Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Cemburunya Purnomo


__ADS_3

Malam itu Purnomo nampak gelisah. Dia masih teringat dengan kejadian pagi tadi, dia benar-benar merasa terganggu dengan kedatangan Zelly pagi tadi. Dia benar-benar merasa tidak nyaman dengan perbincangan yang terjadi dirumah orang tua Habibah pagi tadi. Ditambah lagi dia jelas melihat ada semburat kesedihan diwajah Zelly. Bahkan dia semakin merasa tak nyaman karena ternyata Habibah tak mengatakan apapun tentang Zelly itu. Padahal dia sangat berharap jika Habibah mau mengatakan sesuatu tentang siapa Zelly dan ada hubungan apa di antara mereka dulu. Tapi hingga larut malam pun tak ada telfon atau pesan singkat dari Habibah sama sekali. Jangankan untuk menjelaskan siapa dan ada hubungan apa dirinya dengan Zelly, sekedar mengatakan hai pun tak ada. Purnomo hanya menatap layar handphonenya yang gelap.


Apa sebaiknya aku yang bertanya duluan ya? Tapi kalau aku yang tanya duluan nanti dia salah faham bagaimana? Tapi kalau aku gak tanya, bagaimana aku bisa tenang. Aku benar-benar ingin tau tentang mereka dulu seperti apa, karena gak mungkin dia akan beritahukan rencana pernikahannya pada Nur kalau mereka gak dekat kan?


" Papa.. papa kenapa belum tidur?" tiba-tiba terdengar suara putri kecilnya yang terbangun dan memeluk tubuh ayahnya yang masih belum bisa memejamkan matanya meski tubuhnya telah dibaringkan ditempat tidurnya.


" Iya.. ini papa sudah mau tidur kok sayang." jawab Purnomo seraya meletakan handphone di atas nakas lalu memeluk putrinya dan memaksakan diri untuk tidur.


Keesokan paginya setelah shalat subuh, Purnomo benar-benar sudah tak bisa membendung perasaan mengenai Zelly kemarin. Diambilnya handphone miliknya dan ditekannya nama Habibah dan menghubunginya dengan perasaan yang campur aduk. Antara khawatir menyinggung dan penasaran.


" Assalamu'alaykum..." ucapnya dengan lembut.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.. Iya mas, ada apa? Tumben mas telfon jam segini, apa ada sesuatu yang mendesak?" tanya Habibah keheranan. Karena ini pertama kalinya untuk Purnomo menghubungi Habibah dipagi buta seperti ini.


" Ehm... Gak ada apa-apa, cuma mau tau aja kamu sedang apa kalau jam segini?" Aduh.. kenapa susah sekali untuk bertanya langsung mengenai yang kemarin itu.


Purnomo menggerutu dalam hati, dia hanya bisa meremas rambutnya dengan kesal karena dia tak bisa menanyakan apa yang ingin dia tanyakan sebenarnya.


" Jam segini ya tentu saya mau kedapur dong mas, nyiapkan untuk sarapan nanti." Habibah menyahuti dengan mengerutkan kening.


" Apakah kamu gak ada yang ingin disampaikan padaku?" tanya Purnomo dengan harapan Habibah akan mengerti maksudnya.


" Apa ya? Perasaan gak ada mas, kan yang telfon bukan saya tapi mas berarti seharusnya mas Pur dong yang mau bicara sesuatu dengan saya?" jawaban Habibah semakin membuat Purnomo kesal.


" Oh.. Ya sudah kalau kamu gak ada yang ingin kamu sampaikan. Aku cuma mau tanya itu aja, sekarang kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Assalamu'alaykum.." Purnomo menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Habibah. Habibah yang masih keheranan hanya bisa menatap layar handphonenya dengan penuh tanda tanya.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.." Habibah menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Dia itu kenapa sih? Dia yang telfon,. dia tanya ada yang mau disampaikan apa gak? Dia juga yang nutup telfonnya duluan tanpa nunggu jawaban dari saya. Sebenarnya dia itu kenapa sih? Habis mimpi apa dia semalam?


Disisi lain, Purnomo gregetan karena ternyata Habibah tak mengerti juga maksud dari ucapannya itu.

__ADS_1


Nur.. Kamu tu yah, benar-benar deh.. Gak bisa pakai bahasa yang halus untuk bertanya. Cuma bagaimana caranya aku bertanya padanya ya?


Haish... Mau tanya terus terang takut dia tersinggung. Mau tanya pakai cara halus dia gak ngerti, jadi aku harus bagaimana?


Purnomo terus saja terfikir soal siapa Zelly dan apa hubungan antara mereka dulunya. Sampai akhirnya dia teringat jika Bu Fatma terlihat akrab dengan Zelly.


Mungkin Bu Fatma tau sesuatu tentang mereka. Aku tanya beliau aja deh... hehehe..!


Purnomo akhirnya kegirangan sendiri begitu mengingat akan hal itu. Disambarnya handphone diatas meja dan mencari nomor ibu Fatma lalu memanggilnya.


" Assalamu'alaykum.." ucapnya begitu panggilannya telah tersambung.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.." jawab suara disebrang sana.


" Ini saya ma, Purnomo.. " lanjutnya lagi.


" Oh iya nak, ada apa?" tanya Bu Fatma keheranan, karna selama ini Purnomo tak pernah menelepon dirinya. Dan kini tanpa ada angin dan hujan tiba-tiba menelpon dipagi hari pula..


" Baiklah.. Gak akan bilang-bilang kok." jawab Bu Fatma sambil tertawa kecil.


" Ehm... Itu ma... saya mau tanya mengenai laki-laki yang kemarin pagi itu, apakah dulu Nur sangat dekat dengannya atau dulu ada hubungan apa diantara mereka? Apakah mama tau?" tanya Purnomo akhirnya. Ada rasa takut sekaligus lega setelah mengucapkan pertanyaan yang semalaman telah mengganggunya itu.


" Yang mana ya nak.. Soalnya kemarin temannya banyak yang datang, mana satu yang nak Purnomo maksudkan?" tanya Bu Fatma tak mengerti.


" Itu ma.. Siapa itu namanya? Emm... Yang katanya gak jadi nikah itu lho ma.." Purnomo coba mengingatkan.


" Ooohhh... Itu Zelly.. Dulu dia adalah atasannya Habibah. Dan mama rasa hubungan mereka cukup dekat, hanya saja mama gak tau sedekat apa. Hanya saja yang mama perhatikan, Zelly cukup perhatian pada Habibah. Kenapa tiba-tiba nak Purnomo menanyakan ini?" tanya Bu Fatma tak mengerti.


" Emm.. Gak ada apa-apa sih ma. Cuma ingin tau aja. Sebab saya baru lihat orang ini. Ya sudah ma kalau begitu, terima kasih atas informasinya. Assalamu'alaykum.." Purnomo mengakhiri panggilannya dengan perasaan yang semakin tak karuan. Sementara Bu Fatma terheran-heran dengan sikap Purnomo yang dirasa aneh.


Dia menelepon sepagi ini cuma mau bertanya satu pertanyaan itu saja? Aneh sekali, ada apa dengannya.?

__ADS_1


Sementara Purnomo setelah bertanya pada Bu Fatma bukan semakin memenangkan hatinya tapi justru membuatnya semakin gelisah.


Apa mungkin benar apa yang aku fikirkan ini. Hubungan mereka ternyata sedekat itu, jadi benar firasatku jika Zelly itu ada hati pada Nur. Dan apakah karena Nur juga dia belum menikah hingga sekarang. Astaghfirullah hal'adziim... Aku ini kenapa? Tak sepantasnya aku punya fikiran yang seperti ini pada calon istriku. Seharusnya aku tak memiliki prasangka apapun padanya. Aku bahkan mencemburuinya dengan membabi buta begini tanpa aku tau kebenarannya. Mungkin saja Zelly mencintainya sampai saat ini dan masih menunggunya. Tapi belum tentu Nur memiliki perasaan yang sama juga kan..? Kalau dia punya perasaan yang sama tentu dia tak akan setuju untuk menikah denganku. Ya Allah.. ternyata begini rasanya cemburu yang tak beralasan, sangat menyiksa dan merugikan.


Jam 10 pagi itu, Purnomo akhirnya menemui Habibah dirumahnya yang masih banyak didatangi oleh tamu. Dia sengaja mengajak Habibah mengobrol diteras rumahnya.


" Ada apa mas, kok kayaknya serius banget gitu." tanya Habibah sambil meletakkan segelas air minum dan sepiring camilan.


" Duduklah dulu Nur.." ucap Purnomo.


" Ada apa sih mas, jangan buat saya takut deh.." Habibah mulai terlihat khawatir.


" Aku cuma mau minta maaf saja sama kamu.."


" Minta maaf karena apa?"


" Sejak kemarin sebenarnya aku merasa terganggu dengan temanmu yang namanya Zelly itu. Aku rasa dia menyukaimu. Jadi aku terus berfikir apakah dia belum menikah hingga sekarang itu karena kamu? Aku bisa melihat tatapan matanya padamu itu punya arti yang sangat dalam. Sebenarnya ini yang ingin aku tanyakan padamu sejak kemarin." Purnomo terlihat sangat serius, tapi entah kenapa itu terlihat lucu oleh Habibah.


" Astaghfirullah hal'adziim mas.. jadi ini yang buat mas jadi aneh begitu? Kenapa gak ngomong langsung aja sih mas? Kenapa harus main teka-teki dulu. Coba bilang dari kemarin mungkin mas gak akan jadi seaneh itu kan..?" Habibah tak bisa menahan untuk tertawa, meskipun dia tertawa dengan tertahan namun itu sudah cukup membuat Purnomo merona karena malu.


" Iya... Maaf.." Purnomo hanya bisa tersipu sambil mengusap tengkuknya untuk mengurangi rasa malunya.


" Pak Zelly itu dulu asisten saya waktu kerja di perusahaan sawit. Dulu saat awal-awal kami selalu bertentangan karena sikapnya yang menurut saya keterlaluan. Dulu dia selalu galak pada bawahannya dan suka bicara sesuka hatinya. Dia tak pernah perduli apakah kata-katanya itu akan menyakiti hati atau tidak. Dan saya satu-satunya orang yang berani menentangnya. Hampir setiap hari kami beradu mulut, sepertinya dia selalu merasa harinya ada yang kurang kalau gak ribut dengan saya. Sampai akhirnya saya berhenti bekerja karena mau nikah tapi ternyata pernikahannya ditunda. Dan saya kembali bekerja dikota tepatnya saat kita pernah bertemu sekali di pusat perbelanjaan itu. Tak lama dari hari itu dia menelepon dan mengatakan kalau dia sudah jatuh hati pada saya tapi dia tau kalau dia tak mungkin bisa bersama saya. Karena saat itu dia juga akan pulang kampung untuk menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Tapi tak tau kenapa itu bisa sampai batal, bahkan saya tak menyangka jika dia belum menikah hingga sekarang." penjelasan Habibah semakin membuat Purnomo merasa alu dan bersalah.


***


cemburu itu harus kita miliki..


tapi gak boleh cemburu buta juga ya 😊😊


jangan lupa untuk like, komen dan votenya ya.. terimakasih 🥰🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2