
Beberapa bulan kemudian saat Zain akan genap berusia satu tahun, Habibah membawa Zain mengunjungi orang tuanya di kampung. Zain terlihat sangat gembira saat mereka sampai di kediaman nenek dan kakeknya. Meski itu adalah pertama kalinya Zain datang ke rumah itu, tapi dia sangat senang berada di sana. Selain karena ternyata Zain memiliki beberapa orang sepupu yang hampir seusianya, kediaman nenek dan kakeknya itu memiliki halaman yang luas dan dipenuhi dengan rumput Jepang atau ada juga yang menyebutnya rumput peking . Sehingga membuat anak-anak merasa bebas untuk bermain, mereka bebas berlari kesana kemari tanpa takut akan adanya bahaya.
Keluarga Habibah sangat terkejut dengan kedatangan Habibah yang hanya berdua dan mereka pun selama satu tahun itu tak ada komunikasi sama sekali. Habibah sengaja mengganti nomor handphone miliknya agar keluarganya tak dapat menghubunginya, bukan niat untuk memutuskan tali silaturahmi. Namun dia takut keluarganya akan tau jika dirinya telah bercerai dengan Qodir. Tapi kini dia sudah siap memberitahukannya, dan dia sangat yakin jika keluarganya akan mengerti dan dapat menerima semua itu dengan hati lapang.
" Bagaimana bisa kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari kami? Kamu bahkan menghadapi semua itu sendirian? Kamu bahkan menutup semua komunikasi dengan kami selama satu tahun ini. Kami sudah tanya berkali-kali bertanya pada mertuamu, tapi mereka bilang kamu baik-baik saja. Dari mereka juga kami tau kalau kamu sudah melahirkan anak laki-laki. Mereka tak memberitahu kami akan masalah ini. Mereka benar-benar keterlaluan..! Mereka bisa-bisanya menyembunyikan masalah sebesar ini dari kami.. Mereka benar-benar tak menganggap keluarga kita sama sekali.." ayah Habibah benar-benar marah saat Habibah memberitahukan bahwa dia telah bercerai setelah masa nifasnya berakhir. Namun Habibah tak mengatakan penyebab dari perceraian itu. Dia takut jika dia menceritakan alasannya, mereka akan mempunyai rasa benci pada Qodir. Karena dia tak ingin jika Qodir sampai dibenci oleh keluarganya. Sebab baginya, seburuk apapun Qodir padanya dia tetaplah ayah dari Zain putra kesayangannya.
"Ayah.. Maafkan saya, mereka tak memberitahu karena saya yang minta agar semua ini dirahasiakan dulu, sebab saya tak ingin keluarga disini jadi khawatir tentang saya.. Sekarang yang terpenting saya dan Zain baik-baik saja. Kami dipertemukan dan dipisahkan oleh Allah dan dengan caranya Allah jugalah kami bisa bersama dan berpisah. Dan saya merasa lebih baik sekarang, jadi jangan difikirkan lagi. Toh saya kan gak sendirian yah.. Ada kalian disini.." Habibah menunjukan ketegarannya dihadapan keluarganya agar mereka tak merasa khawatir dengan keadaannya. Dan Habibah tak mengatakan apapun alasan mengapa dia dan Qodir bisa bercerai dan diapun tak menceritakan jika setelah bercerai Qodir sama sekali tak pernah memberi nafkah untuk anaknya atau bahkan sekedar bertanya tentang kabarnya. Habibah benar-benar menutupi semuanya.
Zain yang sudah bisa berjalan Sangat senang bermain dihalaman, selain memang luas dan bersih juga teduh karna ada beberapa pohon mangga yang besar dan berdaun rindang. Saat sedang duduk-duduk mengawasi Zain bermain dihalaman, tiba-tiba melintas didepan rumahnya seorang wanita paruh baya dan berhenti memperhatikan Habibah. Setelah cukup lama memperhatikan, akhirnya wanita paruh baya itupun memanggil nama Habibah. Habibah yang tak memperhatikan keberadaan wanita paruh baya itu akhirnya menoleh lalu berdiri dan menghampirinya.
" Mama.." belum sempat mengucapkan kalimat lain wanita paruh baya itu sudah memeluk Habibah dengan erat, Habibah terkejut dengan sikapnya itu. Yah, wanita paruh baya itu adalah ibu Sofia ibunya Purnomo.
" Mama.. ada apa?" tanya Habibah sambil membalas pelukannya.
__ADS_1
" Gak apa-apa.. cuma kangen aja sama kamu. Kamu lama sekali gak pulang kesini, kayak mimpi mama lihat kamu ada disini. Kamu kapan datangnya?" tanyanya sambil melepaskan pelukannya.
" Kemarin ma.. mama apa kabarnya? Bagaimana dengan bapak? Sehat aja kan?" tanya Habibah sambil menggenggam tangan ibunya Purnomo.
" Mama dan bapak baik-baik saja. Kamu main kerumah ya nak, bapak pasti senang kalau kamu datang."
" Insyaallah ya ma.. mama sekarang mau kemana?"
" Iya ma, itu aak saya namanya Zain.."
" Anakmu ganteng banget.. Boleh mama gendong dia gak?" tanyanya lagi.
" Boleh ma.. Zain pintar kok, gak mudah takut sama orang asing. Tapi sekarang badannya sudah lumayan berat lho ma.." sahut Habibah sambil menghampiri Zain dan menggendongnya. Zain memperhatikan ibunya Purnomo, tak lama kemudian kedua tangannya direntangkannya sebagai tanda jika dia minta digendong.
__ADS_1
" Wah... Pintar banget ya kamu.. mau ikut dengan eyang putri ya? Ayo, eyang gendong.." wajahnya terlihat sangat gembira menyambut pelukan dari Zain. Seandainya saja ini adalah anaknya dengan Purnomo, aku pasti sangat gembira. Sayangnya ini anaknya dengan orang lain...
Habibah hanya bisa memperhatikan tingkah Zain yang memeluk leher eyang putrinya dan mencium pipinya dengan senyum yang mengembang di bibirnya, sungguh sangat manis dipandang. Ibunya Purnomo nampak gemas dengan sikap manis Zain yang ditunjukkan padanya. Sikap manis yang belum dia dapatkan dari cucu kandungnya sendiri, dan itu membuat hatinya sedikit iri dan kecewa. Setelah cukup lama menggendong Zain, Zain pun ia turunkan dan pamit untuk meneruskan perjalanannya menuju ke pasar.
" Sudah sore, mama kepasar dulu ya.. jangan lupa main kerumah. Mama tunggu.. Dadah sayang.." dilambaikan tangannya pada Zain, dengan berat hati dia tinggalkan Zain yang menggemaskan itu.
Habibah tak bisa memahami apa yang difikirkan oleh ibunya Purnomo itu, yang tetap menyayanginya meski dia hanya sebagai orang yang pernah dekat dekan anaknya. Dia bukan anaknya ataupun menantunya, tapi tetap begitu perhatian padanya. Tapi dia bersyukur karena dia tak merasa jadi orang asing bagi orang tua Purnomo.
Keesokan harinya setelah ba'da ashar, Habibah membawa Zain untuk berkunjung ke rumah orang tua Purnomo. Jarak rumah yang tak jauh, bisa dilakukan hanya dengan berjalan kaki. Bahkan Zain pun bisa menempuhnya hanya dengan jalan santai. Zain tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Habibah yang dengan sabar menuntunnya berjalan agar Zain tak terjatuh. Sesampainya didepan rumah orang tua Purnomo, Habibah sempat memperhatikan rumah itu untuk beberapa saat. Dulu rumah itu adalah rumah yang paling ingin selalu dia datangi, tapi kini rumah itu adalah tempat yang paling ingin dia hindari. Rumah itu sudah banyak perubahan daripada yang dulu, rumah itu sudah direnovasi oleh Purnomo. Dulu saat terakhir kali *kerum***ah ini* aku sudah berjanji tak akan pernah datang ke rumah ini lagi. Tapi hari ini aku sendiri yang melanggar janji itu demi menyenangkan hati orang tuanya. Mas Pur, semoga kamu baik-baik saja disana. Aku tak meminta lebih, aku hanya ingin kamu bahagia dimanapun kamu berada*...
***
rumah calon mertua gak jadi🤔🤔🙏jangan bosen kasih jembol dan komennya ya juga votenya untuk saya, terimakasih 🥰🥰
__ADS_1