
Ini nih Muhammad Zelly Nur Rahman atasan Habibah yang aslinya ganteng cuma terkenal galak dan jutek, padahal diam-diam suka Habibah juga. hehehe..
Nah kalau ini Agus, ketua OSIS saat Habibah duduk di madrasah Tsanawiyah.
Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyerang hatinya Habibah. Seakan ada ruang dalam hatinya yang tiba-tiba menjadi kosong dan hampa. Tak pernah terbayangkan jika hari seperti itu akan dilaluinya. Diapun tak pernah menduga akan mengucapkan kata-kata yang akan melukai dirinya sendiri. Langkahnya sangat gontai menyeret kakinya yang terasa lemah tak bertenaga. Akhirnya seperti ini, tapi mungkin inilah yang terbaik untuk kita mas. Semoga segala luka dan sakit ini akan berbuah manis di kemudian hari. Aamiin..
Sejak hari itu Habibah menjadi lebih pendiam tak seperti biasanya yang selalu mengajak ngobrol karyawan Lapangan harian disaat dia turun untuk berkeliling kini hanya berbasa-basi sekedarnya saja. Dan sejak hari itu gadis itu sangat jarang pulang kerumahnya, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamp tempatnya bekerja. Memang sangat jarang ada gadis yang mau tinggal di kamp, selain berada di tengah-tengah perkebunan sawit yang sunyi juga minim penerangan. Mereka masih menggunakan lentera sebagai penerangan, dan untuk mengisi daya handphone mereka harus antri juga berbayar di sebuah rumah yang memiliki penerangan lampu diesel. Sedangkan dia adalah satu-satunya gadis yang tinggal di kamp itu. Walaupun ada wanita yang tinggal di sana itu adalah wanita yang sudah berkeluarga.
Habibah tinggal bersama dengan seorang wanita paruh baya yang bekerja sebagai buruh harian lepas di bagian perawatan bibit. Wanita paruh baya itu adalah seorang janda, dia sangat menyukai Habibah karena gadis itu selain baik juga berbeda dari gadis pada umumnya. Walaupun di kelilingi banyak pria lajang namun tak pernah terlihat gadis itu mencari perhatian atau bersikap centil didepan mereka. Itu sebabnya gadis itu berbeda dari yang lain. Dengan sikapnya yang sangat menjaga dirinya itu membuat para pria lajang itupun segan dan tak berani menggoda yang berlebihan. Meski ada yang berani menggodanya itu hanya sebatas menggodanya dengan siulan suit-suit atau hanya sekedar memanggil-manggil namanya saja. Tak pernah lebih dari itu.
Zelly yang tau gadis itu berada di kamp itu mulai sering mengirim pesan singkat atau menelponnya walau hanya sekedar menanyakan keadaannya saja. Tapi sejak gadis itu berada di kamp itu, sikap Zelly mulai agak sedikit lebih baik, dia sudah mulai jarang mencari masalah dengan gadis itu dan mulai jarang marah-marah ataupun bersikap jutek lagi pada Habibah. Siapapun yang melihatnya pasti bisa melihat perubahan sikapnya itu. Bahan seorang mandor sempat memberanikan diri untuk menggoda Zelly dengan sebuah pertanyaan yang membuat wajah Zelly memerah karena malu.
" Kayaknya akhir-akhir ini bapak jarang marah-marah seperti dulu ya pak. Jangan-jangan gara-gara cewek itu ya pak? Kelihatannya bapak suka tuh sama dia. Kalau suka akuin aja pak, dari pada lama-lama nanti keburu di embat orang lho.." ucap salah satu bawahannya itu.
__ADS_1
Zelly yang mendengar perkataan itu tanpa dia sadari wajahnya memerah karena malu namun dia gengsi untuk mengakui kalau benar dia mulai menyukai gadis itu.
" Mana ada aku suka dia, aku suka tuh dengan gadis yang lembut bukan yang keras kepala kayak dia. Lagipula siapa yang bakal suka dengan gadis yang suka membantah macam dia itu?" jawab Zelly ketus seraya berlalu meninggalkan bawahannya yang menahan tawa demi melihat ekspresi wajah atasannya itu.
" Kalau suka akuin aja bos, daripada nanti nyesal kalau sudah di embat orang.." serunya kepada atasannya itu yang dia yakin Zelly mendengar ucapannya itu.
" Dasar bos gengsian, ngaku suka aja susah. Kalau aku masih bujang aku juga mau kalau sama dia..." ucap mandor itu berbicara sendiri.
Tak terasa akhir pekan telah tiba, dan sore itu hujan sangat deras dan lama. Karyawan harian tetap dan buruh lepas sudah pulang sejak jam dua. Yang tinggal hanya beberapa orang yang memang tinggal di kamp dan beberapa orang yang sedang mengambil kerja lembur. Salah satu yang belum pulang itu adalah Zelly. Habibah sudah kembali ke kamp nya sejak tadi saat hujan belum turun. Gadis itu sedang sibuk memasak untuk makan malamnya. Tiba-tiba handphone nya berdering nyaring.
" Assalamu'alaykum.." sapanya saat menerima panggilan itu.
" " Cuma rebus daun singkong, dadar telur dan buat sambal. Kenapa tanya menu makan saya? " tanya gadis itu heran dengan pertanyaan yang tak biasa itu.
" Aku habis Maghrib mau minta makan sama kamu, aku kelaparan di sini.." balas suara itu lagi
" Kelaparan? Memang bapak ada dimana kok bisa kelaparan?" gadis itu lebih heran lagi saat mendengar kata kelaparan dari orang yang berada di ujung telpon itu.
__ADS_1
" Aku masih dikantor, aku belum sempat pulang sudah hujan deras maka aku gak bawa jas hujan dan sekarang aku benar-benar kelaparan. Entah kapan hujan ini berhenti." keluhnya kesal.
" Kasihan anak mama kelaparan, tapi kalau memang bapak bisa makan dengan menu seperti ini ya datang saja kemari. Nanti saya kasih tau Bu Sari kalau bapak mau makan disini." jawab Habibah dengan santainya. Ada rasa kasihan juga saat tau orang yang paling menyebalkan ditempat kerjanya itu kelaparan.
" Bu, pak Zelly katanya mau makan bareng kita . Dia sekarang masih dikantor, gak bisa pulang dia.. jadi sekarang katanya kelaparan, jadi nanti habis Maghrib dia mau minta makan kesini." ucap Habibah pada Bu Sari yang tinggal satu kamp dengannya itu.
" Ya gak apa-apa Nur kalau dia mau dan bisa makan makanan kita ini biarkan dia kesini. Biar sekalian dia tau kalau keadaan kita ini begini, Siapa tau dengan dia tau keadaan kita dia bisa lebih bersikap baik pada kita." kata wanita paruh baya itu lagi.
Setelah Maghrib Zelly benar-benar mengunjungi kamp Habibah. Sebuah kamp sederhana yang beratap dan berdinding terpal saja. Setelah dipersilahkan masuk dia terkejut melihat keadaan didalam kamp itu. Hanya ada sebuah dipan dengan sebuah tikar dan dua bantal tanpa kasur dan sebuah bangku kayu dengan meja kayu seadanya. ada sebuah dapur kecil dengan tungku kayu bakarnya yang berlantaikan tanah.
" Gak usah pasang wajah begitu pak , biasa sajalah. Ketahuan belum pernah merasakan hidup susah jadi lihat yang begini heran." kata Habibah membuyarkan lamunan Zelly.
" Kamu ini masih gadis, bagaimana bisa kamu tinggal di tempat seperti ini? Biasanya gadis paling anti untuk tinggal di tempat seperti ini. Dan kamu tidur ditempat begini, apa badanmu gak sakit tidur tanpa kasur?" tanya Zelly akhirnya demi melepaskan rasa penasarannya selama ini tentang gadis itu yang memilih tinggal di kamp tenda semacam itu.
" Kami sudah biasa pak, jadi gak ada alasan. Yang penting kami gak kepanasan dan kehujanan itu sudah cukup. Senang itu datangnya dari hati pak bukan dari apa yang kita punya. Walaupun kita hidup dalam kemudahan dan kemewahan tapi kalau hati kita tak tenang apa kita bisa senang dan bahagia? Suasana di sini itu damai, itu sebabnya keterbatasan ini tak jadi penghalang buat kami merasa senang. Intinya hati kita harus pandai-pandai bersyukur." entah kenapa ucapan Habibah begitu indah terdengar ditelinga Zelly. Dia baru mengetahui sisi lain dari pola pikir gadis itu, memang berbeda bahkan semakin bertambah perbedaan antara dirinya dengan gadis-gadis lainnya. Ucapannya itu sangat bermakna baginya, dan semakin menambah rasa sukanya pada gadis itu. Hanya saja dia masih tak berani untuk mengakuinya.
Malam itu Zelly benar-benar merasakan apa itu kesederhanaan yang menyenangkan. Di kamp tenda yang sangat sederhana itu dia mulai belajar sebuah kata syukur. Dan malam itu akhirnya dia menginap di salah satu kamp tenda milik seorang mandor yang kebetulan masih lajang dan tinggal sendiri. Terimakasih tuhan, kau telah pertemukan aku dengan seorang gadis yang cantik wajah juga hatinya seperti dia. Darinya aku telah banyak belajar banyak hal yang selama ini aku tak tau dan mengerti. Sayangnya dia sudah milik orang.. Dan akhirnya dia terlelap juga, karena ketenangan yang ada juga karena penerangan yang minim membuat mata semakin mudah untuk terpejam. Bahkan dia tak menyadari jika dia tidur hanya beralaskan tikar dan tanpa adanya kasur yang nyaman seperti biasanya dia tidur. Bahkan suasana itu membuatnya sangat nyenyak dalam tidurnya.
__ADS_1
***
kenyamanan itu tak harus berasal dari kemewahan, yang buat nyaman itu rasa syukur kita pada apa yang kita miliki🥰🥰