
Sementara di suatu tempat yang jauh dari tempat tinggal Habibah. Sedang terjadi perdebatan yang lumayan sengit antara Lina dan Qodir.
Lina yang sudah tak bisa lagi menahan rasa cemburu dari kasih sayang ibu mertuanya terhadap Habibah akhirnya meluapkan semuanya pada Qodir.
" Aku benar-benar sudah gak tahan dengan ibumu. Setiap hari yang dia sebut hanya Habibah, Habibah, dan Habibah. Sedangkan aku yang ada di sini gak pernah dia lihat sama sekali.
Aku tau seluruh keluargamu tak ada yang merestui pernikahan kita. Tapi ini sudah bertahun-tahun lamanya, dan mereka masih belum bisa menerima kehadiranku juga?
Aku lelah, setiap hari di perlakukan sebagai orang asing di rumah ini. Aku sudah berusaha berbaik hati untuk merawat ibumu, tapi ibumu tak menerimanya sama sekali.
Sebenarnya sihir apa yang telah di gunakan mantan istrimu itu, hah?
Sampai-sampai semua keluargamu masih mengharapkan dia ada disini dan jadi bagian dari keluarga ini. Apa hanya karena aku belum bisa memberikan keturunan padamu jadi mereka bersikap begini padaku?
Dan kau juga, tak pernah bisa bersikap manis atau hanya sekedar membelaku di depan keluargamu sewaktu mereka berdebat denganku.
Sebenarnya aku ini sebagai apa di matamu?" Lina benar-benar dikuasai amarah saat ini.
" Kamu seharusnya bisa sabar dalam menghadapi ibuku. Apalagi sekarang ibuku dalam kondisi sakit. Kamu tau sendiri ibuku bahkan sudah lupa kalau aku dan. Habibah sudah lama bercerai dan menikah denganmu." Sahut Qodir dengan menekan emosinya karena bagaimanapun emosinya sedikit banyak telah tersulut oleh ucapan istrinya.
" Lalu bagaimana dengan keluargamu yang lain? Apa kamu buta dan tuli? Hampir setiap hari mereka terus menggunjingkan aku.. Tapi kau hanya diam saja." jawab Lina dengan intonasi yang semakin meninggi.
" Kau tau, sejujurnya aku juga lelah dengan sikap kasar dan egois mu yang tak bisa kau rubah sejak dulu. Kau selalu ada saja alasan untuk bisa mengkritik orang tuaku ataupun keluargaku.
Aku sudah katakan berulang kali katakan padamu, cukup padaku saja kau bersikap begitu. Tapi jangan pada mereka, khususnya orang tuaku." pada akhirnya Qodir pun tak tahan untuk meluapkan isi hatinya yang selama ini dia pendam.
Qodir benar-benar merasa tak punya tenaga lagi untuk mendengarkan Omelan istrinya setiap hari hanya karena ibunya yang selalu mengatakan sedang menunggu cucu dan menantunya itu datang. Bahkan hampir setiap hari Lina memarahinya hanya karena ibunya masih menganggap bahwa Habibah lah isteri dari Qodir anaknya.
Padahal setiap hari Qodir berusaha untuk memberi pengertian pada Lina agar lebih bersabar dalam menghadapi ibunya yang sedang sakit saat ini.
Karena sikap Lina yang setiap hari hanya meributkan soal rasa cemburunya pada Habibah itu pula lah yang membuat keluarga Qodir semakin tak menyukainya.
Karena memang berbeda jauh dengan Habibah, yang lebih lembut dan sabar,. serta pengertian pada semua anggota keluarga Qodir.
__ADS_1
Bahkan dia sangat disayangi oleh ibu Masurai bagai anak kandung sendiri.
Begitu pula dengan saudara-saudara sepupu atau keponakan-keponakan dari Qodir. Semua memang dekat dengan Habibah.
Itulah mengapa mereka jadi sering membandingkan Lina dengan Habibah dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh Lina dalam keluarga Qodir.
"Oh, jadi ini alasanmu tak pernah mau membelaku dihadapan keluargamu? Apa aku salah kalau aku merasa cemburu pada mantan istrimu itu, hah?
Atau aku juga salah kalau aku merasa tak suka kalau mereka terus memuji-muji mantan istrimu itu?
Apa menurutmu semua perasaanku salah?" teriak Lina akhirnya.
" Pelankanlah suaramu itu Lina! Tak bisakah kau bicara dengan merendahkan suaramu? Apa kau tak malu kalau sampai banyak orang yang mendengar ucapanmu itu?"
" Memangnya kenapa kalau orang lain dengar? Biarkan saja semua orang tau, kalau aku sudah muak dengan sikap keluargamu ini..!" sanggah Lina masih dengan suara lantangnya.
" Sudahlah, Lina. Aku lelah... Aku benar-benar lelah kalau setiap hari harus menghadapi sikapmu yang seperti ini.
Aku sudah cukup pusing dengan penyakit yang menggerogoti tubuh ku ini. Aku tak ingin cepat mati hanya karena terus menahan perlakuanku yang begini." ucap Qodir sambil beranjak pergi meninggalkan Lina yang masih belum puas melampiaskan seluruh amarahnya.
" Kau mau kemana? Aku belum selesai bicara...! Aaaaaahhhh......!!!" akhirnya Lina hanya bisa berteriak sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat saat Qodir mengabaikannya.
Pak Yusuf, ayah Qodir yang mendengar semua perdebatan anak dan menantunya itu hanya terdiam di dalam kamarnya.
Karena kebetulan kamar pak Yusuf dan kamar Qodir itu hanya bersebelahan. Selain itu, ruangan yang tak kedap suara membuat suara keras keduanya bisa terdengar dengan sangat jelas oleh pak Yusuf.
Entah apa yang tengah di fikirkan oleh pak Yusuf kala mendengar setiap kalimat yang di ucapkan oleh Lina.
Tapi dia tau benar keadaan anaknya yang tentu sangat tertekan akan sikap Lina yang egois itu.
Sesungguhnya tak ada yang mempersoalkan tentang keturunan pada Lina dalam keluarga Qodir. Mereka hanya benar-benar tak menyukai perangai Lina sebagai seorang istri dan menantu di rumah itu.
Bahkan sepupu-sepupu dari Qodir sering meminta agar Qodir menceraikan Lina. Karena mereka benar-benar tak tahan dengan sikap Lina yang tak bisa bicara halus serta sering mendebat saudara-saudara Qodir.
__ADS_1
Mereka pun tak habis fikir dengan Qodir yang masih mau mempertahankan rumah tangganya dengan Lina yang berperangai buruk dalam pandangan mereka. Sehingga hal itu membuat mereka merasa gemas sendiri dengan sikap diamnya Qodir.
Entah diamnya Qodir itu karena sabar atau memang ia tak mau ribut dengan istrinya itu. Hanya Qodir saja yang tau. Karena pada dasarnya Qodir adalah type laki-laki yang pendiam dan tertutup. Jadi sulit untuk bisa menebak apa yang sesungguhnya dia fikirkan.
Bahkan Syafi'i sahabatnya pun sering menasehatinya. Supaya dia lebih tegas sebagai imam rumah tangga.
" Dir, bukanya aku mau ikut campur urusan pribadimu. Tapi aku benar-benar kurang nyaman dengan pendengaranku yang jujur terganggu dengan orang-orang yang selalu menggunjingkan istrimu Lina.
Aku bahkan tak habis fikir, bagaimana kamu bisa bertahan beristrikan dia hingga sekarang... Kalau seandainya aku ada di posisi kamu, mungkin sudah aku ceraikan sejak dulu.
Maaf ya, dir.. Aku hanya mengatakan pendapatku saja. Aku bicara beginipun karena aku tak tega melihat hidupmu yang begitu tertekan oleh sikap istrimu itu." kata Syafi'i diwaktu kebersamaan mereka.
Bukan tanpa sebab Syafi'i berkata begitu, karena sejak sahabatnya itu menikah dengan Lina. Sangat sulit bagi mereka untuk bisa bertemu dan bercengkrama seperti dulu saat Qodir masih bersama Habibah.
Ruang gerak Qodir benar-benar dibatasi oleh Lina. Hingga Qodir tak pernah lagi bisa mengikuti berbagai kegiatan agama atau sosial yang dulu selalu dia ikuti.
Bahkan untuk bisa sekedar ngumpul dan ngobrol bersama sahabat-sahabatnya pun dia sudah tak bisa. Kecuali di saat-saat seperti saat ini, di saat mereka sedang bertengkar dan Qodir memilih untuk pergi keluar rumah. Barulah mereka bisa bertemu dan berbicara.
Rasa cinta dan sayang Lina yang terlalu besar pada Qodir telah membuat Lina begitu posesif pada Qodir. Dan karena hal itu juga lah yang secara perlahan-lahan telah membunuh perasaan cinta juga sayang dalam hati Qodir pada Lina.
Hanya saja Lina tak bisa menyadari hal itu. Dia hanya selalu berfikir jika sikap suaminya yang semakin hari semakin dingin dan jauh itu karena Qodir masih mengharapkan Habibah untuk bisa kembali padanya.Tapi dia tak pernah berfikir jika karena sikap posesifnyalah yang telah membuat keadaan suaminya jadi seperti itu.
Lina selalu di hantui rasa cemburu pada Habibah yang mengakibatkan setiap hari dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh Qodir selalu di sertai perasaan curiga darinya. Dan itu benar-benar menyakitkan, bukan hanya untuk dirinya melainkan menyakitkan untuk Qodir juga.
Tapi bukan Lina namanya jika dia mudah untuk menerima posisi salah itu. Dia akan terus mencari pembenaran dari segala sikap nya itu.
" Aku gak tau Syaf, aku benar-benar gak tau harus bagaimana. Saat ini aku benar-benar bagaikan katak dalam tempurung.." jawab Qodir sambil tersenyum getir menanggapi pernyataan dari sahabatnya itu.
" Sebenarnya apa sih yang membuat kamu sulit untuk melepaskan dia? Dari segi apanya dia yang buat kamu berat untuk melepaskannya? Kamu lebih mudah untuk melihat hati keluargamu khususnya orang tuamu terluka dari pada kamu melepaskan perempuan seperti Lina?
Oh, ayolah Qodir... Kamu itu tamatan S2.. Masa pola fikirmu begitu dangkal hanya karna seorang Lina? Aku sebagai sahabat mu gak rela lihat kamu dan keluargamu di perlakukan secara tak hormat oleh istrimu itu. Dan kamu? Masih bisa menerimanya begitu saja?" kata Syafi'i dengan kesalnya.
Syafi'i merasa geram sendiri melihat sahabatnya itu hanya bisa menghindar disaat-saat seperti sekarang. Bahkan tak bisa menjadi penentu di dalam rumah tangganya bersama Lina.
__ADS_1
Entah karena Lina akan memberontak jika Qodir mengambil suatu keputusan atau karna hal lain. Syafi'i pun tak mengerti. Tapi baginya sikap Lina sudah benar-benar diluar batas toleransi yang ada.