
Beberapa hari setelah lamaran, Purnomo terpaksa harus pergi meninggalkan Habibah untuk kembali ke pulau Sumatra tempatnya ditugaskan. Masa cuti yang satu bulan itu terasa sangat singkat untuknya, dengan berat hati dia harus kembali bersama putri tercintanya karena Nur juga harus kembali sekolah.
Nur menangis dalam pelukan Habibah, dia sangat ingin tinggal bersama Habibah. Namun apa daya, dia harus tetap kembali untuk menuntaskan pelajarannya hingga waktunya kenaikan kelas. Habibah memeluknya dengan penuh kasih sayang, dia mencoba memberi pengertian pada Nur agar mau bersabar sampai waktunya mereka akan bersama.
" Sayang.. Kamu harus kembali kesekolah kan? Kalau kamu ingin cepat kembali dan kita bersama lagi. Kamu harus belajar sungguh-sungguh ya..? Kita bisa telpon setiap hari, Tante janji setiap pagi akan telpon Nur sebelum berangkat sekolah. Dan Tante akan telpon waktu malam sebelum Nur tidur, bagaimana? Biasakan begitu?" Habibah mencoba menghibur gadis kecil dalam pelukannya. Nur hanya mengangguk pelan.
" Baiklah.. kalau begitu jangan nangis lagi dong.. Cantiknya hilang loh. Kan kita sudah buat janji kalau kita tetap bisa ngobrol walau kita berjauhan, tapi kita tetap dekat dihati." Habibah membelai kepala Nur dengan sangat lembut membuat Nur semakin tak ingin melepas pelukannya.
Begitupun dengan Purnomo, kebahagiaannya yang baru beberapa hari itu harus terhenti sementara sampai waktu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak keluarga. Jika pernikahan mereka akan dilangsungkan dibulan Syawal. Yang itu berarti hanya tinggal menunggu tiga bulan saja. Namun jangankan tiga bulan, hanya dalam hitungan hari saja rasanya sudah sangat tersiksa karena rindu. Namun dia harus berpura-pura tegar dihadapan putri semata wayangnya agar anaknya itu bisa kuat juga.
Masa dulu bertahun-tahun lamanya aku bisa menahan rinduku, sekarang yang hanya tiga bulan aku gak bisa?
Setelah kepergian Purnomo dan Nur, Habibah merasakan sedikit kehilangan. Yang biasanya setiap pagi ada Nur yang selalu buat heboh, dan setiap hari dia melihat Purnomo mengantar dan menjemput Nur kerumahnya, kini sudah tak ada lagi. Habibah ternyata dengan tak sadar merindukan hal-hal yang ternyata sederhana seperti itu.
Ketenangan Habibah ternyata pun hanya sebentar, baru dua Minggu setelah kepergian Purnomo dan Nur. Lina kembali mendatangi Habibah yang saat itu sedang membuat pesanan dari customer barunya. Lina datang dengan angkuhnya, Bahkan dia datang pun tak mengucapkan salam.
__ADS_1
Dug..! dug..! dug..!
" Habibah...! Hai Bibah..! Keluar kamu..! Habibah..!" Lina berteriak memanggil Habibah dari ambang pintu rumahnya sambil menggedor pintu dengan kasarnya. Ibunya yang mendengar suara teriakan dari depan rumahnya, segera datang menghampiri dengan tergesa-gesa.
" Hai perempuan gila..! Kamu datang seenaknya datang kerumah orang dengan sikap kurang ajar seperti ini, dasar gak punya adab. Mau apa lagi kamu datang kemari? Masih belum cukup kamu buat keributan disini? Apa lagi yang kamu mau hah..!?" ibunya Habibah benar-benar merasa muak melihat keberadaan Lina dirumahnya.
" Mana Habibah..!? Aku ingin dia yang datang menemukanku, bukan orang lain. Aku hanya berurusan dengannya, jadi jangan banyak omong kosong denganku, karena urusanku hanya dengan dia." Lina masih dengan sikap tak sopannya pada ibunya Habibah.
" Ada apa ma? Kok ribut banget?" Habibah tiba-tiba datang menghampiri ibunya, karena dia mendengar ada keributan di depan rumah yang mau tak mau memancing rasa penasarannya."
Lina..? Ada apa lagi sekarang?" tanya Habibah setelah dia mendapati keberadaan Lina dirumahnya. Dan dia mengerti mengapa tadi terjadi keributan yang mengganggunya.
" Tak bisakah kalau kamu bicara baik-baik? Bagaimanapun ini adalah ibu saya yang jauh lebih tua dari kamu. Kalau kamu bisa sopan, maka saya juga akan lebih sopan padamu. Dan kalau caramu seangkuh dan sekurang ajar ini datang kerumah orang, lalu bagaimana saya bisa bersikap selayaknya pada tamu?" ucapan Habibah memang diucapkan dengan pelan dan datar, namun cukup menusuk telinga dan hati yang mendengarnya.
" Kamu gak usah sok-sokan didepanku. Aku cuma mau kamu serahkan hak asuh Zain pada kami, biarkan Zain ikut denganku sekarang." Lina berbicara dengan posisi masih berdiri di depan pintu rumah Habibah.
__ADS_1
" Lina... Tak bisakah kita duduk dulu baru bicara? Apakah kamu gak merasa lelah dengan berdiri seperti ini? Apalagi kamu baru datang dari jauh. Ayo duduklah dulu,. baru kita bicara." Ajak habibah pada Lina sambil menarik tangan Lina agar mau masuk dan duduk diruang tamu nya. Lina menepis dengan kasar tangan Habibah, namun dia mengikutinya untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara ibunya mendelikan matanya pada Habibah, sebagai tanda protesnya pada Habibah. Namun Habibah hanya menganggukkan kepalanya pelan, karena tak ada lebih baik selain mengajaknya bicara dengan baik-baik.
" Apa yang sebenarnya kalian inginkan dari saya? Kalian sudah memilih hidup kalian, dan saya sudah tenang dengan hidup saya. Lalu kenapa sekarang kalian mengusik kehidupan saya?" Habibah bertanya tanpa basa-basi.
" Bukan kami, tapi aku. Aku yang menginginkan hak asuh anak dari mas Qodir. Agar dia tak lagi ada alasan untuk membuat dia menemui kamu. Aku benci kamu, aku benci karena setiap hari yang dia ingat hanya kamu. Aku benci karena dia selalu memujimu. Jika anak itu ada bersama kami, aku rasa tak ada alasan lagi bagi dia untuk datang menemui kamu. Aku hanya tak mengerti, kelebihan apa yang kamu miliki sampai membuat dia bisa berubah walau setelah dia memutuskan untuk hidup bersamaku? Sekarang ini, aku hanya ingin kamu memberikan hak asuh anak itu pada mas Qodir. Setelah itu, aku tak akan pernah mengganggu hidup kamu lagi." Rasa benci itu terlihat nyata dimata Lina.
" Sepertinya saya sudah mengatakan hal ini pada mas Qodir, bahwa dia tak berhak untuk mendapatkan hak asuh itu sama sekali. Mungkin kamu tau persis apa alasannya. Jadi kalau kalian ingin memaksa hak asuh itu, kalian harus menempuh jalur hukum yang berlaku. Karena saya tak akan pernah menyerahkan hak asuh itu pada kalian. Kalau kalian mau, kalian bisa menggugatnya ke pengadilan. Kalau kalian bisa memenangkannya, maka saya akan meyerahkan hak asuh anak dengan suka rela. Tapi kalian juga harus ingat, mas Qodir sudah mangkir dari kewajibannya untuk menafkahi anaknya selama tiga tahun lebih. Maka aku pastikan pada kalian satu hal, jika kalian mengambil jalur hukum pun kalian akan kalah. Kemungkinan terbesarnya mas Qodir akan mendapatkan hukuman karena telah menelantarkan anaknya. Sebaiknya kalian fikirkan itu baik-baik." Habibah menjawabnya dengan sangat tenang tanpa emosi. Dia benar-benar bisa menghadapinya dengan baik.
" Kamu...!"
" Dan ingatlah baik-baik kata-kata saya ini, saya tak pernah mengganggu kalian. Jadi sebaiknya kalian jangan ganggu saya juga. Soal mas Qodir berubah sikap pada kamu, itu urusan dia dan tak ada hubungannya dengan saya. Yang itu berarti kamu tak bisa mengurus suamimu itu dengan baik. Jika kamu sudah mengurusnya dengan baik, dia pasti tak akan berubah padamu dan tak akan mengingat saya. Jadi sebaiknya kamu introspeksi diri, supaya dia tak lari darimu." Habibah memotong perkataan Lina yang sudah bersiap untuk menghardiknya. Semua yang dikatakan Habibah memanglah telak, sampai Lina tak bisa menjawab perkataan dari Habibah.
Lina bangun dari tempat duduknya dengan wajah yang memerah karena menahan amarah dan malu. Niat hati ingin memberi pelajaran pada Habibah, tapi ternyata malah mempermalukan diri sendiri.
" Sepertinya kamu lebih senang jika dia terus mengingatmu dan datang menemuimu. Kamu sengaja melakukan hal ini padaku karena kamu ingin balas dendam padaku kan? Kamu ingat kata-kata ku ini, bahwa aku tak akan memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu pada rumah tanggaku dengan mas Qodir." Lina masih menyalahkan Habibah dengan apa yang terjadi pada rumah tangga nya. Habibah hanya bisa menghela nafas dalam-dalam memperhatikan sikap Lina yang sudah tak masuk akal itu. Akhirnya Lina pulang dengan membawa perasaan amarah dan malu.
__ADS_1
***
Jangan lupa jempol, komen dan votenya ya 🥰🙏 terimakasih 🥰🙏