Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Kebenaran yang terungkap


__ADS_3

Dengan berat hati Zelly meninggalkan taman, lalu dia menuju restoran untuk membeli makanan kesukaan istrinya. Setelah mendapatkan makanan yang di pesan istrinya, Zelly pun melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sesampainya dirumah, Zelly mendapati istrinya sedang menunggu di ruang tamu.


" Lama banget sih..! Apakah kamu gak bisa lebih berguna lagi untukku selain penghasil uang? Pantas saja jadi bujang lapuk, cara memperlakukan dan menghargai perempuan saja kau gak bisa. Menyedihkan sekali hidupmu." ucap Riana tajam.


" Ana, tak bisakah kau bicara baik-baik denganku? Apakah kau tak lelah setiap hari menghinaku dan merendahkanku begini? Tak bisakah kau berhenti menyakiti hatiku...."


" Apa yang harus aku hargai dari laki-laki payah seperti mu? Apa yang harus aku puji darimu? Karena kau jauh lebih tua dariku kah? Atau hanya karena kau bisa memberiku uang? Siapa yang menyakitimu? Kau sendirilah yang menyakiti dirimu sendiri, bukan aku..!" sela Riana dengan nada yang lebih tinggi. Disambarnya makanan yang dibawa oleh Zelly dengan kasar, kemudian dia pergi ke kamarnya meninggalkan Zelly yang berusaha keras untuk tak terbawa emosi karena ucapan istrinya.


Zelly melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri dengan langkah yang gontai. Direbahkan tubuh lelahnya dikasur kesayangannya. Pandangannya menatap langit-langit kamar dengan fikiran yang tak menentu.


"Tuhan...


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Apakah ini hukuman darimu karena aku mencintai wanita yang telah menjadi milik orang lain?


Ataukah ini hanya ujian agar aku bisa lebih sabar di alam menghadapi ujian hidupku?


Nur...


Jika nanti aku melakukan sesuatu hanya karena demimu, apakah kau akan membenciku?


Apakah tuhan akan marah padaku karena hal itu?


Nur...


Bolehkah aku katakan padamu?


Aku sangat-sangat merindukanmu.


Aku merindukan semua tentangmu. Karena kamulah aku bisa belajar banyak hal dalam hidup. Kamu adalah lentera yang hampir padam yang aku genggam.


Maka aku mohon, teruslah bersinar agar akupun tak kegelapan lagi "


Dipukul-pukul nya dadanya yang tiba-tiba terasa sakit dan sesak. Mungkin jika dia adalah seorang wanita, dia sudah menangis tersedu-sedu. Dipejamkannya kedua bola matanya menahan tekanan dalam dadanya yang semakin berat dan menyiksa.


Drtt.. Drtt.. Drtt..


"Assalamu'alaykum ma, ada apa?" ucap Zelly saat tau siapa yang menghubunginya.


" Kamu dimana?"


" Dirumah. Ada apa ma?"


" Mama mau kerumah, istrimu ada jugakan dirumah?"


" Ya."


" Baiklah, kita akan malam bersama nanti."

__ADS_1


" Baiklah."


Zelly menutup panggilannya dengan malas. Tapi dia enggan untuk bangun dari rebahan nya. Yang biasanya dia akan bergegas bersiap jika ibunya akan datang, kali ini dia tampak tak perduli sama sekali. Diletakkannya handphone nya disembarang tempat. Sementara dia sendiri melanjutkan segala fikirannya yang sempat terputus karena panggilan dari ibunya.


" Ya Allah, Zelly...!!!" Apa yang kamu lakukan disni? cepat bangun..!" seru ibunya saat melihat anaknya malah asyik terlelap dalam buaian mimpinya.


Dengan malas Zelly bangun dari tidurnya. Dikucek kedua matanya perlahan dan mencoba sadar sepenuhnya karena teriakan dari ibunya begitu mengejutkan nya.


" Ada apa sih ma? Aku sangat lelah dan mengantuk. Jadi bisakah biarkan aku tidur dengan tenang?" tanya Zelly dengan tanpa melihat pada ibunya.


" Tidur? Dimana Riana istrimu? Kenapa rumah sangat sunyi begini? Sekarang kamu bangun dan mandi, setelah itu cari istrimu." kata ibunya lagi Sabil menarik kedua tangan Zelly agar bangun dari tidurnya.


" Kalau mama mau cari Riana, kenapa gak langsung ke kamarnya aja sih ma, kenapa harus ganggu aku?" ucap Zelly


" Apa maksudmu cari dia di kamarnya? Apa kalian gak tidur sekamar? Sejak kapan?" tanya ibunya dengan rasa terkejut yang tak bisa ditutupi lagi.


" Mama, bisa cari dia dan tanyakan padanya. Karena aku benar-benar lelah ma..." jawab Zelly sambil meninggalkan ibunya ke kamar mandi tanpa memberi penjelasan terlebih dulu pada ibunya.


Sementara ibunya masih tertegun tak mempercayai pendengarnya sendiri. Tapj, walau pun begitu ibunya tetap melangkahkan kaki ke kamar lainnya. Karena kebetulan rumah Zelly memiliki tiga kamar, satu kamar utama dan dua kamar tamu.


Selama ini tak ada yang tau tentang kebenarannya jika Zelly dan Riana tak pernah tidur satu ranjang. Karena jika orang tua Riana atau pun ibunya menginap, tak ada satupun yang pernah menempati salah satu kamar tamu yang di gunakan Riana. Kalaupun ada tamu yang menginap dan menempati kamar itu, selalu ada pemberitahuan terlebih dulu. Jadi mereka sempat membersihkan tempat itu dan layaknya kamar tamu biasa. Dan Riana akan tidur di kamar Zelly walaupun dia memilih untuk tidur di sofa.


Dengan perasaan campur aduk antara khawatir dan tak siap dengan kenyataan, ibunya membuka kamar tamu yang di tempati Riana. Dia berharap bahwa perkataan anaknya itu hanyalah bualan semata. Tapi begitu pintu yang kebetulan gak terkunci itu terbuka, serasa bergetar seluruh tubuhnya begitu melihat menantunya sedang tertawa bahagia dengan seorang laki-laki yang sedang video call dengan nya.


"Riana...!!" serunya tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.


" Oke sayang, udah dulu ya. Ibu mertuaku datang dan kayaknya mau bicara penting. Jadi tutup dulu ya? Sampai ketemu nanti, I love you sayang. Muach..!" Riana menutup panggilan video callnya dengan santai dan tanpa ada rasa bersalah sama sekali


" Ada apa ma, kelihatannya mama dalam keadaan yang gak baik sekarang."


" Apa-apaan ini..!? Kamu tidur disini dan mesra-mesraan dengan lelaki lain di belakang suamimu?"


" Suami? Siapa suamiku? Apakah dia laki-laki bujang lapuk yang payah itu yang disebut suamiku?"


" Jangan kurang ajar kau ya, bagaimanapun dia itu suamimu. Hormati dia..."


" Terserah orang mau bilang dia suamiku atau bukan, tapi bagiku dia bukan siapa-siapa. Dia hanya laki-laki pecundang yang payah. Jadi tak pantas dia mendapatkan semua penghormatan dariku." sela Riana.


Plak...


Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat dipipi Riana. Riana terkejut bukan main, dia tak menyangka jika ibu mertuanya itu berani menamparnya.


" Kenapa ma? Apakah mama takut menerima kenyataan kalau semua yang aku katakan itu benar kan? Kalau kata-kata ku ini gak benar, untuk apa mama marah?"


" Hentikan omong kosong mu itu Riana. Cukup hanya padaku kau bicara buruk, tapi jangan pada ibuku." Zelly tiba-tiba datang menghampiri dan menengahi pembicaraan antara ibu mertua dan menantu itu.


" Sejak kapan kalian begini?" tanya ibunya dengan suara bergetar menahan amarah.


" Kau ingin aku jujur mama mertuaku sayang? Baiklah... Dari sejak kami menikah. Sudah puas..!"

__ADS_1


" Apa..!?" rasa khawatir yang dirasakannya tadi terjawab sudah. Kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya karena dia merasa persendiannya lemah tak bertenaga. Zelly segera memapah ibunya untuk duduk di sofa yang ada didalam kamar itu.


" Jadi seperti ini kau perlakukan suamimu selama ini Riana? Apa salahnya sampai kau Setega itu pada kami?"


" Oh mama mertuaku sayang, jangan tanyakan siapa yang salah disini. Sudah jelas ini semua kesalahan kalian..! Apa kau fikir aku akan dengan senang hati menikahi seorang laki-laki payah seperti anakmu ini mama? Aku sudah punya pilihan hatiku sendiri yang sepadan denganku. Tapi karena orang tuaku yang merasa punya banyak hutang Budi pada keluargamu sudah memaksaku untuk menikah dengan dia. Lalu apakah aku harus bahagia dengan pernikahan ini? Apakah kalian fikir aku akan rela menyerahkan diriku dan hidupku padanya hanya karena dia jadi suamiku? Kalian terlalu naif... Aku sudah muak dengan pernikahan ini, aku akan terus seperti ini sampai kalian melepaskan aku dari ikatan ini. " ucap Riana berapi-api.


" Zelly, kenapa kau tak pernah mengatakan semua ini nak? Kenapa kamu menutupinya sampai selama ini?"


" Ma..."


" Apa mungkin dia punya keberanian untuk mengatakannya padamu mama? Dia itu laki-laki pengecut, mana mungkin dia berani mengatakannya. Bahkan dia sudah memohon padaku untuk berpura-pura baik jika kalian ada disini. Tapi mau sampai kapan? Aku sudah tak tahan dengan sandiwara yang menjijikan itu. Tadinya aku ingin melihat, sejauh mana dia bertahan. Tapi karena sekarang mama sudah tau, ya sudahlah. Itu lebih bagus lagi."


" Bagaimana kamu bisa semudah itu mengatakan semua kata-kata yang mengerikan itu Riana? Tak bisakah kau hargai sedikit suamimu itu..."


" Ayolah mama, berhenti mengatakan dia itu suamiku..!" seru Riana dengan nada yang tinggi.


" Cukup Riana..! Jangan berteriak pada ibuku. Kata-kata mu itu sudah sangat menyakitkan hati ibuku jangan kau tambah dengan suaramu yang setinggi itu." Zelly sudah mulai tak bisa menahan amarahnya.


" Sudahkah nak, biarkan saja. Mama tak apa-apa. Jadi apa yang kau mau sekarang Riana?"


" Mama masih tanya apa yang aku mau? Tentu saja perpisahan..! Aku ingin bebas dari kalian dan hidup bersama orang yang aku cintai dan lebih pantas bersamaku."


" Baiklah. Zelly... Maafkan mama, karena mama kau menderita hingga selama ini. Besok kamu urus perceraian kalian, mama tak akan pernah menyalahkanmu. Sekarang mama pulang dulu, kamu jaga lah diri baik-baik."


" Biar aku antar mama pulang."


" Gak usah, mama bisa pulang sendiri. Gak usah khawatir, mama baik-baik aja. Mama hanya perlu menenangkan diri saja. Kamu dirumah saja, persiapkan dirimu untuk besok."


" Tapi ini sudah malam ma.."


" Tak apa, mama bisa pulang sendiri kok."


Zelly hanya diperbolehkan mengantar ibunya sampai kedalam taksi yang ditumpangi ibunya. Walaupun dengan berat hati Zelly membiarkan ibunya pulang sendirian dengan menggunakan taksi. Makan malam yang direncanakan ibunya telah berubah jadi kesedihan.


Maafkan aku ma..


Aku tak ingin melihat mama kecewa dan terluka dengan pernikahan ini. Untuk itu aku diam dan menerima.


Walaupun aku tau, cepat atau lambat semua ini pasti akan mama tau dan pasti akan melukai hati mama.


Tapi, aku tak bisa terus bersabar dengan sikap Riana itu ma.


Itu sebabnya aku biarkan mama tau sekarang.


***


Terimakasih yang sudah selalu setia menunggu up dari author.


Dan jangan lupa like dan komennya serta votenya buat author, supaya author lebih semangat untuk menulis.🥰🥰🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2