Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Penyesalan tak berkesudahan


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Lina menghempaskan semua yang ada dihadapannya. Dia benar-benar marah jika teringat dengan apa yang telah dikatakan oleh Habibah. Tadinya dia mengira, jika Habibah tak akan berani mengatakan kalimat yang setajam itu padanya. Karena yang dia ingat dulu, Habibah adalah wanita yang tak pernah mau ribut. Hanya menerima saja apapun yang dilakukan padanya. Tapi ternyata sekarang Habibah telah berani untuk membalas perkataannya dan bahkan bisa mengucapkan kalimat yang sangat menusuk hatinya. Dia benar-benar tak menyangka meski Habibah tetap bisa bersikap tenang, namun perkataannya bisa setajam itu padanya.


Dia benar-benar banyak berubah sekarang. dia sudah tak senaif dulu. Dia benar-benar menyebalkan sekarang.


Gerutunya dalam hati.


Qodir sangat terkejut mendapati rumahnya sangat berantakan seperti baru saja diterjang badai. Mulai ruang tamu sampai dalam kamarnya begitu berantakan.


" Lina..! Lina..!" Qodir memanggil istrinya yang ternyata sedang terduduk di samping ranjang yang hampir menutupi keberadaannya disana. Qodir yang melihat sedikit rambut Lina yang menyembul disamping ranjang segera menghampirinya.


" Ada apa ini? Bagaimana rumah bisa seberantakan ini? Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Qodir dengan nada sedikit meninggi dari biasanya.


" Apa yang sudah aku lakukan? Aku tak melakukan apapun. Ini semua karena kamu dan mantan istri mu yang sok alim itu. Berani-beraninya dia bicara seperti itu padaku. Memangnya dia fikir dia itu siapa? " jawab Lina dengan senyum sinis terukir diwajahnya. Qodir terkejut manakala Lina menyebutkan kata mantan istri.


" Apalagi yang kamu lakukan padanya? Sudahlah.. jangan kamu ganggu dia lagi. Dia sudah tenang sekarang, kita tak usah cari masalah lagi dengannya. Aku sudah cukup merasa bersalah padanya, jangan buat aku semakin merasa bersalah lagi." ucap Qodir dengan sedikit menekan suaranya yang hampir lepas kendali. Dia yakin jika Lina telah melakukan sesuatu dibelakangnya pada Habibah.

__ADS_1


" Oh ya.. kamu merasa bersalah padanya sekarang? Lalu bagaimana padaku? Apa kamu tak merasa bersalah?"suara Lina kembali meninggi tatkala menengar pengakuan Qodir barusan.


" Ya tentu saja aku merasa bersalah padanya. Karena selama aku menikah dengannya aku tak memperhatikannya dengan baik. Bahkan disaat dia melahirkan anak kami, dia berjuang sendirian. Aku... aku justru menghabiskan waktu denganmu saat itu. Aku bahkan belum pernah menyentuh anakku dari sejak dia lahir hingga sekarang. Aku bahkan telah mengabaikannya hingga saat ini. Lalu bagaimana bisa aku tak merasa bersalah? " Qodir terduduk diatas kasur dan meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Dia terlihat frustasi karena rasa bersalahnya itu.


" Jadi karena itu, kamu sampai sekarang tak mau menikah secara resmi denganku? Apa karena alasan ini kamu jadi berubah padaku? Kamu tega sekali padaku mas, aku ini sangat mencintaimu bahkan aku rela melakukan apa saja untukmu. Tapi aku hanya kamu nikahi dibawah tangan saja. Sedangkan dia? Dulu kamu menikah dengan cukup meriah dengan dia yang hanya dijodohkan dan kalian ltak saling cinta. Apa mungkin kamu sekarang sudah jatuh cinta padanya?" Lina benar-benar protes keras pada Qodir atas rasa ketidak Adilan yang dia terima. Dia benar-benar marah jika dia teringat akan status pernikahan dirinya dengan Qodir yang hanya nikah dibawah tangan saja. Dia benar-benar cemburu pada Habibah. Yang telah mendapatkan hak sebagai istri dari Qodir walaupun mereka tak saling mencintai. Tapi Habibah diakui oleh semua orang, dia menikah secara resmi, disayang oleh kedua orang mertuanya dan diperlakukan seperti seorang putri. Sedangkan dirinya hanya diakui oleh Qodir saja, itupun hanya awal-awal menikah saja Qodir bersikap manis padanya. Lama kelamaan Qodirpun berubah, dia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Habibah dalam banyak hal. Dan itu sangat menyakiti hatinya juga menambah rasa cemburunya pada Habibah.


Hari demi hari di lalui Lina dan Qodir dengan banyak perdebatan dan pertengkaran yang dipicu oleh rasa cemburu Lina pada Habibah. Hal sepele saja sudah bisa jadi pemicu pertengkaran mereka. Kehidupan rumah tangga mereka benar-benar sangat sulit menemukan kata damai. Selalu ada saja hal-hal yang membuat mereka bertengkar. Apalagi hingga detik ini Lina masih belum menunjukan tanda-tanda kehamilan. Hal itu menambah kekhawatiran Lina akan rumah tangganya. Dia benar-benar takut jika suatu hari nanti Qodir akan meninggalkannya karena dia tak mampu memberikan seorang anak padanya. Dia benar-benar berharap bisa memiliki anak bersama Qodir, Karena jika memiliki anak ada harapan Qodir akan kembali menyayanginya seperti dulu dan mau menikahinya secara resmi.


Sementara Qodir sendiri semakin hari semakin merasa jenuh dengan Lina. Dia tak pernah menyangka jika wanita yang di cintainya dulu tak bisa sebanding dengan Habibah yang dulu tak dia cintai. Lina benar-benar tak bisa memperlakukan dirinya sebaik Habibah memperlakukannya. Lina terlalu kasar dalam melayani dirinya. Tak seperti Habibah yang melayaninya dengan baik meski tak ada cinta diantara mereka. Qodir benar-benar merasakan kehilangan setelah dia merasakan hidup bersama dengan Lina. Lina yang dicintainya ternyata tak sebaik yang dibayangkannya. Cinta tak menjamin akan bisa merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga. Sayangnya penyesalannya kini tak ada artinya, semua sudah tak dapat dikembalikan seperti semula lagi. Dia sudah tak punya kesempatan untuk kembali pada Habibah dia juga sudah sulit untuk meninggalkan Lina. Hidupnya kini bagai memakan buah simalakama. Bagaimana tidak, keluarganya yang sedari awal tak menyetujui hubungannya dengan Lina semakin membenci Lina saat mereka tau Qodir lebih memilih Lina dan meninggalkan Habibah istrinya saat itu. Semenjak Qodir memilih hidup bersama Lina, Qodir bagaikan anak yatim piatu yang tak memiliki siapapun didunia ini. Semua keluarganya menolak dirinya, terutama kedua orang tuanya. Tapi kini, pengorbanannya yang sebesar itu tak sebanding dengan yang dia dapatkan. Bayangan hidup bahagia bersama Lina sama sekali tak pernah terjadi. Lina tak pernah menghadapinya dengan lembut, Lina terlalu mendominasi dalam menjalani hubungan. Semua kendali rumah tangga di ambil alih oleh Lina, hal itu benar-benar merendahkan harga dirinya sebagai seorang lelaki dan seorang suami.


Habibah..


Dulu aku menyia-nyiakan dirimu dan juga anak kita. Dan kini aku hidup tanpa ada harga diri dan tanpa adanya anak.


Habibah...

__ADS_1


Apakah kamu membenciku?


Apakah kamu pernah mendoakan sesuatu yang buruk padaku sampai hidupku seperti ini atau memang ini adalah murni balasanku dari Tuhan atas apa yang telah aku lakukan padamu?


Habibah...


Aku benar-benar menyesali semua yang telah aku lakukan padamu. Terlalu dalam luka yang aku berikan dalam hatimu. Dan aku telah menyadarinya sekarang. Sayangnya semua ini sudah tak ada artinya bagiku. Mungkin rasa sesalku dan rasa bersalahku akan aku bawa sampai aku mati nanti. Aku hanya bisa pasrah akan semua takdir yang harus aku jalani sekarang. Aku tak bisa melakukan apapun sekarang selain mengikhlaskan semua hinaan dan penderitaan ini sebagai hukuman atas semua kesalahanku padamu dan anak kita. Mungkin aku tak pantas untuk mengatakan kata maaf pada kalian, tapi aku sangat ingin mengatakan kata-kata itu pada kalian.


Aku berharap, siapapun yang akan mendampingimu kelak, akan memberimu kebahagiaan yang tak pernah bisa aku berikan pada kalian.


***


maaf author baru bisa update lagi, sebab kesibukan yang padat..🙏🙏🙏


jangan lupa like dan komennya juga votenya ya, terimakasih 🥰🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2