
Sudah seminggu sejak hari dimana Ricky menceritakan masalah yang menyebabkan Habibah pergi, ibunya nampak terlihat dingin padanya dan juga pada Nelly. Semua orang didalam rumah itu bisa melihatnya dengan jelas atas perubahan sikap ibu Karin itu. Hanya saja tak ada yang berani untuk berbicara walau hanya sekedar bertanya apa sebabnya. Terutama Ricky dan Nelly, karena mereka sangat faham alasannya karena apa. Dan hari itu adalah hari dimana ibunya akan pulang kekota asal ibunya karena sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya hanya demi untuk menemani anaknya dan memastikan jika anaknya pulih dengan cepat. Yah, walaupun sekarang Ricky sudah pulih meski belum pulih sepenuhnya, tapi itu sudah cukup bagi Ricky untuk kembali beraktivitas seperti biasa. Dia harus cepat kembali ke tempatnya bekerja.
" Nak.. ibu akan pulang hari ini. Tolong antarkan ibu ke bandara, ibu sudah terlalu lama disini. Pekerjaan ibu sudah lama ditinggalkan, kamu juga sudah jauh lebih baik. Jadi tak ada alasan bagi ibu untuk tetap berada di sini." ucap ibu Karin pada Ricky.
" Baik Bu, aku akan antar ibu ke bandara." jawab Ricky singkat.
Tak berselang lama ibu Karin sudah selesai berkemas, dia segera berpamitan pada Syafi'i dan menyalami Ainun dan juga Nelly. Nelly tak kuasa menahan perasaannya untuk meminta maaf kepada ibu mertuanya itu.
" Maafkan saya Bu, saya tak bermaksud untuk menyakiti hati siapapun. Saya janji akan memperbaiki semua kesalahan-kesalahan yang sudah saya lakukan dan berjanji tak akan pernah melakukannya lagi." ucap Nelly sambil memeluk ibu mertuanya, air matanya berderai sebagai tanda ketulusannya dalam menyesali semua perbuatannya.
__ADS_1
" Sudahlah.. Ibu tak mempermasalahkannya lagi. Toh kamu sudah menyadari letak kesalahannya dimana. Sekarang yang terpenting jaga suamimu baik-baik, jangan sampai keadaannya kembali memburuk. Ibu harus berangkat sekarang." ucap ibu Karin datar. Setelah itu ibu Karin segera keluar meninggalkan Nelly yang seakan belum bisa melepas kepergian ibu mertuanya itu, sebab dia masih merasakan sikap dingin dari mertuanya itu. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti hingga halaman rumahnya. Ricky mengantarkan ibunya menggunakan sepeda motonya, karena ibunya tak mau menggunakan taxi untuk mengantarkannya ke bandara.
Sepanjang perjalanan menuju ke bandara ibu Karin hanya diam membisu, Ricky benar-benar tak mengerti apa yang sedang difikirkan oleh ibunya. Karena dia sendiri belum pernah melihat ibunya bersikap seperti itu pada dirinya. Sesampainya di bandara, ibunya masih diam. Ricky benar-benar tak tahan dengan sikap ibunya itu. Sebelum ibunya memasuki ruang tunggu bandara, Ricky menarik lengan ibunya dengan lembut.
" Ibu... Aku mohon jangan jadikan aku orang asing seperti ini Bu. Aku tahu kesalahanku, tapi tolong Bu jangan perlakukan aku seperti ini." ucapnya memelas.
" Memangnya ibu memperlakukan kamu seperti apa? Ibu hanya tak ingin menyulitkanmu lagi. Saat ini ibu hanya ingin cepat pulang dan mengurus pekerjaan. Ibu hanya mau kamu "mengurus" istrimu itu baik-baik. Sudahlah, ibu harus masuk segera cek in sekarang. Kamu pulanglah dan hati-hati dijalan." ibunya masih berbicara dengan nada yang sangat datar. Perih rasa hati Ricky melihat sikap ibunya itu, diapun memeluk ibunya dengan erat seoalah dia ingin mengatakan jika dia merindukan ibunya yang selalu bersikap hangat padanya dan mengomelinya jika dia melakukan kesalahan. Dan dengan berat hati, akhirnya dia melepaskan pelukannya dan menatap punggung ibunya menjauh dan hilang dibalik pintu ruang tunggu bandara. Dengan langkah yang gontai Ricky melangkahkan kakinya menuju motornya yang diparkir tak jauh dari terminal bandara. Ricky melajukan sepeda motonya dengan membawa hatinya yang gundah.
Sementara Zain terlihat lebih bahagia berada disana, sebab ada beberapa sepupunya yang hampir seusia dengannya begitupun dengan anak-anak tetangga sekitar rumahnya biasa bermain dihalaman rumahnya. Jadi suasana hari-harinya tentulah ramai. Ditambah orang tua Habibah kini memiliki rumah kontrakan dua lantai dengan sepuluh pintu didekat rumahnya. Menambah keramaian disekitar tempat tinggalnya. Dona yang masih duduk di bangku SMA banyak membantunya untuk mengantar pesanan customer. Kadang jika Laily sedang berada dirumah saat liburan pun akan membantunya dalam membuat kue-kue atau catering. Ibunya juga sering membantunya, karena Sekarang ibunya lebih banyak berada dirumah tak seperti dulu yang lebih banyak dikebunnya. Sekarangpun ayahnya sudah memiliki pekerja sendiri dikebunnya. Itu sebabnya ibunya kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama Habibah dan cucu-cucunya.
__ADS_1
" Usahamu lumayan juga ya bibah, cukup cepat berkembangnya. Apalagi usaha seperti ini masih jarang ada disini, dan kalaupun ada masih belum sebervariasi buatanmu. Ibu hanya tak tau saja kalau kamu ternyata punya bakat seperti ini. Yah.. mungkin karena kamu terlalu lama hidup diluar, kamu sudah terbiasa berjuang sendirian sampai rasa-rasanya ibu tak mengenal anak mama sendiri. Bahkan disaat-saat tersulit mu kami tak ada untukmu. Maafkan kami nak.." ibunya sangat terharu dengan perjuangan Habibah dalam menjalani kehidupannya yang tak mudah dari sejak remaja. Ada rasa bersalah dalam hati ibunya, karena entah kenapa diantara anak-anaknya hanya Habibah yang tak mendapatkan semua yang seharusnya dia dapatkan seperti saudara-saudaranya yang lain. Usianya masih remaja saat dia harus mengambil pilihan untuk pergi merantau ke kota dan bekerja disana disamping waktunya bersekolah. Saat bekerja di perusahaan sawit disekitar tempat tinggalnya pun dia tinggal di kamp tak mau tinggal dirumahnya. selepas itu hingga menikah dan menjanda diapun lebih memilih tinggal terpisah dari orang tuanya. Separuh hidupnya dihabiskan Habibah untuk hidup mandiri tanpa menggantungkan hidup pada orang tuanya. Bahkan kini saat dia kembali pun, dia memiliki usahanya sendiri.
" Tak apa ma.. itu berarti hidup bibah selama Bibah diluar sana gak sia-sia kan? Toh bibah senang, bibah bisa kasih tunjuk pada semua orang yang dulu selalu merendahkan Bibah,. kini mereka bisa melihat jika orang yang direndahkan dan disepelekan ini bukanlah seorang pecundang yang payah." jawab Habibah dengan menggenggam tangan ibunya seraya tersenyum dengan manisnya. Dia ingin mengatakan pada ibunya jika dia tak masalah dengan semua kesulitan-kesulitan yang telah dia hadapinya selama ini dan dia baik-baik saja.
" Mama adalah tauladan kesabaran dan alasan kenapa Bibah bisa seperti sekarang. Mama adalah idola Bibah, Bibah ingin memiliki kesabaran seperti yang mama punya. Jadi doakan saja agar Bibah bisa memiliki kepribadian yang lebih baik lagi kedepannya, dan doakan agar usaha Bibah ini lancar ya ma.." Habibah memeluk ibunya dengan penuh kehangatan. Dan itu cukup untuk membuat ibunya benar-benar terharu karenanya.
Beberapa hari kemudian, Habibah dikejutkan dengan sesuatu yang tak pernah dia bayangkan dan fikirkan sama sekali. Yaitu kedatangan seseorang yang sudah hampir dia lupakan, seseorang yang selalu membuatnya bersusah hati. Seseorang yang selalu ingin dia hindari, hanya saja sekarang dia tak bisa melakukannya lagi. Dia tak bisa lari atau bersembunyi darinya, mau tak mau dia harus menghadapinya.
Kenapa dia ada disini? Sejak kapan dia ada disini? Bagaimana sekarang aku harus menghadapinya? Aku harus bagaimana sekarang?
__ADS_1
***
jangan lupa sama jempolnya ya, dan isi juga kolom komentarnya terus vote.. terima kasih banyak atas dukungannya🥰🥰