Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Pergi tak kembali


__ADS_3

Keesokkan harinya Purnomo telah siap dengan kopernya yang akan dia bawa kembali ke pulau Sumatera tempatnya mencari nafkah. Sangat berat rasa hati untuk meninggalkan istri dan anaknya jauh ke perantauan. Setelah sarapan, Purnomo berpamitan kepada kedua keluarga yang memang pagi itu sarapan bersama dirumah orang tua Habibah. Dipeluknya satu persatu anggota keluarganya. Purnomo memeluk Habibah dengan pelukan yang erat seakan enggan untuk melepaskannya lagi.


" Sayang.. Kalau aku pergi dan tak bisa kembali, maka kamu harus hidup bahagia bersama anak-anak walau tanpa aku disisimu. Tapi satu yang tak akan pernah bisa pergi darimu adalah rasa cinta dan sayangku. Jadi kamu harus hidup dengan baik walaupun tanpa aku disisimu, jangan hilangkan senyuman yang sekarang menghiasi wajahmu. Karena kalau kamu tersenyum itu sangat manis." bisik Purnomo pada Habibah disela-eratnya dekapan yang diberikan Purnomo.


Entah mengapa Habibah merasa tak nyaman saat mendengar perkataan dari suaminya itu. Perkataannya seolah kepergiannya kini bukan untuk kembali lagi padanya melainkan akan pergi selamanya.


" Mas kok ngomongnya gitu sih mas? Tentu saja mas harus kembali, bukankah mas sudah janji kalau kita akan bersama sampai kita tua nanti? Jadi jangan bilang begitu lagi, saya gak suka dengarnya." protes Habibah.


" Sayang... Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan setiap perpisahan belum tentu harus berjumpa lagi. Itu sudah ketetapan, sayang.. Semoga kita masih bisa berjumpa lagi, dan kalaupun kita tak berjumpa lagi kamu harus ingat kalau aku sangat-sangat mencintaimu. Aku titipkan anak-anak padamu ya, didiklah dengan baik. Nanti kalau aku sudah sampai ditempat tujuan aku akan segera memberi kabar padamu."


" Papa... udah dong peluk Umanya. Kayak mau gak ketemu lagi aja.." Nur Laily memprotes ayahnya yang sedang berlama-lama memeluk Habibah dihadapannya.


Perlahan dilepaskan pelukannya pada Habibah, dipandangi wajah putri kecilnya itu dengan seksama seolah dia ingin menyimpan setiap inci dari wajahnya dalam memori ingatan dan hatinya dengan baik. Diusap kedua belah pipi nya dengan lembut dan dikecupnya kening serta kedua belah pipi chubby nya dengan takdzim.


" Kalau papa gak ada, anak papa gak boleh nakal ya. Harus dengar dan nurut apa yang kata Uma juga eyang dan kakek-nenek disini. Harus sayang sama adik Zain dan juga pada semuanya. Jadilah anak papa yang shaleha, anak papa kesayangan papa... " entah kenapa tiba-tiba hati Purnomo seperti ada sesuatu yang membuatnya sangat berat untuk meninggalkan keluarganya. Terbesit ada rasa takut yang tak bisa dikatakan apa sebabnya.


" Apa papa harus pergi? Gak bisakah kalau papa gak pergi?" tanya Nur Laily pada papanya..


" Walaupun papa gak ingin meninggalkan kalian, tapi papa tetap harus pergi sayang. Jadi baik-baik lah walaupun tanpa adanya papa.." setelah berpesan beberapa kata untuk anak dan istrinya, Purnomo pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Habibah dengan menggunakan travel yang telah dipesannya kemarin.


Setelah kepergian Purnomo,. Habibah merasakan kegelisahan yang tak biasa dia rasakan. Begitupun dengan Nur Laily, anak itu tampak bad mood setelah kepergian ayahnya. Bahkan dia tak mau bermain bersama Zain seperti biasanya. Makan siang pun terlewatkan begitu saja, dia tak memperdulikan Habibah dan juga neneknya yang berulangkali membujuknya untuk makan. Tiba-tiba saja gadis kecil itu menjadi pendiam, tak seperti biasanya yang ceria.


Entah mengapa Habibah kembali teringat akan pesan-pesan yang diucapkan oleh suaminya sebelum pergi pagi tadi.


Kenapa mas Pur mengucapkan pesan yang seperti itu? Seakan kita tak akan bertemu lagi. Apakah itu hanya perasaanku saja atau karena aku terlalu merasa khawatir akan kepergiannya ini? Semoga semua rasa khawatir ku ini hanya karena perasaanku yang tak ingin berpisah darinya saja. Semoga Allah menjaganya hingga kami bisa bersama lagi. Semoga Allah mudahkan dia dalam pengajuan mutasinya nanti.


Ya Allah....


Tenangkan lah hatiku ini...


Hilangkan lah kerisauan dalam dadaku ini...

__ADS_1


" Uma.....! Uma....! Uma....!" terdengar suara Nur Laily memanggil Habibah berkali-kali dengan air matanya yang berderai membasahi pipinya yang chubby.


" Kenapa sayang..? Ada apa?" Habibah bergegas menghampiri gadis kecilnya itu dan segera memeluknya dengan lembut seraya membelai kepalanya.


" Uma.... bisa telpon papa gak? Aku kangen papa.." katanya disela isakan tangisnya yang entah kenapa terdengar begitu menyayat hati.


" Sebentar ya sayang.. Kita coba telpon papa.. Ayo sini, duduk dulu.. Jangan nangis lagi ya, kalau papa tau putri tersayangnya bagus begini nanti papa gak tenang kerjanya, kan kasihan papa. " Habibah membawa Nur Laily duduk di pangkuannya.


Habibah mencoba untuk menghubungi nomor suaminya hingga berkali-kali namun tetap belum bisa dihubungi.


Seharusnya mas Pur sudah bisa dihubungi, ini sudah 4 jam sejak kepergiannya. Seharusnya dia sudah ada ditempat yang ada signalnya. Tapi kenapa belum bisa dihubungi juga? Apa mas Pur lupa mengaktifkan handphonenya?


Ya Allah...


Semoga tak terkadi apa-apa dalam perjalannya.


Tanpa disadari Habibahpun mulai merasa gelisah. Nur Laily yang menunggu dalam pangkuannyapun merasakan kegelisahannya.


" Kenapa Uma? Kenapa papa masih belum bisa ditelpon?" tanyanya begitu menyadari jika papanya masih belum bisa dihubungi.


Beberapa jam kemudian saat menjelang shalat Maghrib tiba, suasana mendadak menjadi sangat ramai saat sebuah ambulance tiba masuk ke pekarangan kediaman keluarga Purnomo. Banyak orang yang datang menghampiri rumah keluarga Purnomo karena penasaran. Sebab tak biasa ada ambulance datang ke tempat tinggal mereka kecuali ada yang meninggal. Dan hal mengejutkan itupun tentu sangat mengejutkan bagi keluarga Purnomo itu sendiri. Dan lebih membuat syok lagi saat tahu apa yang terjadi.


" Assalamu'alaykum...!." Seru petugas yang menyertai ambulance itu didepan pintu rumah keluarga Purnomo.


" Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh..." Bu Sofia yang baru saja selesai mengambil air wudhu membukakan pintu. Dan dia merasa terkejut karena ada petugas medis dan mobil ambulance didepan rumahnya.


" Apa benar ini rumah keluarga dari bapak Purnomo?" tanyanya untuk memastikan.


" Iya benar pak.. Ada apa ya pak?" ibu Sofia merasa sudah tak nyaman dengan pertanyaan dari petugas itu. Dan tak lama ada seorang petugas kepolisian yang menghampirinya.


" Maaf Bu,. kami datang kemari untuk mengabarkan bahwa bapak Purnomo mengalami kecelakaan, mobil yang membawanya mengalami rem blong dan masuk kedalam jurang. Dan bapak Purnomo yang kebetulan duduk dikursi depan terjepit dan meninggal ditempat kejadian." petugas kepolisian itu menjelaskan sembari menyerahkan beberapa berkas yang berkaitan dengan kecelakaan itu dan sebuah surat kematian yang dikeluarkan oleh sebuah rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Bagai dunia runtuh seketika saat Bu Sofia mendengarkan semua penjelasan dari petugas kepolisian itu. Seperti ada sebuah beban besar yang tiba-tiba menimpa tubuhnya hingga tak mampu menopang tubuhnya lagi dan ambruk terduduk dilantai. Rani yang baru saja sampai dihalaman rumah, segera berlari menghampiri ibu mertuanya yang terduduk lemas di depan pintu rumah.


" Mama... Ada apa ini ma?" tanyanya bingung melihat ada petugas medis dan seorang petugas kepolisian beserta sebuah mobil ambulance didepan rumahnya. Dan mendapati ibu mertuanya dalam kondisi yang pastinya tak baik.


" Itu... Kakakmu... Kakakmu..." tiba-tiba ibu Sofia tak sadarkan diri. Bu Sofia kebetulan sendiri dirumah, suaminya sedang ada dimushola untuk shalat berjamaah. Begitu pula dengan anak laki-laki nya suami dari Rina, dia juga sedang di mushola.


" Pak, tolong bantu angkat ibu saya pak kedalam..!" seru Rina meminta pada petugas untuk membantunya mengangkat ibu Sofia kedalam rumahnya. Ibu Sofia di baringkan disofa panjang yang ada diruang tamu. Sementara Rina segera menghubungi Ayu dan juga Habibah agar segera datang kerumahnya.


Tak sampai 15 menit Habibah sudah sampai dirumah keluarga Purnomo. Dia bingung melihat ada sebuah mobil ambulance dan ada petugas kepolisian juga disana. Habibah segera menghampiri ibu mertuanya yang sedang terbaring tak sadarkan diri di sofa. Dan dia juga melihat ada sesosok tubuh yang ditutupi kain putih yang ada diruang tengah rumah itu. Dan ada Rina yang sedang menangis disana. Habibah benar-benar bingung dengan situasi itu. Hatinya merasa semakin tak nyaman ketika melihat sosok tubuh yang tertutupi kain putih itu. Entah kenapa tiba-tiba dia teringat pada suaminya, dia teringat dengan semua yang dikatakannya pagi tadi saat akan pergi meninggalkan rumahnya. Habibah tak berani mendekati sosok yang ditutupi itu, dia hanya duduk dibawah sofa dimana ibu mertuanya terbaring. Digenggamnya tangan ibu mertuanya seolah dia mencari kekuatan dari tangan ibu mertuanya itu.


Ya Allah...


Ini gak seperti yang aku bayangkan kan?


Itu bukan dia kan? Dia baik-baik saja kan?


Itu pasti orang lain.. Dia sedang dalam perjalanan ke Sumatera sekarang.


Perlahan air matanya mengalir, setiap kali dia berharap jika yang ditutupi kain putih itu bukan suaminya, entah kenapa hatinya semakin sakit. Padahal dia belum melihat siapa yang ada dibalik kain putih itu.


Perlahan-lahan mulai ada orang yang datang untuk melihat apa yang terjadi dirumah itu. Sebuah mobil ambulance yang ada didepan rumah itu sudah cukup untuk memancing rasa penasaran warga sekitar.


Tak lama suami ibu Sofia dan adik Purnomo pulang dari mushola. Begitu mengetahui ada yang tak beres, mereka melangkahkan kaki dengan setengah berlari memasuki rumah. Dilihatnya istrinya sedang terbaring tak sadarkan diri disofa dengan Habibah yang duduk didekatnya sambil menangis. Dan dilihatnya juga Rina yang duduk tak jauh dari sosok yang ditutupi kain putih didepannya membuat suasana menjadi semakin mengacaukan fikiran.


" Bapak apakah orang tua dari bapak Purnomo?" tanya petugas kepolisian yang sejak tadi menunggu kedatangannya karena dia memerlukan tanda tangan dari keluarga Purnomo.


" Iya benar, ada apa ya pak?" tanyanya bingung.


" Begini pak, kami datang kemari karena mengantar putra bapak yang mengalami kecelakaan........." suara polisi itu sudah tak bisa didengar lagi oleh ayah Purnomo. Kini dia sadar siapa yang ada diruang tengah rumahnya. Dia menerima berkas yang diberikan oleh petugas kepolisian itu dan menandatangani nya dengan tangan yang bergetar.


Rasa tak percaya menyergap hatinya, sebab baru tadi pagi Purnomo memeluknya saat akan berpamitan akan kembali ke Sumatera untuk urusan pekerjaannya. Baru tadi pagi anaknya itu tersenyum manis padanya saat mengatakan agar dia menjaga kesehatannya baik-baik.

__ADS_1


***


Ajal itu akan datang tak mengenal usia, waktu dan tempat. Semua sudah ditetapkan sebelum kita lahir kedunia ini.


__ADS_2