Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Ulang tahun berkesan


__ADS_3

Satu hari menjelang perayaan ulang tahun, Habibah benar-benar sibuk mempersiapkan pesanan yang dibuat oleh Purnomo. Ibunya turut membantunya, begitupula dengan Dona adiknya. Mereka membuat kue tart yang indah, kuenya memiliki dua tingkat yang dihiasi dengan dekorasi berwarna pink yang dihiasi dengan beberapa bunga yang imut. Warna pink adalah warna favorit putrinya Purnomo. Diatasnya terhadap tulisan nama dari Nur Laily Putri yang terbuat dari coklat yang manis. Ditengahnya terdapat sebuah patung princess bergaun indah berwarna pink juga, dan semuanya bisa dimakan. Setelah dicek dan teliti berulang kali akhirnya kue ulang tahun itu dimasukkan kedalam lemari pendingin terlebih dahulu, agar hiasan pada kue tartnya tak berubah bentuk dan rusak. Setelah shalat ashar, Habibah merebahkan tubuhnya diatas pembaringan favoritnya demi mempersiapkan tenaga untuk malam harinya. Karena malam harinya Habibah harus membuat beberapa kue yang diminta oleh Purnomo untuk jamuan tamu.


Malam harinya dibantu oleh adik-adiknya, Habibah melanjutkan pekerjaannya. Sementara ibunya mengurus Zain yang sedikit terabaikan oleh Habibah karena kesibukannya itu. Setelah Zain selesai makan malam dan tidur, ibunya pun turut membantunya memasak untuk catering nya. Semua bekerja sama untuk mempersiapkan pesanan yang cukup besar bagi mereka. Karena selama Habibah membuka usahanya dikampung, baru kali ini dia mendapatkan orderan besar seperti ini. Biasanya walaupun ada yang catering, yang pesan kue tak sebanyak ini dan jarang juga berbarengan dengan orderan kue tar ulang tahun. Tapi kali ini, orderan yang dia terima bersamaan. Pekerjaan mereka selesai pada pukul 2.30 pagi. Setelah itu mereka istirahat sebentar sebelum shalat subuh datang. Tidur yang baru satu jam setengah itu terpaksa terganggu oleh suara yang berasal dari masjid yang memang tak jauh dari rumah Habibah. Jaraknya kurang lebih hanya sekitar seratus meter dari rumahnya.


Setelah shalat subuh, Habibah melanjutkan pekerjaannya untuk mulai mengemas catering nya yang kebetulan Purnomo meminta untuk prasmanan saja. Mulai dari piring-piring, sendok dan garpu juga piring-piring kecil telah dia tata ditempatnya agar nanti mudah saat membawanya. Habibah juga mencuci beberapa jenis buah-buahan yang akan disediakan dimeja prasmanan nanti, lalu menatanya di keranjang-keranjang buah yang telah dihias dengan cantik. Setelah dirasa telah selesai dengan sempurna, Habibah bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih baik dari yang dikenakannya semalam. Setelah selesai dengan dirinya, Habibah segera beranjak kedalam kamarnya dan membangunkan Zain yang masih merasa malas untuk bangun.


" Sayang Uma..ayo bangun.. sudah siang loh sayang.. Uma mau antar kue, apa Adek mau ikut? Disana banyak balon loh.. mau balon gak? Kalau Adek bangun dan mandi, nanti Uma kasih balonnya satu.. gimana?" Rayu Habibah pada Zain yang masih terlihat enggan untuk membuka matanya.


" Mau balon Uma, Zain mau balon..! Warna merah ya Uma..?" seri Zain akhirnya sambil beranjak dari tempat tidurnya dan segera menarik tangan Habibah agar segera memandikannya. Habibah hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu putranya itu.


Jam 6.30 Habibah telah sibuk memboyong pesanan Purnomo kerumahnya menggunakan mobil pick up ayahnya yang terpaksa dibajak dulu sebelum di awa kekebun oleh ayahnya. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa sangat bersemangat dengan pekerjaannya itu. Sesampainya dihalaman rumahnya Purnomo, Habibah melangkahkan kakinya dengan agak berat menuju pintu rumah yang masih tertutup itu.


" Assalamualaikum..!!" seru Habibah mengucapkan salam seraya mengetuk pintu rumah itu beberapa kali.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh..!!" sahut seseorang dari dalam rumah itu terdengar mendekat untuk membukakannya pintu.


" Eh.. kak Habibah .. Maass... kak Bibah datang antar pesanannya." seru adiknya memberitahukan kepada Purnomo jika Habibah telah datang mengantar pesanan. Purnomo yang mendengar adiknya menyebutkan nama Habibah segera berlari untuk menghampirinya, namun belum dia sampai ke ambang pintu dia menghentikan langkahnya dan menekan dadanya yang tiba-tiba bergemuruh tak menentu. Seperti anak ABG yang sedang kasmaran saja. gerutunya dalam hati. Dia coba menenangkan dirinya, setelah dirasa lebih tenang barulah dia menghampiri Habibah yang kini telah selesai menurunkan semua pesanan Purnomo dari mobil pick up yang membawanya.

__ADS_1


" Maaf.. semua ini mau diletakkan dimana?" tanya Habibah yang mengejutkan Purnomo yang sedang memperhatikan Habibah mengatur bawaannya itu.


" Oh.. iya.. itu meja prasmanannya sudah disediakan, tinggal ditata saja disana. Dan untuk kuenya taruh saja di meja itu, sedangkan untuk kue hidangannya boleh diletakan di sini saja." Jawab Purnomo sambil membantu Habibah dan Dona yang sedang menata semuanya seperti yang diinstruksikan oleh Purnomo tadi. Setelah semuanya selesai, Habibah berniat untuk pulang namun dicegah oleh Purnomo.


" Apakah kamu tak ingin hadir diacara ulang tahun anakku? Aku yakin anakku akan senang kalau dia bertemu denganmu. Tolong tunggu sebentar, aku panggilkan dia dulu. Maklum anak gadis, harus dandan dulu." seringai Purnomo sambil berlalu dari hadapan Habibah dan memasuki kamarnya dimana putri sedang berdandan.


" Sayang.. jangan lama-lama dong dandannya.. ada yang nunggu tuh diluar.." kata Purnomo saat dilihatnya anak kesayangannya itu masih terlihat bingung dengan gaunnya. Ibu Sofia yang berada dikamar itu hanya tersenyum melihat tingkah cucunya itu. Namun demi mendengar ada seseorang yang ingin bertemu dengan cucunya, mau tak mau ibu sofiapun ikut meresponnya.


" Siapa yang ingin bertemu dengan cucuku? Tumben ada yang ingin bertemu dia.." ucap ibu Sofia.


" iya ma.. Nur ada diluar ingin menemuinya. " jawab Purnomo.


" Iya ma.. Ayo, kita keluar sekarang. Jangan sampai kelamaan nanti dia pergi lho.." kata Purnomo lagi. Yang ternyata perkataan Purnomo itu seperti sebuah komando yang langsung menggerakkan kaki mereka untuk segera keluar dari kamarnya.


Diruang tamu Habibah nampak masih berdiri menunggu dengan perasaan yang tak menentu. Dia tak tahu apakah dia benar-benar harus tetap disana atau pergi. Beberapa saat kemudian dia melihat Purnomo kembali bersama ibunya dan putrinya.


" Habibah..!" seru ibu Sofia sambil memeluk tubuh mungil Habibah. Habibah hanya bisa pasrah saja dipeluk oleh ibu Sofia. Sementara nur Laily Putri hanya bengong melihat tingkah neneknya itu. Dia sudah lupa pada Habibah, tapi perasaan akrab itu masih ada dalam hatinya.

__ADS_1


" Hai Tante.." sapanya pada Habibah.


" Hai Nur.. boleh Tante panggil dengan nama itu?" tanya Habibah.


" Ya tentu.. Papa juga panggil dengan nama itu, jadi tak apa-apa kalau Tante juga suka." jawabnya.


" Kamu cantik sekali hari ini, selamat ulang tahun ya sayang.. maaf Tante gak punya kado yang bagus untuk mu." kata Habibah seraya menyerahkan sebuah kotak padanya.


" Terima kasih Tante.. Hadiah dari Tante pasti bagus." jawabnya dengan gayanya yang imut.


" Oh ya sayang.. coba deh kamu lihat kue ulang tahunmu.. Itu dibuat oleh Tante Nur lho sayang.." tiba-tiba Purnomo menyela obrolan dua orang yang dia panggil dengan nama yang sama itu, nur kecil yang mendengarnya secara spontan menolehkan kepalanya ke arah tangan ayahnya itu menunjuk.


" Waaahhh....! Cantiknya..!! Beneran itu Tante yang buat ?!" tanya nur kecil antusias. Dia sangat senang melihat kue hasil karya Habibah yang dihias dengan begitu cantiknya menggunakan warna kesukaannya. Dipeluknya Habibah dan diciumnya kedua pipi Habibah yang tertutup oleh cadar. Habibah tertegun dengan reaksi nur kecil itu padanya. Dona yang berdiri agak jauh dari Habibah hanya bisa bening menyaksikan pemandangan yang tak biasa itu. Dia tak menyangka jika anak Purnomo itu akan bersikap semanis itu pada kakaknya. Sementara Zain sedang bermain bersama beberapa anak yang memang mulai berdatangan untuk menghadiri pesta ulang tahun anaknya Purnomo. Sebab acara ulang tahunnya dimulai pukul 8.30 pagi.


Pesta ulang tahun itu berlangsung dengan meriah, semeriah perasaan beberapa orang yang ada disana. Purnomo tak bisa berhenti untuk tidak memperhatikan Habibah yang terpaksa tinggal atas permintaan putrinya. Nur kecil merasa menemukan sosok ibu dalam diri Habibah. Habibah yang duduk disamping Nur kecil bersama Zain yang sedang bermain dengan balonnya tak menyadari jika Purnomo menatapnya sejak lama. Dia merasa ulang tahun putrinya ini sangat berkesan dalam hatinya. Dia benar-benar lupa jika saat itu dia bukan lagi anak ABG yang sedang jatuh cinta, tapi seorang pria dewasa yang telah berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama.


***

__ADS_1


tak bosan-bosan author mengingatkan agar jangan lupa like komen dan votenya ya.. supaya author nya lebih semangat lagi dalam menulis. Terimakasih 🥰🥰🥰


__ADS_2