
Semua sudah kembali ke hotel dan bahkan kini mereka telah selesai menikmati makan malamnya. Dan sebagian sudah kembali ke kamarnya masing-masing untuk istirahat. Tapi baru saja Habibah akan mengikuti yang lain untuk kembali ke kamarnya. Tiba-tiba saja ada seorang petugas hotel yang menghampirinya.
" Maaf Bu, permisi.. Apakah di sini ada yang bernama Nur Habibah?" tanyanya sopan.
" Iya, dengan saya sendiri. Ada apa ya mas?" Habibah sedikit heran dengan petugas hotel itu yang tiba-tiba mencarinya.
" Maaf Bu, ada tamu untuk ibu. Sekarang beliau sedang menunggu di lobby. Mari saya Antar." petugas hotel itu menjelaskan.
" Tamu? Siapa ya?" tanya Habibah makin heran.
" Nanti ibu juga tau siapa beliau. Saya hanya menyampaikan pesan saja." jawabnya lagi.
" Sayang, kamu kembali saja duluan ya, Uma mau lihat dulu siapa tamunya. Kembali dengan yang lain, Uma gak akan lama kok." Habibah meminta gadis kecilnya itu kembali lebih dulu ke kamarnya. Sementara dirinya mengikuti petugas hotel itu untuk menemui tamu yang di maksud.
Saat sampai di lobby hotel, Habibah melihat sosok pria yang sedang berdiri membelakanginya.
Siapa dia?
Apa aku kenal dia?
Untuk apa dia mau bertemu denganku?
Apa perlu aku menyapanya lebih dulu?
" Maaf Bu, saya tinggal dulu. Permisi." ucap petugas hotel itu setelah mengantar Habibah sampai tempat tujuan.
" Baik, terima kasih." jawab Habibah sambil mengangguk pelan.
Habibah nampak ragu-ragu Antara menyapa atau tidak. Walaupun akhirnya dia memberanikan diri untuk menyapa terlebih dulu. Karena lelakinya yang mencarinya itu masih tetap di posisi yang sama, seolah tak menyadari keberadaan Habibah disana.
" Permisi.. Apa benar anda yang mencari saya?" tanya Habibah dengan sedikit ragu-ragu.
Lelaki itupun berbalik saat mendengar sebuah suara dan menghadap ke arah suara yang menyapanya. Dan alangkah terkejutnya Habibah saat tau siapa yang kini sedang berada dihadapannya.
" Pak Zelly...!?" Habibah tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Namun begitu, Habibah segera menundukkan wajahnya agar tak bertatapan dengan lelaki yang sudah beberapa tahun ini tak di jumpai nya.
__ADS_1
" Hai Nur... Apa kabarmu?" sapa Zelly sambil berjalan mendekat kehadapan Habibah.
" Ba... baik pak..!" jawab Habibah terbata-bata.
Ya ampun...!
Mimpi apa aku semalam, bagaimana bisa aku ketemu sama dia disini sekarang?
Gerutu Habibah dalam hati.
" Bisakah kita bicaranya sambil duduk?" tanya Zelly sopan.
Habibah hanya mengangguk pelan.
Zelly pun melangkahkan kaki ke arah restoran yang ada didalam hotel itu di ikuti oleh Habibah di belakangnya dengan langkah kecilnya. Habibah terlihat seperti seorang anak yang sedang menguntit ayah nya dari belakang. Dengan langkah kecilnya yang canggung membuat jarak langkah diantara keduanya cukup jauh.
Aduh..!
Apa pantas ini dilakukan?
Walaupun disini bukan tempat yang sepi, tapi apakah ini pantas dilakukan?
Tak henti-hentinya Habibah menggerutu dalam hati. Bahkan sangking asyiknya dengan gerutuannya sendiri sampai tak menyadari jika Zelly telah berhenti dan menghadap kearahnya. Sampai pada akhirnya Habibah menabrak seseorang.
" Astaghfirullah... Maaf.." ucap Habibah sambil memundurkan langkah kakinya beberapa langkah agar menjauh dari orang yang ditabraknya.
" Hai Nur... Gak bisa ya kalau jalan itu dilihat arah jalanmu bukan langkah kaki kecilmu?" terdengar suara yang sangat di kenal oleh Habibah menegurnya.
" iya, maaf.. " jawab Habibah masih dengan menunduk.
" Gak bisakah jalan tak terlalu jauh dariku? Toh ini tempat ramai, aku gak akan mungkin melecehkaanmu Nur." kata Zelly lagi Sabil menhan tawanya. Dia melihat jika wanita yang kini di hadapannya masih sama lucu dan imutnya seperti beberapa tahun yang lalu.
" Iya pak.." hanya kata itu yang bisa di ucapkan Habibah saat ini.
" Ayo, nanti keburu malam. kita cari tempat duduk dulu yang nyaman untuk bicara." Zelly mulai melangkahkan kakinya kembali. Dan Habibah hanya bisa mengekor di belakangnya tanpa suara.
__ADS_1
" Ayo kita duduk di sebelah sini.." ajak Zelly sambil menarik salah satu kursi untuk Habibah.
Habibah merasa canggung menerima perlakuan dari Zelly, yang membuat dia hanya berdiri mematung.
" Ayo duduk lah Nur, apa kamu mau berdiri terus disana? Aku sengaja mengajakmu kesini untuk bicara, bukan untuk jadi security atau bodyguard ku." kata Zelly sambil tersenyum kearah Habiba yang masih mematung.
Habibah akhirnya menuruti perkataan Zelly dan duduk di kursi yang tadi telah di tarik untuk nya. Setelah Habibah duduk, Zelly pun duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Habibah.
Habibah tanpa sadar celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Dia benar-benar merasa tak nyaman dengan suasana saat ini. Dan Zelly bisa melihat dengan jelas kegelisahan dari wanita yang kini duduk di hadapannya itu.
" Tenanglah Nur, aku hanya ingin berbicara denganmu. Bukan mau berniat buruk padamu." Zelly berusaha menenangkannya dengan meyakinkan Habibah jika dia tak akan berbuat macam-macam padanya.
" Iya pak, saya tau.. Cuma... rasanya aneh aja." ucap Habibah jujur.
Zelly hanya tersenyum mendengar kejujuran Habibah. Dia tau benar jika Habibah bukanlah type wanita yang mau di ajak bicara berdua begini. Apalagi dengan lelaki yang bukan muhrim nya. Tapi Zelly benar-benar ingin berbicara dengan wanita ini sekarang. Dan dia telah memikirkan semalaman jika hal ini tidaklah salah, karena itu dilakukan di tempat ramai bukan tempat yang sepi.
" Nur.. Aku senang bisa lihat kamu di sini. Aku gak pernah nyangka kalau aku bakalan bisa ketemu kamu disini. Bahkan dalam mimpi pun aku gak pernah menyangka bisa ketemu kamu. Bagaimana kabar ibu dan ayahmu juga jagoan kecilmu yang manis itu?" Zelly memulai pembicaraannya.
" Mama dan ayah saya baik-baik. Begitupun dengan Zain, dia juga baik dan sehat. Terima kasih." jawab Habibah datar.
" Mmm... Kamu masih sama ya Nur, masih sedingin dulu. Tapi aku gak tau kenapa kalau aku gak pernah bisa berhenti untuk rindu sama kamu." keluh Zelly pelan, tapi masih bisa di dengar dengan jelas oleh Habibah.
" Pak, sebaiknya bapak jangan seperti ini terus. Bapak sudah menikahkan? Jadi jangan buat seolah saya menggangu rumah tangga orang lain. Saya gak mau kalau sampai ada orang yang salah faham nantinya." Habibah merasa tak percaya dengan apa yang sudah di dengar oleh telinganya tadi. Tapi melihat Zelly masih tetaplah sama seperti dulu, dengan tatapan matanya yang penuh harap dan kerinduan terlalu jelas untuk dilihat oleh siapapun yang melihatnya.
" Jadi, kalau aku tak punya istri apakah aku baru boleh begini?" tanya Zelly dengan senyumnya yang masih tetap menawan di usia matangnya.
" Bu.. bukan begitu pak Mak..sud saya.. Cuma ini benar-benar gak enak aja." jawab Habibah dengan gugupnya. Dia tak menyangka jika Zelly akan menggodanya dengan kalimat yang akan sulit untuk di jawabnya.
" Kalau begitu, lebih baik kalau aku langsung saja melamarmu. Supaya lebih enak dan gak jadi salah faham orang kan?" Zelly masih dengan senyumnya namun tatapannya menunjukkan kesungguhan di dalam kalimatnya.
" Pak.. Bisakah bapak jangan terus bermain-main? Apakah hanya karena hal ini bapak mencari saya? Saya rasa saya harus kembali sekarang, kasihan anak-anak pasti sudah menunggu saya dari tadi." ucap Habibah sambil berdiri dan hendak meninggalkan Zelly. Tapi belum juga kakinya melangkah, Zelly sudah mengucapkan kalimat yang membuatnya berpaling pada Zelly yang masih duduk dengan tenangnya.
" Aku gak main-main Nur, kamu tau sejak lama aku menyukaimu. Sejak lama perasan ini tak pernah berubah padamu. Dan aku akan tetap begini entah sampai kapan. Kalau kamu izinkan, aku akan pergi ke orang tuamu dan melamarmu untuk menikah denganmu sekarang juga. Kalau kamu takut karena aku beristri, maka aku katakan sekarang kalau aku sudah tak beristri. Dengan cara apa agar kamu percaya dan bisa menerima perasaanku ini Nur. Aku tak memerlukan rasa cintamu kalau memang rasa itu memang sudah tak ada sisa lagi di hatimu untuk orang lain selain almarhum suamimu. Aku hanya perlu kamu ada di sisiku dan menghabiskan masa tua bersama denganmu. Aku tak perduli dengan masa laluku, yang aku tau aku tak pernah bisa melepaskan diri darimu. Aku sudah menunggumu dalam waktu yang sangat lama Nur, bukan setahun atau dua tahun. Tapi bertahun-tahun... Aku ingin membahagiakanmu disisa hidupku. Aku tak meminta apapun darimu, aku hanya ingin kamu kasih aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku sungguh-sungguh denganmu. Apakah di matamu aku terlihat seperti sedang main-main Nur? Selama ini aku tak mengharap apapun darimu atas perasaanku, tapi kali ini aku benar-benar mengharapkannya. Tak bisakah kamu kasih aku kesempatan itu?". Zelly berbicara seolah sedang meluapkan segala perasaannya yang selama ini hanya dia simpan sendiri.
Habibah tertegun mendengar semua penuturan dari Zelly yang baginya itu sangat menyakitkan. Dia hanya bisa berdiri mematung sambil mencerna setiap kalimat yang telah di ucapkan oleh Zelly. Dia benar-benar merasa bersalah pada lelaki yang usianya tak bisa dibilang muda lagi itu. Berkali-kali lelaki itu ditolaknya, tapi tak merubah sedikitpun perasaan lelaki itu padanya.
__ADS_1
Habibah akhirnya terduduk kembali dikursinya. Habibah menatap sekilas pada wajah Zelly yang masih terlihat tenang, namun sorot matanya telah berubah muram.
" Maafkan saya pak..."