
" Nur...?" Zelly terkejut begitu dia membuka matanya dia mendapati Habibah berada tepat disampingnya, dan bahkan sedang menyentuh lembut wajahnya. Dia benar-benar merasa sedang berada di alam mimpi mendapatkan sentuhan lembut dari wanita yang selama ini sangat dia cintai. Sentuhan itu seperti sebuah obat yang menghapus segala sakit yang selama ini dia rasakan dari mencintai secara sepihak. Bagai air hujan yang turun saat kemarau melanda. Begitu sejuk dan tenang hingga ke dalam hatinya.
Dilihatnya Mia, ibu Sumarni dan Fadhlan yang sedang memperhatikannya di belakang Habibah. Mia hanya menganggukkan kepalanya pelan, mengisyaratkan jika dia harus tetap diam dan memperhatikan apa yang akan dilakukan Habibah selanjutnya. Rasa senang yang tadi sempat dirasakan oleh Zelly seketika berubah menjadi sedih, saat dia menyadari jika tatapan mata Habibah masih sama. Kosong tanpa ekspresi...😓😓.
" Nur..? " panggil Zelly lembut.
Habibah masih tak merespon, Habibah menarik tangannya dari wajah Zelly dan meletakan nya di atas dada Zelly. Seolah-olah dia sedang mencoba merasakan detak jantung Zelly. Diletakkan kepalanya di dada Zelly, seolah dia ingin mendengar detak jantungnya. Apa yang dilakukan oleh Habibah itu benar-benar membuat jantung Zelly berpacu dengan sangat cepat. Perlahan membuat wajah putih Zelly berubah menjadi merah menahan malu dan gugup yang dirasakannya.
Dia masih hidup, dia akan baik-baik saja.. Kalau saja dulu aku melakukan hal yang sama, mungkinkah aku masih bisa mendengar suara jantungmu juga, mas?
Perlahan di angkat kepalanya dari dada Zelly, dilihatnya jarum infus yang menancap di salah satu lengan Zelly. Disentuhnya plester yang membalut jarum infus itu dengan sangat hati-hati, tak tau apa yang ada dalam fikirannya saat itu. Cukup lama Habibah memperhatikan tangan Zelly yang terpasang jarum infus itu, setelah agak lama Habibah melangkah meninggalkan kamar pasien itu dan ibu Sumarni segera mengikutinya.
" Kamu lihat itu kan Zell..? Keadaanmu menyentuh kesadarannya.. Benarkan kataku, kalau kesadarannya hanya tersentuh oleh sesuatu yang menyakitkan bukan pada hal-hal yang menyenangkan. Hal-hal yang menyenangkan itu ternyata tak begitu berkesan dalam hatinya. Tapi sebuah luka dan duka yang sangat berkesan dalam hidupnya. Dan sekarang sudah terbukti jelas, dia bereaksi pada saat kondisi yang seperti ini. Bahkan mungkin tadi dia mengira jika kamu itu adalah suaminya. Bahkan dengan tanpa sadar dia telah menyentuhmu dengan penuh perasaan. Walaupun kita juga tau kalau dia melakukannya tanpa ekspresi, tapi hatinyalah yang tersentuh.." Mia mendekati Zelly yang menatap bingung padanya.
" Aku seperti mimpi, waktu aku buka mataku dia yang pertama kali aku lihat. Walaupun semua rasa senangku itu tak seharusnya untukku, tapi entah kenapa aku tetap merasa senang karenanya." ucap Zelly sendu.
" Ayolah Zell, kamu itu laki-laki. Masa cuma karena hal gini aja kamu langsung se melow tu sih? Ini bukan kamu banget lho Zell..!" ucap Mia.
" Iya Zell, kamu tahu kan apapun yang dia lakukan itu semua masih dibawah bayang-bayang almarhum suaminya.. Jadi jangan terlalu kamu ambil hati, karena kalau kamu ambil hati nanti kamu akan kecewa." Fadhlan menambahkan.
__ADS_1
" Aku tau bang, tapi aku gak bisa membohongi diri aku sendiri, kalau apa yang dilakukannya tadi itu benar-benar sangat membuatku merasa senang. Walaupun dimatanya mungkin aku hanya bayangan almarhum suaminya. Aku gak keberatan, karena kenyataannya aku memang merasakan rasa senang itu. Aku belum pernah merasakan kelembutan yang seperti ini dari dia." Zelly menjawabnya dengan wajah yang sedikit berbinar.
Malam itu Mia dan Fadhlan harus pulang, sedangkan ibu Sumarni dan Habibah tinggal di rumah sakit untuk menjaga Zelly. Walaupun Zelly sudah meminta pada ibu Sumarni agar membawa Habibah untuk istirahat dirumah dan pulang bersama dengan Mia. Tapi ibu Sumarni menolak permintaan dari Zelly. Mereka tetap berada untuk menjaganya.
Zelly sulit untuk memejamkan matanya, dia masih terbayang dengan sikap Habibah tadi. Dia benar-benar berharap jika apa yang di lakukan Habibah adalah yang sebenarnya untuk dirinya. Dia berharap jika dia tak di bayangkan sebagai almarhum suaminya. Walaupun hatinya merasakan perih dalam hatinya setiap kali dia menyadari jika wanita yang kini berada didekatnya itu selalu diselimuti bayangan orang lain. Orang yang selalu ada disetiap detak jantungnya, yang ada di setiap tarikan nafasnya. Tapi dia sendiri masih ada ditempat dimana dia bertemu dengan wanita itu. Dia masih berdiri menatap setiap llangkah wanita itu berjalan menuju kebahagiaannya. Tapi dia tak bisa beranjak selangkahpun untuk meninggalkannya, seolah dia benar-benar terikat disana.
Nur...
Seandainya saja apa yang kamu lakukan itu adalah murni karena aku, sungguh bahagianya aku..
Kelembutanmu hanya ada untuk dia yang sudah pergi dari dunia ini, tapi ta pernah pergi dari hidup dan hatimu..
Nur...
Tapi aku tak pernah bisa, setiap kali aku mengingatmu, kaki yang telah aku angkat untuk melangkah ini tak sanggup aku gerakan untuk menjauhi mu...
Apapun yang aku lakukan ini, sungguh tak masuk akal bagi semua orang, tapi aku tak bisa sungguh tak bisa meninggalkanmu..
Di lihatnya Habibah yang terbaring di bawah hanya bergelar sebuah tikar tanpa adanya bantal, berselimut dengan selembar kan yang tipis. Zelly mencoba duduk dengan menahan sakit di tubuhnya akibat dari kecelakaan. Dipandanginya mata Habibah yang tertutup, mata indah yang sejak dulu dirindukannya. Dan kini cahaya mata itu entah hilang kemana. Dia sangat merindukan masa-masa dimana dia selalu bisa menatap wajah imut dan manis dari Habibah. Tapi kini, wajah itu telah tertutupi oleh sebuah batas yang tak akan bisa dia lewati untuk melihatnya seperti dulu. Dan jaya mata itu yang jadi pengobat rindunya, mata indah yang dulu sering melotot padanya dan menatapnya dengan tajam. Kini mata itupun telah kehilangan cahayanya.
__ADS_1
Perlahan disentuh dadanya yang terasa sangat sakit dan perih. Ditekannya dengan meremasnya dengan kuat, ternyata sakitnya dari remasan tangannya tak sebanding dengan sakit yang dirasakannya dalam dadanya. Ditepuk-tepuk nya dengan cukup kuat, sampai membangunkan ibu Sumarni yang memang tidurnya tak bisa mendengar suara sedikit pasti akan terbangun.
" Kenapa nak Zelly? Apa ada yang sakit?" tanya ibu Sumarni sembari menghampiri Zelly yang terkejut dengan pertanyaan dari ibu Sumarni.
" Gak ada apa-apa kok Bu, silahkan dilanjutkan lagi tidurnya. Maaf kalau sudah mengganggu tidur ibu." ucap Zelly merasa bersalah.
" Jangan banyak berfikir, sekarang fokuslah untuk kesembuhanmu dulu." ibu Sumarni mengingatkan Zelly agar kembali beristirahat.
" Terima kasih Bu, saya cuma lelah berbaring." Zelly memberi alasan.
Zelly hanya bisa menundukan wajahnya, dia tak ingin ibu Sumarni mengetahui air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Dia tak pernah menangis karena seorang wanita selain ibunya, tapi saat ini dia bukan saja bisa mengeluarkan air mata karena Habibah , bahkan dia sudah hampir lupa pada hidupnya sendiri. Dia berharap Habibah bisa cepat pulih, dan dia akan berusaha melepaskan diri dari segala perasaan yang kini tengah membelenggunya.
Mungkin aku harus pergi keluar negeri, kalau aku masih di Indonesia aku tetap saja ingin kembali melihatnya dan kembali lagi ketempat ini.
Aku akan hubungi Marcell, siapa tau ada yang bisa aku kerjakan disana nanti.
Yah... Mungkin itu cara yang terbaik untuk benar-benar melepaskannya dariku..
Zelly benar-benar tak bisa tidur sampai terdengar suara bacaan Takhrim dari masjid yang tak jauh dari rumah sakit, tak lama Habibah terbangun dan duduk sejenak. Zelly hanya memperhatikannya sebentar, dia pun kembali menundukkan wajahnya. Dan ibu Sumarni benar-benar memperhatikan hal itu. Dan diapun bisa melihat betapa dalam rasa yang dimiliki oleh Zelly pada putrinya itu.
__ADS_1
Ibu Sumarni membawa Habibah ke mushola yang ada di dalam rumah sakit itu. Zelly hanya bisa menatap kedua telapak tangannya dan mengusap wajahnya dengan lemah. Dia tak tau apa yang harus dia katakan pada Habibah jika nanti dia pulih dan dia pergi meninggalkan Kalimantan. Dia ingin pergi begitu saja, tapi hatinya menolak. Dia ingin menyampaikan banyak hal pada wanita itu. Jika nanti dia rindu, dia cukup merindukannya tanpa ada penyesalan apapun dihatinya. Setidaknya dia telah mengatakan semuanya walaupun dia tau dia tak bisa mengharapkan apapun dari semua itu.