
Sementara itu Habibah terheran-heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Zelly padanya hari itu. Dia itu kenapa sih? Bagaimana bisa dia semarah itu hanya karena saya tak mempunyai nomor handphone nya. Dia sendiri belum pernah memberikan nomor handphone nya. Lalu kenapa dia harus marah-marah begitu? Haih.. Terserahlah.. Gumamnya sambil meletakkan handphone nya di atas meja belajarnya. Baru saja handphone itu diletakkan, handphone nya kembali berdering. Dilihatnya sebuah nomor baru yang belum tersimpan di handphone miliknya.
" Assalamu'alaykum.." sapanya mengucapkan salam ketika menerima panggilan itu.
" Wa'alaykumussalam.." jawab suara yang di seberang sana. Suara itu terdengar sangat familiar ditelinganya.
" Kamu apa kabar bibah? Ini aku Ririn, aku mau kasih kabar kamu bahwa Minggu depan aku akan menikah dengan mas Pur. Kalau kamu bisa kamu hadir ya? Kami akan senang jika kamu bisa hadir di acara pernikahanku." kata-katanya terdengar begitu bahagia.
" Sepertinya saya gak bisa datang Rin, selain sangat jauh saya juga sudah bekerja di sini. Jadi gak bisa sembarangan izin." balas Habibah memberi alasan.
" Baiklah kalau memang begitu keadaannya, aku gak bisa paksa kamu juga. Cuma jangan lupa do'akan kami ya.." ucapnya lagi tanpa beban.
" Insya Allah saya selalu do'akan untuk kebahagiaan kalian. Baiklah Rin, berhubung sudah malam saya mau istirahat sekarang besok saya harus bangun subuh dan kerja. Assalamu'alaykum.." ujarnya seraya menutup panggilan dari temannya itu. Hatinya sangat sakit saat mendengar berita ini, tiba-tiba air matanya jatuh menetes membasahi pipinya. Walaupun dia tak ingin menangis tapi entah kenapa air matanya tetap saja mengalir. Bahkan disaat bahagianya pun dia tak mau bicara langsung? Semarah itukah dia? Padahal dia sudah berjanji untuk mengundangku saat dia menikah nanti. Tapi sekarang? Dia melupakan janjinya itu.. Dia benar-benar tak ingin berhubungan lagi dengan gadis sepertiku. Rintihnya pilu, entah kenapa seperti kehilangan sesuatu di satu sisi ruang dalam hatinya.
Habibah berjalan menuju laci besar dilemari pakaiannya dan mengeluarkan sebuah figura yang gambarnya sudah mulai memudar. Dia memperhatikan foto yang terdapat dalam figura itu dengan hati yang gamang. Foto itu diambil saat lima tahun yang lalu. Saat ulang tahun seorang teman sekolahnya. Saat itu Purnomo mengantarkan dirinya kepesta ulang tahun temannya itu. Dan disanalah mereka mengambil foto mereka berdua. Sebuah foto yang di berikan Purnomo padanya sebagai kenang-kenangan. Tapi kini dia sudah tak ingin menyimpannya lagi.
__ADS_1
Di ambilnya sebuah koran lama yang tak terpakai, dia membungkus figura itu dengan kertas koran itu lalu membungkusnya lagi dengan sebuah kertas kado berwarna hitam bercorak bintang yang cantik. Setelah itu dia, menyiapkan untuk diberikan kepada Purnomo.
Setelah apel pagi, Habibah tak meladeni ocehan Zelly seperti biasanya yang selalu meencari gara-gara untuk bisa berdebat dengannya. Zelly merasa gadis itu lebih cuek dan pendiam dari biasanya. Dia hanya akan bicara jika dia merasa dia perlu bicara saja dan diam jika dia merasa tak perlu berbicara. Zelly merasa kehilangan gadis yang selama ini dia kenal. Tak ada yang membantah ucapannya dan membalas setiap perkataan pedasnya. Hari itu gadis itu bagai seorang yang asing dihadapannya.
Akhirnya dia hanya bisa mengirim pesan singkat dengan ponsel nya untuk berbicara dengan Habibah.
" Assalamu'alaykum.. Hari ini kamu kenapa? Apakah kamu marah soal semalam? Kalau iya, aku minta maaf ya. Mungkin gak seharusnya aku marah sama kamu, jadi jangan diam lagi ya kalau aku ajak bicara? Bisakan? Apakah ucapanku kelewatan? Aku minta maaf kalau kelewatan. " tulisnya dengan harapan gadis itu tak mengabaikannya lagi. Habibah hanya membaca pesan yang dikirimkan ke padanya itu tanpa membalasnya. Hanya saja dia tak menyangka jika seseorang Zelly bisa mengatakan kata maaf meski hanya lewat sebuah pesan singkat.
Sepulang kerja seperti biasa dia segera mandi dan shalat ashar. Lalu bergegas ke dapur untuk memasak makan malam. Setelah shalat Maghrib dia mengambil kotak figura yang sudah dia bungkus rapi lalu membawanya menuju rumah orang tuanya Purnomo. Sesampainya didepan pintu rumah orang tua Purnomo dia sempat mematung sebelum akhirnya dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu rumah itu dibuka oleh seorang wanita paruh baya.
" Nur, kamu kapan pulang? Kok gak main kesini kalau sudah pulang?" sambutnya sambil memeluk Habibah dengan erat.
" Maaf Bu, saya datang kesini untuk mengantar ini, saya ingin mengembalikan ini pada mas Pur. Karena saya gak bisa hadir di pernikahannya, maka saya titipkan ini sama ibu disini. Kalau dia pulang nanti tolong sampaikan pada mas Pur kalau saya sudah gak bisa simpan ini lagi." lanjutnya lagi sambil menyerahkan kotak figura yang dia bawa tadi.
" Kenapa bukan kamu nak yang jadi menantuku? Apa kamu gak suka sama anakku? Anak ku sangat suka sama kamu dan aku juga bapaknya sangat suka sama kamu. Kami berharap kamu yang jadi menantu kami bukan orang lain." kata ibu itu sambil menggenggam tangan Habibah seakan tak merelakan anaknya menikahi gadis lain.
__ADS_1
" Mungkin kami memang bukan jodohnya Bu, siapapun yang berjodoh dengan mas pun insya Allah itu yang terbaik dari Allah. Do'akan yang terbaik buat mas Pur dan istrinya nanti Bu, jangan fikirkan yang lain-lainnya." ucap Habibah pelan, sebenarnya kata-kata itu bukan hanya ditujukan pada ibunya Purnomo saja melainkan untuk dirinya sendiri juga.
" Aku sudah anggap kamu sebagai menantuku sejak lama, sampai kapanpun kamu akan aku anggap sebagai menantu buatku walau kamu gak nikah sama anakku. Dihatiku kamulah menantuku, dan satu lagi jangan panggil aku ibu lagi tapi panggil aku mama, yah?" ucap ibu Purnomo lagi. Ucapannya menyesakkan dadanya, dia benar-benar tak menyangka jika harapan kedua orang tua Purnomo padanya itu sangat besar.
" Baiklah ma, saya akan panggil mama mulai sekarang. Tapi saya mohon jangan pernah membandingkan saya dengan istri mas Pur. Bagi saya istrinya mas Pur adalah yang terbaik itu sebabnya mereka berjodoh. Saya tetaplah orang lain, tapi saya juga bisa menganggap keluarga disini seperti keluarga saya sendiri dan mama juga bapak adalah orang tua saya." begitu lembut gadis itu mengucapkan kalimat-kalimat itu, tapi begitu menyayat saat sampai dihati.
" Kenapalah kalian ini tak berjodoh, bahagianya aku jika kalian bisa menikah" keluh ibu Purnomo lagi seakan tak mengikhlaskan ketidak berjodohan anaknya dengan gadis yang berada dihadapannya itu.
" Sudahlah ma, jangan disesali.. Ini sudah kehendak Allah. Tak boleh menyesalinya. Kan sekarang saya tetap jadi anak mama juga kan? Saya juga sudah bertunangan ma, mungkin gak lama lagi saya juga akan menikah " hibur Habibah.
" Kalau nanti kamu gak bahagia dengan suamimu, dan bercerai kamu apakah kamu mau menikah dengan anakku? Kalau kamu mau, biar aku yang bicara dengan dia nanti" ucap ibunya itu mengejutkan Habibah.
" Ma, do'akan saya bahagia. Masa nikah aja belum mintanya saya cerai sih ma? Lagi pula saya gak mungkin mengganggu rumah tangga orang hanya demi kebahagiaan sendiri ma" ucap Habibah selembut mungkin agar wanita paruh baya itu tersinggung.
Sepulang dari kediaman keluarga Purnomo, Habibah merenungi apa yang sudah dibicarakan dengan ibunya Purnomo tadi. Rencana Allah itu yang paling sempurna, semoga kalian bisa bahagia mas Pur. Doanya dalam hati.
__ADS_1
***
cinta tak harus memiliki😭😭