecil yang kini sedang tertunduk di hadapannya.
" Aku lagi tunggu Uma, beliau lagi ke toilet Om." jawabnya tanpa mengangkat wajahnya.
Laki-laki itupun akhirnya sedikit membungkukkan badannya agar bisa melihat wajahnya saat berbicara dengannya.
" Siapa namamu? Dan dari mana asalmu?" tanya laki-laki itu lagi. Tapi seketika laki-laki itu tertegun saat bola matanya tanpa sengaja melihat sebuah benda yang sudah lama tak dilihatnya ada pada gadis kecil itu Sekarang.
" Nur Laily? Wanasari?" ulang laki-laki itu lagi.
" Iya, Om.." Nur Laily membenarkan.
" Mari pak, sudah waktunya kita kembali." ucap salah seorang laki-laki yang lainnya mengingatkan.
" Baiklah.. Kamu hati-hati disini, jangan berkeliaran kemana-mana. Nanti kalau ada waktu Om cari kamu lagi." ujarnya seraya mengusap lembut pucuk kepalanya yang tertutup hijab itu dengan lembut.
Gadis kecil itu hanya mengangguk pelan walau sebenarnya dia tak mengerti apa maksud dari perkataan laki-laki itu. Setelah beberapa lelaki itu pergi, barulah Nur Laily mengangkat wajahnya. Dan kebetulan saat itu Habibah juga sudah kembali dan sedang berjalan mendekatinya.
__ADS_1
" Maaf ya sayang, Uma lama. Soalnya ngantri, ternyata bukan hanya waktu mau makan saja kita harus ngantri. Bahkan ke toilet pun harus mengantri. Hehehe..." ucap Habibah sambil tertawa.
"Gak apa-apa kok Uma. Tapi sekarang kita harus cepat kembali, karena kita akan tampil di kelompok ke dua setelah makan siang ini." Nur Laily berjalan beriringan dengan sambil menggandeng manja tangan Habibah.
" Apakah kamu lelah, sayang...?" tanya Habibah.
" Gak juga kok, Uma.. Jangan khawatir, aku baik-baik aja." jawab nya sambil tersenyum manis pada Habibah. Dia tak ingin ibunya itu khawatir padanya, walaupun sebenarnya dia merasa lelah.
" Nanti yang semangat ya sayang... Kamu harus tenang dan fokus pada semua pertanyaan yang di tanyakan. Uma akan doakan kamu agar kamu bisa masuk ke babak selanjutnya."
" Insya Allah, Uma.. Terima kasih .... Aku sayang sama Uma.." ucapnya sambil memeluk sebelah lengan Habibah dengan erat.
Sementara di tempat yang tak jauh dari mereka,. ada seorang pria yang tak bisa fokus lagi pada pekerjaannya. Fikirannya terus teringat pada sosok gadis kecil yang baru saja dia temui belum lama tadi.
Siapa anak itu?
Bagaimana benda itu ada padanya?
Aku yakin betul itu benda yang sama persis seperti yang pernah aku berikan padanya.
Apakah hanya kebetulan saja sama?
Atau kah memang ada hubungannya dengan dia?
Ah....
Aku harus cari tau dia itu siapa dan apa hubungannya dengan dia?
__ADS_1
Siapa sebenarnya anak itu?
Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya, membuat dia benar-benar tak bisa menghentikan rasa penasarannya itu.