
Setelah beberapa hari Nur Laily ada di ibu kota Samarinda, dia menunjukkan kebolehannya dalam memasak. Dia benar-benar ingin membuktikan kalau dia bersungguh-sungguh ingin menjadi seperti Habibah.
Seperti pagi ini, saat Habibah turun dari kamarnya untuk menyiapkan sarapan Zain. Nur Laily sudah terlebih dulu menyiapkan tiga jenis masakan di meja makan.
Habibah menatap takjub dengan apa yang dilakukan gadis kecil dihadapannya itu. Jika itu dilakukan oleh wanita yang sudah dewasa, mungkin dia akan biasa saja. Tapi ini di lakukan oleh anak perempuan berusia dua belas tahun yang baru beranjak remaja.
" Sayang... Ini semua kamu yang masak?" tanya Habibah tak percaya dengan apa yang telah di lihatnya.
" Iya, Uma. Aku praktek masak untuk kita sarapan. Mudah-mudahan hasilnya gak ngecewain ya, Uma. Tapi kalau masih ada yang kurang pas, Uma nanti kasih tau aku ya, Uma?" ucap Nur Laily dengan harap-harap cemas
Dia khawatir hasil masakannya tak akan sesuai dengan lidah Habibah dan Zelly. Karena yang terpenting baginya adalah penilaian dari kedua orang itu. Kalau yang lain dia masih tak akan ambil pusing.
" Kenapa kamu repot-repot sih sayang..? Anak seusia kamu gak seharusnya mengerjakan semua pekerjaan itu. Kan ada mbok Ratih. Kenapa harus kamu yang masak?" tanya hai ah cemas.
" Aku cuma pengen tau aja, Uma. Sebenernya aku punya bakat masak atau gak? Kan aku punya cita-cita pengen jadi kayak Uma. Pinter masak, pinter bikin kue-kue, jadi perempuan yang kuat dan hebat kayak Uma.
Aku inget, dulu papa suka cerita gimana waktu Uma masih seumuran aku sekarang. Uma itu orang yang rajin dan mandiri, sebab itu papa suka sama Uma.
Jadi, gak apa-apa kan kalau aku punya mimpi pengen jadi kayak Uma. Yang bisa banyak hal dan mandiri?" jawab Nur Laily panjang lebar, dia masih berusaha membenarkan apa yang ada dalam pikirannya dan apa yang telah dilakukannya saat ini.
Habibah tertegun mendengar penuturan dari mulut mungil anak perempuan yang kini beranjak remaja yang ada di hadapannya itu.
Dia tak pernah menyangka jika almarhum suaminya pernah menceritakan tentang masa kecilnya duku. Yang lebih tak dia sangka adalah jika almarhum suaminya itu memperlihatkan dirinya dari saat usianya masih baru beranjak remaja.
Yang berarti hal itu terjadi sebelum dia mengenal almarhum suaminya dimasa remaja dulu.
" Sayang... Uma gak larang kalau kamu mau masak. Tapi Uma khawatir kalau kamu sama terluka. Bagaimana kalau nanti kamu kena pisau, atau kena minyak panas atau kena api?"ucap Habibah akhirnya untuk menepis ingatan masa lalunya.
" Kan kata Uma, kalau kita mau jadi orang yang berhasil dan sukses. Kita harus siap untuk sakit dan terluka..."
" Iya, sayang. Tapi seharusnya kamu gak ngerjakannya sendirian. Paling gak di temani sama mbok Ratih atau bibi Susan. Lain kali jangan lagi masuk ke dapur sendirian ya sayang..." ucap Habibah sambil merangkul anak gadis kecilnya yang terlihat sangat bersungguh-sungguh dengan keinginannya.
__ADS_1
" Ya sudah, kalau gitu ayo kita sarapan dulu. Uma juga pengen tau gimana hasil masakan anak gadis Uma yang Sholeha ini." ucap Habibah sambil menggandeng tangan Nur Laily kemeja makan.
Saat Habibah baru saja akan menyiapkan, Zelly yang telah rapi dengan pakaian kerjanya datang menghampiri mereka.
" Waahh... Dari atas sudah tercium harum masakan yang bikin perut lapar. Ternyata memang ada disini rupanya. Dan kalian tega sekali gak panggil aku untuk mencicipinya." ujar Zelly sambil menghampiri Habibah seraya memeluknya dari samping dan mencium keningnya dengan lembut.
" Ish, masih pagi juga.. Abah udah mesra-mesraan mulu. Gak lihat apa ada anak di bawah umur disini?" gerutu Nur Laily sambil cemberut melihat tingkah Zelly barusan.
" Oh, iya mas.. Ini hasil masakan dari anak gadis kita ini lho.. Dari wanginya sih pasti enak.. Mas cobain ya.. Sini biar saya ambilkan.." ucap Habibah mengalihkan pembicaraan yang membuat canggung tadi
" Oh, ya? Serius ini kamu yang masak Nur? Waaahhh, gak nyangka anak gadis Abah sudah pandai memasak. Tapi kalau mau masak harus hati-hati ya, jangan sampai terluka.
Karena bagaimanapun keselamatanmu itu lebih penting. Nanti kalau kamu sampai terluka kan gawat, nanti bisa-bisa "uang jujuranmu " berkurang banyak lho..?" ucap Zelly menasehati dan di akhiri dengan gurauan yang membuat Nur Laily tersipu.
" Iya, Abah.. Terima kasih sudah mengingatkan. Seandainya saja abahku masih ada, mungkin abahkulah orang yang pertama kali mencicipi semua masakanku ini.
Tapi dengan adanya Abah disini, aku juga sudah sangat senang. Terima kasih, Abah dan Uma sudah mau mencicipi hasil masakanku ini." ucap Nur Laily mata yang berkaca-kaca.
" Aish, sayang Uma.. Uma yakin kalau Abah kamu sudah lihat hasil masakanmu ini dan bangga sama kamu. Kamu adalah anak yang hebat dan berbakat. Uma yakin, suatu hari nanti kamu akan bisa lebih baik dari pada Uma sekarang.
Habibah tak ingin membahas lagi orang-orang di masa lalunya lagi. bukan karena dia merasa itu tak penting lagi, melainkan dia tak ingin usahanya untuk bisa menerima Zelly dengan sepenuh hati nya akan terganggu lagi karenanya.
Dia benar-benar ingin menyimpan semua masa lalunya di sudut hatinya yang terdalam dan menguncinya rapat-rapat.
" waaahhh.. Ternyata masakanmu enak juga ya nur? Gak lama lagi masakan Uma kamu bisa kamu saingi enaknya. Tapi, kamu jangan sering-sering masak untuk aku makan deh, aku takut nanti aku lebih suka masakanmu ketimbang masakan Uma kamu.
Kalau sampai begitu kan bisa bahaya. Hahaha.." seloroh Zelly memecah kesunyian yang tiba-tiba terjadi di meja makan.
" Benar, masakanmu ternyata luar biasa untuk ukuran pemula seperti kamu. Kamu benar-benar berbakat, sayang." ujar Habibah menimpali untuk memuji hasil masakan Nur Laily.
" Benarkah? Seenak itu? Uma sama Abah gak bohong kan?" tanya Nur Laily tak percaya.
__ADS_1
" Bener dong sayang. Kamu cobain deh sendiri." sahut Habibah lagi.
Nur Laily pun mulai menyuapkan makanan yang tadi sudah dia ambil dipiringnya dan perlahan-lahan mulai menikmatinya.
*Ternyata apa yang di bilang Abah dan Uma bener. Masakanku lumayan enak bahkan bisa di bilang enak untuk pemula seperti aku.
Ah, sepertinya nanti aku lanjutkan sekolah ke jurusan tata boga aja, biar bakat masakku makin terasah.
Tapi, kira-kira ada gak ya sekolah tata boga untuk anak seumur aku ini? Sedangkan rata-rata anak-anak seumur aku masih dilarang main kompor.
Nanti aku tanya deh sama Uma atau Abah. Siapa tau aja beneran ada*.
Nur Laily terlihat tersenyum sendiri sambil menikmati makanannya. Membuat Habibah dan Zelly yang melihatnya mengerutkan dahi.
" Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu? Uma lihatnya serem tau." ujar Habibah sambil menggedikkan bahu pertanda ngeri.
" Hehehe... Itu Uma, aku rasa masakanku ini memang lumayan enak. Jadikan aku beneran berbakat. Jadi kira-kira ada gak ya sekolah masak untuk umuran kayak aku gini? Kalau ada, aku mau lanjut sekolahnya ke sekolah masak aja nanti." sahut Nur Laily penuh dengan semangat.
" Sekolah masak?" kata Zelly dan Habibah bersamaan.
" Iya, sekolah masak? Memangnya Uma sama Abah gak pernah dengar ada sekolah masak?" tanyanya heran.
" Bukan gitu, Uma tau ada sekolah masak. Tapi apa gak terlalu cepat kalau kamu langsung pilih sekolah masak, sayang? Kenapa gak nanti aja pas kamu sudah SMA gitu. Kenapa harus secepat ini?" tanya Habibah tak percaya mendengar keinginan dari anak gadisnya itu.
" Aku rasa kalau aku bisa belajar lebih cepat itu lebih baik Uma. Biar aku benar-benar bisa jadi sehebat Uma. Bahkan kalau bisa yang lebih hebat lagi dari Uma." jawab Nur Laily masih dengan penuh semangat.
" Oh, oke. Nanti kita bahas lagi ya soal ini. Sekarang selesaikanlah dulu makannya." Habibah mengakhiri pembicaraan di meja makan.
Setelah obrolan di meja makan itu, Habibah menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kamarnya tanpa mau di ganggu oleh siapapun. Bahkan Zain pun tak di izinkan masuk.
*Aku harus bagaimana ini? Bagaimana bisa anak itu benar-benar ingin menjadikan dirinya seperti aku? Bahkan lebih hebat dariku?
__ADS_1
Apa nanti kata keluarga mas Pur disana? Nanti disangka aku yang menginginkan anak itu mengikuti jejak ku.
Apa aku harus bicara dulu dengan mereka tentang ke inginan nya itu? Supaya mereka tau lebih awal dan gak akan salah faham sama aku. Kira-kira apa tanggapan mereka nanti ya, kalau tau anak itu punya impian yang berbeda dari apa yang mereka bayangkan*.