
Purnomo sangat bahagia karena akhirnya wanita yang selalu mengisi setiap sudut hatinya itu sekarang bersedia untuk menikah dengannya. Purnomo pun mengabarkan akan hal itu pada orang tuanya dan adik-adiknya. Dan khususnya untuk putri tercintanya dia akan memberikan sedikit kejutan untuknya.
" Sayang.. Papa ada ada dua berita untukmu, kamu mau berita yang mana dulu. Berita yang sedih atau yang menyenangkan dulu yang mau kamu dengar ?" Purnomo menanyai Nur yang sedang bersiap-siap akan tidur.
" Berita apaan sih pa? Tumben papa gak langsung bilang seperti biasanya? Pakai acara tebak-tebakan segala." Nur menggerutu dengan sikap ayahnya yang tak biasa itu.
" Jawab aja, mau yang mana dulu? Kalau gak jawab, papa gak jadi kasih tau loh." Purnomo berlagak tak perduli dengan gerutuan dari putrinya. Mau tak mau, Nur pun mengalah pada papanya. Karena dia juga penasaran, berita apa gerangan yang telah dibawa oleh ayahnya itu.
" Oke deh, papa menang..! Aku pilih berita sedih dulu.." ucapnya sambil duduk berhadapan dengan ayahnya.
" Berita pertama, Tante Nur mau nikah. Dan itu artinya nanti dia akan pergi dari sini.." Purnomo sengaja menggantung kelanjutan kalimatnya.
" Pergi dari sini? Apa aku gak bisa bertemu sama Tante Nur lagi nanti?" tanya Nur polos.
" Ya, kalau Tante Nur pergi bagaimana bisa kita bertemu lagi?" Permono berlagak sedih dihadapan anak kesayangannya itu, demi melihat reaksinya.
" Papa.. Apa tante gak bisa kalau gak pergi? Kalau tante Nur pergi, kalau aku mau ketemu bagaimana?" tanyanya sendu, air matanya pun mulai menggenang dipelupuk matanya dan perlahan jatuh melewati pipinya chubby nya. Purnomo yang melihat segera memeluk putri kecilnya itu dengan hangat.
" Masih mau dengar berita yang menyenangkannya gak?" tanya Purnomo sambil mengelus kepalanya. Nur hanya menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
" Kamu sesayang itukah pada Tante Nur?" tanya Purnomo lagi. Namun jawabannya tetap sama, hanya sebuah anggukan kepala saja.
" Oke.. jadi dengarkan baik-baik ya berita baiknya ini. Emmm... Berita baiknya itu, Tante Nur gak akan pergi kemana-mana. Kamu bisa ketemu setiap hari dan bermain sepuasnya dengan tante Nur. Kamu bisa makan masakannya dan juga tidur dengan Tante Nur juga." Nur menatap ayahnya tak mengerti.
" Papa bilang tadi kalau tante Nur mau nikah dan pergi dari sini, terus gimana bisa aku ketemu tiap hari, makan masakannya juga tidur degannya? Sedangkan tante Nur gak disini papa..?" air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya.
" Tentu bisa dong sayang, karena tante Nur nikahnya kan sama papa." kata Purnomo sambil melipat kedua belah tangannya didepan dada dengan sedikit membusungkan dadanya tanda bahwa dia bangga bisa melakukannya.
" Papa jahat.. papa jahat.. huhuhu..!" tangis Nur pecah saat mengetahui jika papanya telah mengerjainya. Dia memukul-mukul bahu ayahnya dengan tangan kecilnya, Purnomo hanya tertawa melihat reaksi anaknya itu. Lalu dipeluk dan diciumnya kening putrinya yang sedang merajuk, Nur pun membalas pelukan ayahnya.
" Papa.. Apa benar papa mau nikah sama tante Nur? Papa gak bohong kan pa?" tanya Nur mencoba meyakinkan dirinya dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
Hari yang selama ini dinantikan oleh Purnomo akhirnya datang juga, dimana dia akan melamar wanita pujaannya dan menikahinya. Orang tuanya telah selesai bersiap-siap, begitu juga adik dan adik iparnya telah rapi. Purnomo masih mendandani putri kecilnya yang lebih heboh darinya seolah dia yang akan melakukan lamaran pada Habibah. Dia ingin tampil sempurna untuk hadir diacara lamaran ayahnya.
" Papa.. Apakah aku sudah cantik dengan ini?" tanyanya untuk memastikan jika dia sudah tampil sempurna.
" Gak ada yang secantik putri papa ini tentunya." ucap Purnomo sambil mencolek ujung hidung yang mungil milik Nur.
" Ayo.. Nanti kita terlambat." ajak Nur pada ayahnya. Setelah semuanya siap, merekapun akhirnya berangkat menuju rumah orang tua Habibah. Sesampainya di sana, mereka disambut hangat oleh kedua orang tua Habibah. Mereka dipersilahkan duduk di ruang tamu yang telah terhidang minuman dan beberapa piring camilannya yang mereka yakini adalah hasil buatan tangan Habibah. Tak berselang lama, Habibahpun ikut bergabung.
__ADS_1
" Begini pak Rukmana, sebenarnya tujuan dari kedatangan kami kerumah bapak ini adalah untuk melamar putri bapak yang bernama Habibah untuk anak laki-laki saya Purnomo. Yang kebetulan sangat menyukai anak bapak." Pak Zakaria ayah Purnomo membuka percakapan formal mereka, setelah sebelumnya puas berbasa-basi.
" Kami menerima niat baik bapak sekeluarga yang telah menyempatkan waktu untuk datang kerumah kami yang sederhana ini. Tapi saya tak bisa memberikan jawaban atas lamaran ini, saya hanya bisa menyerahkannya pada anak perempuan saya yang dimaksud. Bagaimana nak, apakah kamu bersedia untuk menerima pinangan dari nak Purnomo ini?" tanya ayahnya pada Habibah. Habibah hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kepala, dia sangat malu untuk mengatakan " iya mau".
" Alhamdulillah..!" terdengar kata syukur terucap dari kedua orang tua Purnomo hampir bersamaan. Purnomo sendiri mengucap syukur dalam hatinya dan menanggkupkan kedua tangannya kewajahnya dengan sebuah senyum terukir diwajah tampannya. Matanya masih menatap Habibah yang memang sedari tadi menundukkan wajahnya. Dada Purnomo yang tadi berdegub tak karuan kini telah berganti dengan debaran yang penuh kebahagiaan dan cinta. Dia hampir meneteskan air mata haru karna bahagianya. Dia tak pernah menyangka jika hari ini akan dia jumpai dengan wanita yang telah berkali-kali menolaknya. Tapi kini wanita itu tepat duduk dihadapan nya dan menganggukan kepalanya sebagai tanda kesediaannya untuk terikat dengan dirinya. Tinggal satu langkah lagi maka ikatan mereka akan sempurna.
Ibu Sofia maju mendekati Habibah dengan membawa beberapa kotak yang akan diserahkan pada Habibah. Yang pertama adalah kotak cincin, dan cincin itu disematkan dijari manis Habibah oleh ibu Sofia. Setelah itu menyerahkan tiga kotak yang agak besar lainnya pada Habibah. Kotak itu berisi satu set pakaian lengkap dengan sepatu bahkan pakaian dalampun ada disana. Satu kotak lainnya berisikan perlengkapan make up dan kotak terakhir berisikan perlengkapan mandi.
Setelah menyerahkan semuanya pada Habibah, Bu Sofia memeluk Habibah dengan erat. Dia tak bisa menahan air mata harunya. Dia tak bisa mempercayai jika wanita yang sejak dulu telah dia anggap sebagai maenantunya itu kini benar-benar akan menjadi menantunya sungguhan.
" Do'aku telah dikabulkan, kamu akan jadi menantuku sungguhan." ucapnya sambil memegang kedua belah pipi Habibah lalu mengecup kening Habibah yang tertutup oleh hijab nya. Namun disaat haru itu masih terasa, tiba-tiba terdengar suara yang membuat suasana berubah.
" Eyang... Jangan lama-lama peluk cium mamanya Nur. Eyang gak boleh lama-lama, nanti kalau lama-lama eyang ambil mama kan. Pokoknya eyang gak boleh lama-lama dekat sama mama." seru nur pada eyangnya yang masih memeluk Habibah. Dia benar-benar cemburu pada sikap eyangnya itu. Semua yang ada disana tertawa dengan kecemburuan Nur untuk Habibah.
" Wah mas Pur... Belum sah aja udah diposesifin tuh kak Bibah sama anaknya. gimana kalau udah sah apalah nasib mas Pur nanti..!?" seru Dona menggoda Purnomo. Semua tertawa mendengarnya, Purnomo hanya tersenyum sambil melirik Habibah yang kini jadi rebutan.
Prosesi lamaran itu berakhir dengan canda tawa dari dua keluarga yang hadir saat itu. Nur terus menempel pada Habibah meski ada Zain dalam pangkuan Habibah. Untungnya Zain bukan type pencemburu, padahal biasanya anak-anak seusia Zain itu sedang posesif-posesifnya terutama pada orang tuanya. Tapi itu tak terjadi pada Zain, seolah dia pun sedang merindukan kehadiran orang lain dalam hidupnya.
**"
__ADS_1
kesabaran itu memang akan berbuah manis🥰🥰