
Setelah hari itu, Habibah berusaha menjalani hari-harinya dengan baik. Sebisa mungkin dia menjauhkan segala rasa sedih dalam hatinya. Selain itu, Habibah melihat semua orang-orang yang menyayanginya terus memberikan perhatian padanya dan juga kehamilannya membuatnya tak bisa untuk mengecewakan mereka. Terutama kedua anaknya Nur Laily dan Zain.
Hari berlalu dan bulan pun berganti, usia kandungan Habibah semakin besar dan semakin dekat pula dengan waktu melahirkan. Dan mereka juga sudah tau jenis kelamin sang jabang bayi dalam kandungan Habibah itu laki-laki.
Tak terasa waktu melahirkan hanya tinggal menghitung hari saja. Semua kebutuhan untuk sang bayi pun sudah dipersiapkan oleh mertua dan saudara-saudara dari Purnomo. Semua sudah dipersiapkan dari sebulan yang lalu. Walaupun Habibah sudah menolaknya, tapi mereka sangat antusias untuk menyambut kelahiran dari anak yang dikandungnya.
Pagi itu, Habibah dan Ayu akan pergi cek kandungan ke klinik terdekat. Apalagi hari kelahiran sang jabang bayi sudah tinggal hitung hari saja, maka Habibah semakin banyak merasa khawatir di kehamilannya yang kedua ini. Ditambah banyak yang mengatakan padanya, jika resiko melahirkannya cukup besar, mengingat postur tubuhnya yang imut. Dikhawatirkan ia tak bisa melakukannya dengan cara yang normal. Ditambah Habibahpun sebelumnya pun telah mengalami hal yang mengkhawatirkan saat melahirkan Zain. Hanya saja, bedanya dengan kehamilan kali ini dia berada ditengah-tengah yang yang menyayanginya..
Disebuah tikungan yang hanya berjarak 50 meter dari klinik yang sedang dituju. Ayu sedikit melambatkan motor nya karena selain itu sebuah tikungan, mereka juga sudah dekat dengan tempat yang dituju. Tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang sedang melaju cukup kencang dari arah berlawanan dengan mereka menyalip sebuah mobil yang kebetulan berlawanan arah juga dengan mereka. Mobil yang melaju cukup kencang itu terkejut saat mengetahui jika dijalur yang ia curi itu ada sebuah motor yang tak lain adalah motor yang sedang dikendarai oleh Ayu dan Habibah. Ayu terkejut dengan munculnya mobil yang melaju cukup kencang itu. Ayu sudah berusaha agar keterkejutannya itu tak membuat oleng motor yang sedang di kendarainya dengan sekuat tenaga. Namun sang pengemudi mobil yang menyalip dari arah berlawanan itu tak berhasil menghindarinya dengan baik. Meski tak terjadi tabrakan, tapi motor yang dikendarai oleh Ayu tersenggol cukup keras juga oleh mobil itu. Yang alhasil Ayu tak mampu mempertahankan keseimbangan motornya. Mau tak mau Ayu pun jadi panik, dan kepanikannya itu mengakibatkan hal yang tak pernah mereka bayangkan. Ayu dan Habibah terjatuh dari motor yang sebelumnya sempat menabrak trotoar.
Posisi saat mereka terjatuh itu kerah sebelah kiri. Yang otomatis posisi jatuhnya Habibahpun sangat fatal, yaitu dengan posisi telungkup karena posisi duduk Habibah yang menyamping.
Brukk...!!
" Astaghfirullah.. Allahuakbar..!" pekik Habibah saat menyadari bahwa dia terjatuh dengan posisi yang berbahaya. Seketika itu juga rasa sakit yang sangat luar biasa menyerang perut Habibah.
" Astaghfirullah mba Ayu...! Tolong mba..!" rintih Habibah pada Ayu yang masih berusaha mengeluarkan kakinya yang terhimpit oleh bodi motor.
" Biibah.. Ya Allah..! Tolong..! Tolong...!" teriak ayu pada orang-orang disekitar tempat kejadian. Dan seketika itu juga banyak orang yang mendatangi mereka dan menolong mereka.
Karena posisi kecelakaan itu terjadi tak jauh dari klinik yang awalnya akan di datangi oleh Ayu dan Habibah. Maka Habibah pun segera dibawa kesana. Nampak darah segar mulai merembes dari pakaian yang dikenakan oleh Habibah.
Bibir Habibah tak henti-hentinya beristighfar dan bertakbir. Matanya terpejam menahan rasa sakit yang luar biasa dengan air mata yang perlahan-lahan mengalir dari ujung matanya yang terpejam. Sementara Ayu segera menghubungi keluarganya yang lain dan mengabarkan perihal kecelakaan itu.
__ADS_1
Hanya dalam waktu 30 menit, semua keluarga sudah berkumpul diluar ruangan UGD. Ayu yang sedang terluka karena kecelakaan itupun sudah tak dapat merasakan sakit yang dirasakan oleh tubuhnya. Dia hanya terfokus pada Habibah yang sekarang sedang berjuang di ruang UGD. Tak satupun yang tak mendoakan Habibah dan juga anak yang dikandungnya itu selamat.
Klek..!!
Pintu ruang UGD terbuka dan keluarlah seorang wanita dengan mengenakan seragam kedokteran lengkap.
" Bagaimana dengan anak kami Bu?" tanya ibu Sumarni dan ibu Sofia hampir bersamaan.
" Begini Bu, pak.. Saudara Habibah mengalami benturan yang sangat keras dibagian perutnya, dan itu sangat berakibat fatal bagi kandungannya. Selain sang ibu mengalami pendarahan yang cukup hebat akibat benturan diperutnya itu, kemungkinan hidup sang bayi dalam kandungan pasien juga sangat kecil. Dan satu-satunya cara yaitu harus di operasi untuk menyelamatkan salah satu dari keduanya. Dan itupun tak bisa dilakukan disini, pasien harus di rujuk secepatnya ke rumah sakit terdekat. Karena kami tak memiliki fasilitas untuk operasi besar." terang dokter itu dengan wajah yang cemas.
" Baiklah dok, lakukanlah yang terbaik.. kami ikut saja apa yang dokter sarankan pada kami selama itu yang terbaik buat nak kami." Jawab pak Rukmana.
" Baiklah, kalau begitu harap tanda tangani surat persetujuan rujukan ini. Karena rujukan yang dilakukan ini sangat beresiko, kami tak bisa menjamin keselamatan keduanya. Kami hanya bisa berusaha yang terbaik saja buat keduanya. " ucap dokter itu sambil menyerahkan surat keputusan rujukan dan pernyataan jika pihak keluarga akan menerima konsekuensi terburuk dan tak akan menyalahkan pihak klinik dalam tindakan rujukan beresiko ini.
Karena jarak rumah sakit dari klinik itu ditempuh dalam waktu yang cukup lama sekitar 1 jam setengah dengan kecepatan rata-rata. Sedangkan saat ini kondisi Habibah yang kritis akibat pendarahan yang di alaminya, juga akibat bayi dalam perutnya yang peluang kehidupannya sangat kecil dan itu juga sangat membahayakan nyawa Habibah jika tak segera dilakukan tindakan operasi.
Sepuluh menit kemudian Habibah nampak di bawa keluar dari ruang UGD dan dimasukan dalam ambulance yang akan membawanya ke rumah sakit terdekat. Ibu Sumarni ikut menemani Habibah. Tak henti-hentinya ibu Sumarni meneteska air mata, hatinya pilu saat melihat anaknya terbaring dihadapannya dengan kedua tangannya terpasang alat medis.
Sebelah kirinya terpasang jarum infus dan sebelah kanannya terpasang jarum yang berasal dari kantung darah yang menggantung diatasnya. Selain itu terpasang pula alat bantu pernafasan karena masa kritis Habibah belum selesai dilalui. Detak jantungnya nampak tak stabil dan bisa dibilang menurun.
Ya Allah....!
Jika aku boleh meminta, jangan biarkan aku menyaksikan kepergian ank ku lebih dulu..
__ADS_1
Biarkanlah aku yang pergi lebih dulu menghadapmu, jangan anak-anak ku.
Aku tau dan sadar jika jodoh, Rizki dan maut itu semua rahasia mu.
Tapi aku tak sanggup jika aku harus menyaksikan anak ku yang pergi lebih dulu dariku.
Maka aku mohon padamu, selamatkan lah anakku. Dan jika memungkinkan selamatkan lah keduanya.
Tapi jika harus di beri pilihan dari keduanya, maka aku mohon selamatkanlah anakku.
Dan jadikanlah cucuku sebagai penolong bagi kedua orang tuanya kelak di akhirat.
Aamiiin...!!
Tak henti-hentinya ibu Sumarni mendoakan Habibah dan anak yang dalam kandungan nya. Fikirannya sudah tak bisa berfikir dengan jernih lagi alias kacau.
***
jangan lupa terus dukung author ya dengan jempol, komen dan votenya 🥰
Kalau bisa dikasih gift juga boleh, biar author lebih semangat buat up nya🥰🥰🙏
Terima kasih 🥰🙏
__ADS_1