
Sejak terakhir kali Zelly mengungkapkan perasaannya pada Habibah, gadis itu tiba-tiba merasa bersalah pada beberapa orang. Dia sungguh berharap bisa memiliki persahabatan yang murni tanpa ada perasaan lain. Tapi dia mengingat bagaimana persahabatannya dengan Purnomo, Alvian, Ricky bahkan Zelly tak lepas dari adanya perasaan cinta, meski perasaan itu bukan dari dirinya. Dia tak pernah mengerti tentang apa yang jadi penilaian mereka sehingga mereka bisa menyukai dirinya. Bahkan dia mengingat bagaimana Purnomo dan Ricky yang bisa begitu menyukainya hingga tak bisa dia fahami batas rasa sukanya itu padanya. Itulah mengapa dia semakin menyembunyikan diri, karena dia takut untuk mengecewakan banyak orang lagi tanpa dia inginkan.
Waktu satu tahun dilewati tanpa disadari. Jika orang tua Habibah tak mengingatkan agar Habibah pulang, mungkin Habibah tak menyadari waktunya selama satu tahun untuk pernikahannya sudah berakhir.
" Kamu kapan pulang Nur.?" tanya ibunya saat ditelepon.
" Belum tau ma, memangnya ada apa ma?" tanya Habibah pada ibunya.
" Astaghfirullah Nur, kok ada apa sih..? Hari pernikahan kamu kan sebentar lagi Nur, akhir bulan ini lho.. Bagaimana kamu bisa lupa itu?" kata ibunya sedikit kesal karena ternyata putrinya itu melupakan hari pernikahannya sendiri.
" Oh... secepat itu ma? Kenapa waktunya terasa sangat cepat ya ma sudah satu tahun lagi..? Apakah gak bisa di undur beberapa bulan lagi ma?" tanya Habibah berharap.
" Kamu jangan cari gara-gara Nur,. kasihan orang sudah setahun lalu terus diundurkan waktunya. Satu tahun itu sudah lama, kamu mau berapa lama lagi menundanya? Ingat, adik kamu aja sudah punya bayi pernikahan kamu masih mau ditunda-tunda lagi?" ibunya mengingatkan.
" Iya ma, ma'af.. Minggu inilah saya pulang.." akhirnya Habibah menyerah.
Tak ada yang bisa mencegah pernikahan itu selain Allah yang merubah ketentuan yang sudah di putuskan oleh kedua keluarga. Apalah daya tetap harus dijalani meski belum siap secara mental. Keluh Habibah pasrah.
__ADS_1
Hari kepulangan Habibah telah tiba, sangat berat hati Habibah meninggalkan pekerjaan nya kali ini. Dia merasa benar-benar nyaman dengan pekerjaannya itu. Tapi apa boleh buat, dia harus pulang dan meninggalkan pekerjaannya. Anton dan Annisa pun tak bisa mencegah kepulangan Habibah, Bisma anak yang di asuh Habibah pun seolah tau akan hari kepulangan Habibah itu. Dimana hari itu Bisma benar-benar tak mau lepas dari pangkuan Habibah, seolah tau jika dirinya akan ditinggalkan oleh Habibah. Habibah pun menangis melepaskan pelukannya dari Bisma yang memang sudah bisa berjalan dan berlari bahkan sudah mulai belajar berbicara. Anak yang sedang lucu-lucunya itu tak henti menangis saat Habibah meninggalkan kediaman keluarga Anton.
" Maaf ya Nur, kami gak bisa antar kamu. Dan ma'af kami gak bisa kasih apa-apa untuk kamu. Ini hanya kenang-kenangan kecil dari kami. Anggap hadiah pernikahan kamu ya nur.." ucap Annisa sambil menyematkan sebuah cincin di jari manis Habibah. Setelah itu mereka berpelukan dengan air mata yang tak dapat di bendung lagi. Suasana haru menyelimuti hati mereka, sebab mereka juga tak tau kapan mereka bisa bertemu kembali.
Saat kepulangan Habibah sangat di nanti oleh seseorang dikampungnya. Yah, dia adalah Purnomo. Dia sudah lama kembali ke kampung setelah memutuskan untuk bercerai dengan Ririn istrinya. Dan putri semata wayangnya ikut Purnomo karena hak asuh anak jatuh pada Purnomo. Tapi Habibah tak mengetahui perihal perceraian Purnomo itu. Bahkan Habibah tak tahu bila Purnomo sudah kembali ke kampung. Sesampainya dirumah, dia di sambut oleh keluarganya. Setelah mendapatkan pelukan rindu dari ibu dan saudara-saudaranya diapun duduk sebentar di ruang tamu sambil bercengkrama dengan keluarganya walaupun hanya sebentar, karena dia merasa lelah setelah perjalanan yang panjang.
Setelah mandi dan makan malam, Habibah segera istirahat dikamarnya. Dibaringkannya tubuh lelahnya, bahkan karena rasa lelahnya dia belum sempat merapikan pakaian dalam kopernya kedalam lemari pakaiannya. Dia menatap langit-langit kamarnya sambil merenungi perjalanan hidupnya yang baginya cukup rumit. Dia bahkan tak pernah menduga jika perjalanan hidupnya menuju pernikahan itu begitu menguras emosi dan perasaan. Dan bahkan dia tak tau bagaimana caranya untuk melepaskan semua perasaannya pada Purnomo. Sudah bertahun-tahun sudah berlalu tapi perasaan itu tetap tak berubah sedikitpun. Dan dia sangat terganggu dengan perasaannya itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia sendiri pun tak tau bagaimana cara mengatasi nya karena yang bisa dia lakukan hanya sebatas menahannya saja. Bahkan dia tak tau bagaimana dirinya jika menikah nanti, sementara perasaannya masih sama seperti itu.
Tiga hari menjelang hari pernikahan, keluarga Qodir sudah datang. Sementara dikediaman keluarga Habibah sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk resepsi pernikahan. Banyak tetangga Habibah yang membantu tanpa perlu diminta, mereka sudah terbiasa bergotong royong jika ada warga yang akan melaksanakan sebuah hajatan. Saat itulah Purnomo tau jika Habibah akan melangsungkan pernikahan. Antara senang sekaligus sedih dirasakannya. Satu sisi dia senang gadis itu telah kembali, tapi disisi lain kembalinya gadis itu untuk melangsungkan pernikahannya. Purnomo benar-benar merasa tak siap menyaksikan gadis yang dicintainya itu bersanding dengan pria lain. Walaupun dia merasa itu tak pantas , tapi itulah yang dia rasakan.
Sehari sebelum pernikahan, Purnomo benar-benar tak bisa menahan perasaannya untuk bertemu dengan Habibah. Malam itu dia datang bertamu ke rumah Habibah. Dia tau bahwa keluarga mempelai pria ada disana, tapi dia tak perduli. Yang dia inginkan hanya bertemu dengan Habibah walau untuk terakhir kalinya. Betapa terkejutnya Habibah dengan kedatangan Purnomo, walau dia tak ingin menemuinya tapi dia tau dia tak dapat melakukan itu sebab dia tak mungkin mempermalukan Purnomo dirumahnya. Toh dirumah itu ramai, bukan hanya ada mereka berdua saja.
" Mas Pur, ada apa?" tanya Habibah dengan hati yang bergemuruh tak menentu. Mungkin karena mereka lama tak bertemu hingga membuat jantungnya berdetak sangat cepat. Tapi dia berusaha untuk mengendalikan perasaannya itu sekuat mungkin.
" Maaf jika aku ganggu kamu, aku hanya ingin bertemu dengan kamu. Karena aku gak tau apakah kita masih bisa bertemu jika kamu sudah menikah nanti. Anggaplah ini pertemuan kita yang terakhir." ucap Purnomo dengan suara bergetar menahan perasaan dalam hatinya.
" Duduk dulu mas.." Habibah mempersilahkan Purnomo untuk duduk.
__ADS_1
" Apakah kamu marah karena aku datang kesini?" tanya Purnomo hati-hati.
" Nggak mas.. Saya gak marah. Cuma kaget aja tiba-tiba mas Pur datang kesini sendirian. Dimana Ririn mas..?" ucap Habibah sambil matanya mencari keberadaan Ririn.
" Kami sudah cerai Nur.... Maaf kalau aku sudah mengecewakanmu. Tapi aku gak bisa berbuat apa-apa.. Aku sudah berusaha mempertahankan pernikahan kami. Tapi dia telah mengkhianati rumah tangga kami dengan dalih aku berselingkuh dengan kamu, walaupun kenyataannya itu gak benar. Tapi ya sudahlah, sekarang yang terpenting adalah anakku. aku gak inginkan yang lain lagi." kara Purnomo yang ternyata mengejutkan bagi Habibah. Dia tak menyangka jika Purnomo akan menderita dengan pernikahannya itu.
" Maafkan saya mas, kalau bukan karena saya mungkin mas gak akan mengalami hal yang menyakitkan ini. " ucap Habibah dibarengi dengan air matanya tanpa dikomando telah meluncur dengan bebasnya membasahi cadar yang dia kenakan..
" Itu bukan salah kamu kok Nur, ini memang sudah jalan hidupku yang harus seperti ini. Jadi jangan ada perasaan bersalah dihatimu. Aku hanya berharap kalau kamu gak mengalami apa yang aku alami, itu aja." kata Purnomo menguatkan hati gadis dihadapannya.
" Hanya saja, aku juga minta maaf kalau aku tak bisa memenuhi keinginan kamu bisa menghilangkan perasaanku sama kamu. Bukan aku gak mau berusaha,tapi Nur... Sekuat apapun aku berusaha aku tetap gak bisa melakukannya. Aku benar-benar minta maaf untuk hal yang satu itu aku gak bisa memenuhinya. Tak masalah perasaan ini akan ada sampai kapan. Aku gak akan pernah menyesalinya... Dan untuk kamu, kamu harus bahagia nanti ya Nur..." dengan penuh ketulusan.
Habibah tak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan Purnomo. Dia merasa sangat bersalah sekali pada Purnomo.
" Baiklah Nur, aku pulang sekarang.. Ingat pesanku, kamu harus bahagia ya... Assalamu'alaykum..." Purnomo melambaikan tangannya. Ada rasa lega dalam hati Purnomo setelah mengatakan semua itu. Meskipun tak bisa menghilangkan rasa perih dalam hatinya tapi dia merasa cukup untuk nya. Bagaimanapun juga dia ingin wanita yang dicintainya itu bisa bahagia tanpa ada rasa penyesalan dan rasa bersalah padanya. Purnomo sendiri tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat itu, yang dia tau cinta dalam hatinya belum berkurang sedikitpun. Namun rasa cintanya itu tak akan membuat dirinya menghalangi kebahagiaan Habibah. Kamu pantas untuk bahagia nur..
***
__ADS_1
gimana rasanya melihat orang yang dicintai menikah dg orang lain ðŸ˜ðŸ˜