Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Bertemu lagi


__ADS_3

" Sudah lama ya Nur kita gak bertemu, tiga tahun lebih.. Bagaimana kabarmu?" seorang lelaki menghampiri Habibah yang sedang menulis pembukuan di teras rumahnya.


" Ba..baik..mas..!" Habibah tergagap menjawab sapaan lelaki itu.


" Kamu kenapa segugup itu sih Nur, aku datang kesini bukan mau ganggu kamu kok. Aku datang kesini cuma mau tanya, kamu bisa gak buatkan kue ulang tahun untuk anakku. Besok lusa dia ulang tahun yang ketujuh tahun, jadi sekali-kali mau dirayakan disini. Aku juga kebetulan lagi ambil cuti tahunan ku yang sudah tiga tahun gak aku ambil, jadi aku punya banyak waktu untuk merayakan ulang tahun anakku. Sekalian aku juga mau pesan catering nya dari kamu, aku dengar masakanmu enak jadi aku ingin coba memesannya darimu. Kalau kamu bisa juga aku mau kamu buatkan empat jenis kue terserah kamu mau tradisional atau modern yang penting cocok untuk acara ulang tahun." ucap lelaki itu panjang lebar. Habibah masih tertegun, dia masih berusaha untuk tersadar dari rasa terkejutnya dengan kedatangan pria itu dihadapannya.


" Halooo.... malah bengong.. kamu dengar gak yang aku omongin Nur?" tanyanya lagi sebab melihat tak ada respon dari Habibah.


" Oh ya.. kenapa mas..?!" tanya Habibah menundukkan wajahnya karena malu. Bangunlah... apa yang sedang kamu fikirkan.. bisa-bisanya kamu bengong disaat dia berbicara panjang lebar padamu, tapi tak ada satupun yang dengarkan..


" Tapi boleh gak aku duduk dulu Nur? Aku dari tadi berdiri disini loh, teganya ya kamu.." canda pria itu lagi.


" Eh..oh ya.. duduk dulu mas.." jawab Habibah mempersilahkan dengan gugupnya. Aih.. kenapa bisa aku jadi segugup ini sih..? Ayolah.. tenang.. tenang..


Habibahpun masuk kedalam rumahnya demi mengambil segelas air teh hangat dan sepiring kue yang ia buat pagi ini untuknya lalu menyuguhkannya pada tamunya.


" Silahkan mas.. maaf.. gak ada apa-apa cuma ada ini aja.." ucap Habibah pelan.

__ADS_1


" Terima kasih Nur.. gak usah repot-repot, aku kesini bukan minta disuguhi tapi mau kasih kamu kerjaan." jawab tamunya itu.


" Emm.. kerjaan apa ya mas..?" tanya Habibah dengan polosnya.


" Astaghfirullah Nur... berarti kamu benar-benar gak mendengarkan apa yang aku omongin tadi segitu panjang lebarnya aku bicara nur..?! Terus aku dari tadi itu bicara sama siapa Nur..? Ya ampuuunn..!" lelaki itu hampir saja berseru nyaring karena tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Wanita yang duduk didepannya tak mendengar sedikitpun apa yang dia katakan tadi tentang ulang tahun anaknya.


" Iya.. maaf mas.. tadi saya gak dengar sama sekali.. bisa diulangi gak..?" Habibah menundukan wajahnya karena menahan rasa malu.


" Okelah.. karena aku orang baik, aku ulangi deh gak apa-apa.." jawabnya dengan senyum yang mengembang, sebenarnya dia sangat gemas dengan wanita dihadapannya ini tapi dia tak bisa melakukan apapun padanya.


Akhirnya semua pembicaraan diulangi lagi dari awal dan mereka pun mendiskusikan tentang harga dan lainnya. Satu jam kemudian, semua selesai didiskusikan dan pria itupun pamit undur diri karena memang waktu sudah tak lagi pagi. Tak lama lagi masuk waktu shalat Dzuhur. Habibahpun segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah shalat, Habibahpun makan siang bersama Zain dan ibunya.


" Ada apa sih.. gak biasanya kau mau bicara aja ragu-ragu begitu..?" tanya ibunya.


" Ehm.. itu.. tadi ada mas Pur kesini mau pesan kue ulang tahun sekalian pesan kue-kue untuk tamu dan catering nya sekalian. Acaranya besok lusa, mama bisa bantu Bibah gak ma?" tanya Habibah pada ibunya.


" Seberapa banyak pesanannya..?" tanya ibunya lagi.

__ADS_1


" Untuk sekitar enam puluh atau tujuh puluh orang anak, tapi pasti anak-anak itu datang dengan orang tuanya kan jadi di kali dua. Dan dilebihkan sekitar dua puluh. Dan kuenya dia minta empat macam jenis kue untuk hidangan." Habibah menjelaskan.


" Oh.. bisa aja, nanti kan ada Dona. Kalau masih kurang tenaga nanti biar mama telpon Laily untuk datang membantu." ucap ibunya.


Mereka melanjutkan diskusi setelah makan siang dan Zain telah tidur siang. Habibah mencatat apa-apa saja yang dibutuhkan dan dia membuat daftar belanja karena sore hari dia akan belanja untuk bahan-bahan yang diperlukan besok.


Malam harinya Habibah sulit memejamkan matanya, dia sangat gelisah hingga gaya membolak-balikan tubuhnya diatas pembaringan. Dia terus terfikir dengan kepulangan Purnomo dan pertemuannya kali ini. Dan dia tak mengerti apa yang kini telah terjadi pada dirinya, walaupun telah lama tak bertemu dengan Purnomo namun detak jantungnya tetap berdetak sangat cepat jika bertemu dengan pria itu. Habibah sangat takut menghadapi perasaannya sendiri. Dia menyadari terlalu banyak kesalahan yang telah dia lakukan pada pria "malang" itu. Yah.. baginya Purnomo adalah pria yang malang. Dia teringat kembali surat-surat yang pernah dia baca saat itu, surat-surat yang tak pernah disampaikan padanya. Surat-surat yang hanya jadi saksi bisu tentang perasaan dan pengorbanan Purnomo untuk menyenangkan hatinya. Dan kini pria itu telah kembali walau hanya sementara, tapi itu cukup membuat hatinya gelisah. Apakah aku harus meminta maaf padanya? Tapi jika dia tanya maaf untuk apa, lalu aku harus bilang apa? Tak mungkin kalau aku harus mengatakan kalau aku telah membaca beberapa suratnya itu kan...? Lalu aku harus bagaimana agar hatiku bisa tenang?


Habibah berfikir keras mengenai apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi Purnomo. Tak terasa akhirnya diapun terlelap didalam kegelisahan hatinya disaat jam telah menunjukan pukul dua dini hari.


Disisi lain, Purnomo pun sedang memikirkan Habibah. Dia benar-benar tak menyangka jika dia bisa bertemu dengan wanita itu saat dia mengambil cuti tahunan ini. Sebelumnya dia tak pernah mengambil cuti tahunannya sama sekali, dia mengambil cuti tahunannya ini sebab Nur Laily, putri semata wayangnya itu merengek minta dibuatkan acara ulang tahun dikampung bersama nenek dan kakeknya. Demi memenuhi permintaan putrinya itulah yang membawanya kini berada disini dikampung halamannya. Tapi siapa sangka jika permintaan putrinya itulah yang mempertemukan kembali antara dirinya dengan Habibah.


Purnomo menyentuh dadanya, dia merasakan debaran didadanya itu tetaplah sama seperti dulu saat dia masih perjaka. Dan ternyata dia tak bisa menghilangkan perasaan itu dari hatinya walupun sudah bertahun-tahun lamanya mereka berpisah. Jangankan untuk menghilangkannya, untuk mengurangi kadar "rasanya" itupun tak berhasil dia lakukan. Purnomo menepuk-nepuk pelan dadanya yang terus berdebar kencang setiap kali dia teringat akan Habibah.


Astaghfirullah hal'adziim.. Apa yang sudah aku lakukan? Dia itu istri dari orang lain, aku tak boleh seperti ini. Ya Allah... Bagaimana bisa aku seperti ini? Apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini? Kenapa harus seperti ini sih..!? Kenapa kami harus bertemu lagi jika keadaannya tetap seperti ini? Dia milik orang lain dan memiliki kehidupannya sendiri, lalu aku sekarang sedang apa? Apapun alasannya, semua ini tak benar..


Dikampungnya belum ada yang mengetahui jika Habibah telah menjadi seorang single parents. Hanya keluarga Habibah saja yang mengetahuinya, itu sebabnya semua mengira jika Habibah masih berstatus istri dari seseorang. Begitupula dengan Purnomo, karena ketidaktahuannya itu telah membuat hatinya gundah gulana. Dia berfikir jika perasaannya itu salah, salah karena masih mencintai seorang wanita yang telah menjadi milik seseorang. Dan tentu itu membuat dirinya sangat tersiksa, tersiksa karena perasaannya sendiri yang telah dianggap jadi sebuah dosa.

__ADS_1


***


betapa tersiksanya menahan perasaan yang begitu dalamnya😭😭


__ADS_2