Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Nuraini dan Lina


__ADS_3

Nuraini masih tak puas hati dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini pada Habibah. Dia teringat pada istri baru Qodir yang sepertinya juga tak menyukai Habibah.


Kalau aku bisa berhubungan dengan istri barunya Qodir, Pasti bisa lebih menarik..! Ah.. Sayang sekali kalau ada peluang bagus seperti ini harus di sia-siakan begitu aja. Tapi bagaimana caranya supaya aku bisa bicara dengan dia ya?


Nuraini terus memikirkan cara agar bisa bekerja sama dengan Lina. Tiba-tiba dia teringat pada handphone milik Habibah. Dia bergegas mendatangi Habibah yang saat itu sedang melipat pakaian dikamarnya.


" Bibah, aku pinjam handphone kamu sebentar." Nuraini tiba-tiba masuk kedalam kamarnya tanpa permisi.


" Memang handphone mba kenapa?" Habibah tak langsung memberikan apa yang diminta kakak iparnya.


" Aku gak akan kemana-mana juga,. aku disini aja di depanmu. Gak pun aku akan pakai macam-macam, jangan curiga yang aneh-aneh dulu. Aku cuma mau lihat handphone kamu aja. Cepat mana.." ucap Lina sambil mengulurkan tangannya dengan maksud meminta apa yang di maksud tadi. Habibah yang pada dasarnya tak menyukai keributan hanya bisa memberikan apa yang diinginkan kakak iparnya.


" Ini mba.."


" Mau pinjam aja susah banget sih..! Apa jangan-jangan ada rahasianya ya?" Lina dengan mengambil dengan kasar handphone yang diserahkan Habibah padanya.


" Gak ada kok mba.. Pakailah kalau mba mau pakai." Habibah kembali melanjutkan aktivitas lipat-melipat pakaiannya. Sementara Nuraini mulai membuka folder kontak yang tersimpan di handphone Habibah. Tapi dia tak menemukan nama Qodir atau Lina istrinya.


Ah.. Sial, dia bahkan sudah menghapus kontak mereka dari handphonenya. Bagaimana ya?


Nuraini terus mencari kontak yang mungkin bisa memberi informasi tentang Qodir atau Lina. Akhirnya dia menemukan kontak ibu mertuanya Habibah alias ibunya Qodir. Nuraini tersenyum puas akan hal itu. Segera disalinnya dan diapun segera mengembalikan handphone Habibah.


" Handphone kamu ternyata sudah canggih juga ya, tapi sayang kamu gak gunakan handphone sebagus itu dengan baik. Masa handphone sebagus itu gak ada isi apapun. Ada foto pun semua foto makanan, dasar aneh..!" Nuraini pun meninggalkan Habibah yang hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengarkan apa yang diucapkan Nuraini.


" Assalamu'alaykum.."


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh..! Siapa ya?"


" Ini Nuraini istrinya Yusuf kakaknya Habibah."

__ADS_1


" Oh.. iya. Ada yang bisa dibantu?"


" Aku cuma mau minta nomor Qodir atau istrinya, apa boleh?"


" Boleh. Tapi, apa ada sesuatu sampai harus mencari mereka?


" Gak ada apa-apa kok Bu,. cuma mau ngundang mereka di pernikahan Habibah 3 hari lagi. Dan sekalian ibu dan bapak juga silahkan hadir, Habibah pasti senang kalau kalian bisa datang juga."


" Oh, Alhamdulillah.. Insyaallah kami akan datang, terima kasih ya sudah mau memberi tahu kami."


" Sama-sama. Ditunggu ya Bu nomor mereka."


" Iya. Sebentar saya kirimkan ya. Assalamu'alaykum..."


" Wa'alaykumussalam." Nuraini menutup percakapannya dengan ibunya Qodir. Dia sangat senang karena ternyata sangat mudah untuk mendapatkan nomor kontak mereka. Tak lama sebuah pesan singkat masuk, dan Nuraini segera membuka pesan itu. Dan benar saja, sebuah nomor tertera disana. Dan Nuraini pun segera menghubungi nomor tersebut. Setelah berkali-kali memanggil barulah ada yang menyambutnya.


" Halo..." sapanya.


" Ini aku Aini istrinya Yusuf. Kamu Qodirkah?"


" iya, ada apa?"


" Aku mau bicara dengan istrimu, apa dia ada?"


" Maaf, aku sedang kerja. Mba Aini nanti bisa telpon langsung ke nomornya saja. Sebentar saya kirimkan nomornya."


Tak lama nomor kontak Lina pun dia dapatkan. Dia segera menghubungi Lina dengan penuh semangat. Setelah berbasa-basi sebentar, Nuraini pun mengatakan tujuannya yang sebenarnya pada Lina.


" Apakah kamu bahagia hidup bersama Qodir?"

__ADS_1


" Tentu saja aku bahagia, hanya saja Qodir sepertinya tak bahagia hidup denganku."


" Kenapa?”


" Sepertinya dia menyesal sudah memilihku dan meninggalkan mantan istrinya dulu. Dulu dia sangat mencintai aku, tapi sekarang dia sangat dingin padaku. Bahkan dia ingin bisa kembali pada mantan istrinya yang kampungan itu. Bahkan sudah dua kali dia menjatuhkan talaq padaku. Hanya saja aku gak mau kehilangan dia, karena dia hanya milikku. Aku gak akan memberi kesempatan dia untuk lepas dariku. Tak apa keluarganya tak menyukai aku bahkan tak menerimaku. Tapi aku senang karena aku gak sendirian, ada mas Qodir yang bernasib sama denganku. Dan dia juga tak punya pilihan lain selain hidup bersamaku. Karena keluarganya juga sudah tak mau menerima dia. Kalau bukan denganku, lalu dia akan dengan siapa? Apalagi sekarang dia sering sakit-sakitan, kalau dia pisah denganku gak akan ada orang yang mau rawat dia selain aku."


" Kamu benar-benar cinta buta ya? Kalau aku jadi kamu, sudah aku tinggalkan dia. Tapi memang susah ya kalau sudah cinta yang bicara. hahaha.."


" Ya.. Aku benar-benar sayang dan cinta sama dia. Aku gak akan perduli walau jika dunia menolak aku, tapi asalkan ada dia disisiku maka aku akan tetap melangkah dengan tenang."


" Tapi bagaimana kalau nanti Qodir mentalaq kamu yang ketiga kalinya? Kalian gak akan bisa rujuk dan gak akan bisa hidup bersama lagi."


" Kamu benar, itu juga yang aku fikirkan. Kecuali kalau aku punya anak, aku yakin dia gak akan pernah meninggalkan aku. Tapi sayangnya sampai sekarang kami masih belum dikaruniai seorang anak."


" Kenapa gak minta Zain aja? Zain kan anak Qodir? Sekarang Habibah juga akan menikah lagi, selain dia dapat anak dari calon suaminya yang baru, toh nanti dia juga akan punya anak lagi. Bagaimana kalau nanti jika punya anak lagi Zain akan tak terurus dengan baik? Apalagi hanya Zain seorang yang bukan anak dari suami barunya itu."


" Mba Aini benar juga. Bagaimana kalau nanti Zain di sia-siakan? Ah.. Nanti aku akan bicarakan hal ini dengan mas Qodir, semoga dia mau mendengarkan aku."


" Baguslah kalau begitu. Aku bicara beginipun demi kebaikan Zain. Karena bagaimanapun Zain itu keponakan aku juga. Tentu aku gak tega kalau sampai Zain itu kenapa-kenapa nantinya."


" Iya mba, terimakasih sudah mengingatkan aku akan hal ini."


" Jangan lupa hadir ya dipernikahan Habibah 3 hari lagi. Jangan lupa juga ajak suamimu, supaya dia sadar bahwa dia sudah tak mungkin bersama Habibah dan hanya kamu yang pantas untuknya."


" Iya mba, kami pasti datang."


Setelah berbicara panjang lebar dengan Lina, Nuraini menyunggingkan senyum sinisnya. Dia bahkan sangat ingin melihat Habibah menangis ditangannya. Karena di antara saudara Yusuf, hanya Habibah yang sulit untuk menangis. Tapi dia yakin, jika anaknya yang jadi sasaran maka dia akan menangis. Karena hanya pada saat anaknya di ganggu saja dia bisa melepaskan emosinya. Itu sebabnya Nuraini meyakini jika Habibah akan menangis jika Zain yang jadi sasarannya.


***

__ADS_1


Ketulusan bisa mengalahkan kedengkian.


Jangan lupa untuk tetap bersikap tulus pada siapapun dan jauhkan diri dari sifat dengki.🥰🥰🙏


__ADS_2