Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Itu "Dia"


__ADS_3

Semua sesi tanya jawab sudah berakhir untuk hari ini. Tinggal menunggu pengumuman hasil penilaian setelah shalat ashar nanti. Semua sudah nampak lelah, tak terkecuali Nur Laily dan Habibah. Setelah absensi dan menerima kotak snacks, Habibah dan Nur Laily meminta izin untuk ke mushola tempat mereka shalat Dzuhur tadi. Dan sambil menunggu shalat ashar, mereka menyempatkan diri untuk baring sejenak untuk meluruskan pinggang yang sudah serasa patah karena dua jam hanya duduk diam saja.


" Aaahhh....!! Enaknya bisa baring begini ya , Uma? Rasanya sudah gak pengen bangun dan tidur. Disini tempatnya nyaman kan , Uma? Sayang kita gak bisa lama-lama baring disini." celetuk Nur Laily pada Habibah sambil merentangkan kedua belah tangannya untuk sekedar mengusir rasa lelahnya.


" Iya, disini tempatnya sejuk dan nyaman. Bikin mata ngantuk.." Habibah menimpali dengan mental lembut pada gadis kecilnya yang sedang berbaring terlentang di hadapannya.


" Uma gak capek? kok Uma gak baring?" tanya Nur Laily yang melihat Habibah hanya duduk bersandar pada dinding mushola itu.


" Gak ah, Uma malu... Begini aja sudah cukup kok sayang... "


" Malu sama siapa sih Uma? Kan disini belum banyak orang juga?"


" Sudah, gak apa-apa.. Kamu istirahat lah dulu, nanti kita dengarkan sama-sama keputusan jurinya. Mudah-mudahan kamu lolos ke babak berikutnya ya sayang.. ? Walaupun sebenarnya kamu gak masuk babak berikutnya juga Uma tetap bangga sama kamu."


" Uma... Boleh aku tanya sesuatu?" Nur Laily terlihat ragu-ragu untuk bertanya.


" Boleh dong sayang, memangnya mau tanya apa?"


" Mmm... Uma, kenapa Uma gak nikah lagi? Uma kan masih cantik, pasti banyak yang mau sama Uma kan?"


Deg.....!


Sebuah pertanyaan yang selama ini paling dia hindari dari banyak orang, kini justru datang dari anaknya sendiri. Habibah bingung harus menjawab apa.


" Kenapa kamu tanya hal seperti ini sih sayang? Uma sudah senang dengan adanya kamu dan adik Zain bersama dengan Uma. Uma gak perlu yang lain lagi sekarang."


" Tapi Uma.... Aku ingin seperti teman-teman kalau kemana-mana ada ayah dan ibunya yang menemani. Adik Zain juga pasti ingin seperti itu. Gak bisakah Uma kasih kami ayah baru?" gadis kecil itu kini beralih menaruh kepalanya ke atas pangkuan Habibah. Habibah tak mengerti mengapa gadis kecilnya itu tiba-tiba mengungkapkan hal yang paling dia hindari.


" Maafkan Uma sayang, Uma belum bisa menjawabnya sekarang. Uma hanya berfikir, kalau Uma sudah cukup ada kalian bersama Uma. Maafkan Uma, kalau Uma tak bisa memenuhi segala ke inginan kalian untuk bisa seperti teman-teman kalian yang lain." jawab Habibah sambil mengelus lembut kepala Nur Laily yang ada dalam pangkuannya.


" Uma... Apakah aku merepotkan Uma? " tanyanya lagi.


" Gak sayang, Uma gak pernah merasa di repotkan sama anak-anak Uma. Gak mungkin kan kalau Uma merasa keberatan untuk merawat anak-anak Uma sendiri? Uma sayang sama anak-anak Uma, jadi jangan pernah berfikir yang lain-lain lagi ya sayang. Nanti Uma sedih lho.."


" Tapi Uma...." gadis kecil itu tak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba terdengar suara adzan yang mulai di kumandangkan.


Nur Laily segera bangun dari pangkuan Habibah dan bergegas keluar untuk mengambil air wudhu. Karena Habibah sudah meminta agar dia segera melakukannya. Dan gadis kecil itu hanya menuruti perkataan ibunya dengan patuh.


Saat hendak kembali, tak sengaja dia berjumpa kembali dengan laki-laki yang menyapanya saat siang tadi. Tapi Nur Laily tak mengenal wajahnya, dia hanya tau suaranya saja. Karena saat bertemu siang tadi, dia hanya menunduk tanpa memandang wajah laki-laki itu sama sekali. Tapi berbeda dengannya, lelaki itu justru sangat mengingatnya dengan baik.

__ADS_1


" Hai cantik, kita ketemu lagi ya?" sapanya ramah.


" Eh, Om... Om yang tadi siang ya?" tanya nya polos.


" Betul, kamu kenapa masih sendirian saja? Dimana yang lain?"


" Aku sama Uma, Uma ada di mushola. Aku kesini ambil air wudhu, Om mau wudhu juga kan?" tanyanya lagi.


" Hmm... Iya.. "


Sekilas lelaki itu tampak ragu-ragu namun akhirnya bertanya lagi.


" Boleh Om tau, kamu dapat dari mana benda yang kamu pakai itu?" akhirnya pertanyaan yang menggangunya selama beberapa jam itu terlontar juga dari bibirnya.


" Ini?" tanya Nur Laily meyakinkan pertanyaannya.


" Iya, yang itu... Kamu dapat dari mana? " lelaki itu mengulang pertanyaannya.


" Dari Uma... kata Uma sayang kalau cuma di simpan, lebih baik di gunakan. Memangnya kenapa Om? "


" Siapa nama Uma yang kamu maksud itu?" tanya nya lagi.


" Nur Habibah Om.."


Jantungnya terasa terhenti sesaat saat mendengar nama itu di sebutkan. Dia terpaku untuk beberapa saat, hingga membuat gadis kecil di hadapannya itu terheran-heran.


" Om..? Om kenapa?"


" Eh..! Gak apa-apa, kamu kembali saja dulu nanti kalau ada waktu kita ngobrol lagi ya.. Hati-hati jangan sampai tersesat..." ucapnya sambil mengusap lembut pucuk kepalanya.


Ish...! Kenapa sih Om itu suka banget megang kepalaku? Padahal kenalpun gak, ketemupun baru tadi siang. Om itu kenapa sih?


Nur Laily menggerutu pelan sambil meninggalkan tempat itu kembali ke mushola dimana Habibah berada.


" Kok lama banget sih sayang wudhu nya? Ngantri kah?" tanyanya heran.


" Maaf Uma, tadi aku ketemu Om-om yang tadi siang. Jadi ngobrol sebentar." jawab Nur Laily jujur.


" Ya sudah, ayo siap-siap. Sebentar lagi iqomah." ucap Habibah mengakhiri perbincangan singkat mereka.

__ADS_1


Setelah shalat ashar, Habibah dan Nur Laily kembali ke rombongan untuk mendengarkan hasil kompetisi mereka. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas.


Berbeda dengan Habibah dan Nur Laily serta rombongannya. Di ruangan lainnya, ada seorang lelaki yang gelisah karena perkataan dari seorang gadis kecil yang di temuinya tadi. Sudah lama dia tak merasa terganggu seperti saat ini.


Apakah itu benar-benar kamu Nur?


Nur yang sama dengan Nur yang selama ini aku rindukan?


Lalu siapa gadis kecil tadi? Apakah itu anakmu?


Benarkah kamupun ada disini sekarang?


Bolehkah kalau aku menemuimu barang sebentar?


Aku benar-benar rindu padamu nur.


Tapi... Berdosakah jika aku menemuimu?


" Huff... kalau aku mau ketemu, apa dia mau? Tapi aku benar-benar ingin bertemu dia...😓😓."


" Bapak kenapa? Kok ngedumel sendiri? Apa ada masalah? Kayaknya sejak siang tadi bapak sudah gak bersemangat seperti biasanya. Apa ada sesuatu yang mengganggu? Kalau bapak gak keberatan, bapak bisa cerita dengan saya, siapa tau saya bisa bantu bapak." ucap rekannya seraya menawarkan bantuan padanya.


" Zacky, apa kamu tau dimana rombongan dari daerah Wanasari itu menginap?" tanyanya dengan tatapan yang penuh harap.


" Kenapa memangnya pak? Apakah kita juga akan mengurus konsumsi mereka di tempat mereka menginap?"


" Bukan, aku mau cari orang disana. Konsumsi mereka pasti sudah di sediakan oleh pihak hotel atau penginapan tempat mereka menginap Zac."


" Oh, begitu.... Sebentar saya cari tau dulu ya pak.." Zacky pun berlalu meninggalkannya sendirian.


Hanya berselang beberapa menit, Zacky sudah kembali dengan senyum yang lebar. Hal itu menandakan bahwa dia sudah mendapatkan informasi yang dia cari.


" Pak, rombongan dari daerah Wanasari itu menginap di hotel Victoria. Yang menginap disana ada 3 rombongan. Salah satunya mereka.." Zacky menjelaskan dengan semangat 45.


" Oke. Terima kasih ya Zac. Jam berapa mereka akan kembali ke hotel?" tanyanya lagi.


"Sekitar lima belas menit atau tiga puluh menit lagi pak."


" Baiklah, kalau begitu saya pulang duluan ya Zac. tolong kamu perhatikan pekerjaan disini." lelaki itupun berlalu dengan senyuman menghias di bibirnya.

__ADS_1


Sementara Zacky hanya terheran-heran melihat kepergian bosnya yang teramat sangat jarang terlihat tersenyum begitu.


" Memangnya siapa sih yang bisa buat bos seperti itu? Apakah dia seorang perempuan? Tapi selama ini gak pernah dengar bos Deket sama perempuan... Aahhh...! Sudahlah..! Bukan urusanku juga, selama itu bisa buat bos senang, tak apalah.." Zacky bergumam sendiri


__ADS_2