Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
pulang


__ADS_3

Semua orang sedang menyantap sarapan yang telah di hidangkan di atas meja makan dengan lahapnya. Mereka menikmati sarapannya sambil berbincang ringan, hanya Habibah yang tak ada disana. Yah.. Karena memang selama Habibah berada di rumah Mia, tak pernah sekalipun dia makan bersama di satu meja makan dengan semua orang. Dia selalu makan sendirian, kadang dia makan sebelum yang lain makan atau sebaliknya, dia akan makan jika semua orang sudah selesai makan. Tapi ada berbeda dengan pagi ini, saat yang lain baru selesai dengan sarapannya. Habibah datang menghampiri meja makan dan berdiri di satu sisi yang kursinya tak di duduki. Dia perhatikan semua orang dengan sekilas saja, dia tau semua orang yang ada di ruang makan itu sedang memperhatikannya dengan heran.


" Terima kasih... Terima kasih untuk semuanya dan maaf sudah merepotkan." ucap Habibah pelan.


Semua orang yang sedang duduk hampir serempak berdiri tak percaya dengan apa yang mereka dengarkan.


" Nur... Kamu... kamu sudah bisa bicara? Zelly mendekat dengan wajah yang penuh kebahagiaan walau ekspresi wajahnya masih diliputi rasa tak percaya.


" Bibah...!" ibu Sumarni menghambur memeluk Habibah. Tangis haru pun pecah, dia benar-benar bahagia karena akhirnya anaknya kini kembali dan pulih. Habibah membalas pelukan ibunya dengan lembut.


" Maaf, Bibah sudah merepotkan mama. Sudah buat mama sedih, Bibah sudah banyak salah." Habibah melepaskan pelukannya perlahan.


" Untuk mba dan mas nya, Bibah ucapkan terima kasih sudah menerima keberadaan Bibah disini walaupun sebelumnya kita gak saling kenal. Dan untuk pak Zelly, saya benar-benar terimakasih banyak untuk semua kebaikan bapak sama saya, dan maaf kalau banyak kesalahan yang saya buat pada bapak. Mungkin saya gak akan pernah bisa membalas semua kebaikan bapak sama saya. Saya cuma bisa do'akan semoga bapak bisa meraih semua impian dan kebahagiaan bapak. Terima kasih banyak..." Habibah sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormatnya pada Zelly.


Zelly hanya bengong sambil menatap Habibah yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Ada rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan dan juga rasa tak percaya jika wanita yang sedang berdiri di hadapannya itu adalah wanita yang sangat dia rindukan suaranya selama ini. Dan saat ini dia telah berdiri tak jauh darinya dan bahkan bicara padanya. Bahkan dia hampir tak mendengar apa yang di katakan oleh Habibah. Dia sedang menikmati perasaannya sendiri yang seperti sedang bermimpi. Zelly mendengar suara Habibah itu bagaikan sedang mendengarkan sebuah kidung rindu yang menyapa hatinya, dan itu sangat indah untuknya.


Habibah dan yang ada di ruang makan itu menatap heran pada Zelly yang tak menanggapi semua yang di katakan oleh Habibah. Habibah terlihat semakin canggung dengan reaksi Zelly yang seperti tak menghiraukan apa yang sudah di sampaikan oleh Habibah. Habibah jadi merasa ada yang salah dengan yang di ucapkan ya, dia berusaha mengingat semua yang baru saja dia ucapkan. Dia mencari kalimat atau kata mana yang sekiranya salah diucapkannya. Tapi dia tak menemukan satu kata atau kalimat pun yang salah menurutnya. Tapi karena melihat Zelly hanya diam saja, Habibah membungkukkan tubuhnya lagi dan mengucapkan kata maaf sekali lagi pada Zelly, lalu dia meninggalkan ruang makan itu dan kembali ke kamarnya.


" Zell, kamu gak senangkah dengan pulihnya dia?" tanya Mia tak sabar.


" Eh..?" Zelly terlihat bingung dengan pertanyaan dari Mia.


" Jangan bilang eh..? Tapi jawablah pertanyaanku, apa kamu gak merasa senang dia pulih?" ulang Mia.


" Kamu bercanda? Bagaimana aku gak akan senang dia pulih, tentu saja aku sangat senang. Apa kamu gak bisa lihat aku sedang senang?" tanya Zelly.


" Aku gak lihat, yang aku lihat dari tadi adalah orang yang hanya diam gak ada tanggapan apapun bahkan terkesan gak memperdulikan. Kalau aku lihat kamu senang, apa mungkin aku bertanya?" Mia menjawab dengan kesal.

__ADS_1


" Ayolah Mia, kamu Taukan bagaimana isi hatiku ini, jadi apakah mungkin aku gak akan perduli padanya? Dia itu segalanya untukku..." Zelly keceplosan mengatakan bagaimana perasaannya di hadapan semua orang kecuali Habibah. Bahkan Zelly sendiri terkejut saat menyadari kalau dia sudah keceplosan. Seketika wajah putihnya merona karena malu. Mia yang melihat wajah merona Zelly hanya bisa menyeringai menggoda pada Zelly. Akhirnya Zelly pun meninggalkan meja makan tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.


Didalam kamarnya, Zelly duduk didekat jendela kamarnya sambil menikmati pemandangan taman di pagi hari itu. Perlahan tapi pasti, Zelly mulai tenggelam dalam lamunannya.


Dia sudah pulih...


Lalu aku??


Aku masih belum bisa memutuskan aku harus bagaimana..


Satu sisi aku ingin melepaskan hatiku dari belenggu cintaku untuknya..


Tapi di sisi lain aku tak berdaya untuk berhenti mencintai dia, cinta ini tetap hanya tertuju padanya. Lalu bagaimana caranya aku bisa meninggalkannya dan menjalani hidupku dengan bahagia tanpa adanya dia dalam hidupku?


Sekarang apa pilihanku...


Pulang ke kampung halaman dan menerima perjodohan dari mama?


Jika salah satunya aku pilih, apakah aku bisa bahagia?


Masih bisakah aku merasakan semua perasaan yang selama ini aku miliki untuk Nur..?


Ya Allah....!


Aku harus bagaimana?


Dua hari kemudian, Zelly mengantar ibu Sumarni dan Habibah pulang ke kampung halamannya. Zelly juga sudah jauh lebih baik, bahkan ngilu pada kakinya sudah jarang terasa. Walaupun perjalanan memakan bertambah lama, yang awalnya hanya 10 jam perjalanan kini menjadi 13 jam. Karena Zelly harus menyesuaikan kemampuan kakinya yang belum benar-benar pulih untuk mengemudikan mobil dalam jarak yang sangat jauh itu. Sepanjang perjalanan pulang, sangat sedikit obrolan yang terjadi di antara mereka.

__ADS_1


Sebenarnya Mia belum mengizinkan. mereka untuk pergi, tapi Mia juga tau jika mereka punya kewajiban dan tanggung jawab yang harus mereka lakukan. Jadi dengan berat hati Mia melepaskan kepergian mereka. Dan Mia merasa rumahnya berubah menjadi sunyi setelah kepulangan Zelly, ibu Sumarni dan Habibah. Yang biasanya sarapan ada mereka kini mereka lebih sering sarapan dan makan malam berdua saja. Sementara anak-anak nya memang sudah terbiasa makan malam setiap ba'da Maghrib. Sedangkan Fadhlan dan Mia biasanya makan malam saat pulang dari bekerja.


Sesampainya di rumah, mereka sudah di sambut oleh Zain dan Nur Laily juga ibu Sofia. Ada juga pak Rukmana beserta Laily, Maryam dan Dona pun sudah menunggu di pekarangan rumah. Dua bulan lebih beberapa hari Habibah dan ibu Sumarni berada di kota Samarinda, tentu membuat orang-orang yang ditinggalkan merasa rindu pada mereka.


" Uma...! Uma....!" seru Zain dan Nur Laily bersamaan setelah melihat ibu dan neneknya turun dari mobil milik Zelly. Mereka menghambur kedalam pelukan Habibah. Tangis bahagia pun pecah dari kedua nya karena rasa rindu mereka yang terbayar dihari itu. Habiba membalas pelukan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan rasa haru yang menyeruak memenuhi hatinya.


" Sayang... Uma kangen sama kalian...." ucap Habibah dengan air mata yang perlahan mengalir dari sudut matanya. Satu persatu menghampiri mereka dan memeluk penuh rindu dan kebahagiaan karena Habibah telah kembali pulih.


Zelly menyaksikan semua pemandangan itu dengan perasaan haru, dia benar-benar senang bisa menyaksikan semua adegan yang mengharukan itu sendiri. Adegan yang belum pernah dia lihat dan alami selama hidupnya.


Syukurlah saat ini kamu berada ditengah-tengah orang-orang yang menyayangimu.


Kalaupun aku harus pergi dari tempat ini, aku akan sedikit tenang.


Karena kamu berada di tempat yang tepat untukmu..


Zelly tersenyum getir memikirkan dirinya sendiri, hidupnya sendiri masih tak tau akan kemana arah tujuan akhirnya. Dia masih memikirkan arah mana yang akan dia pilih. Dia masih berkutat dengan segala hal yang mengikat hati dan hidupnya disini.


Saat suasana sedang dalam keadaan haru dan bahagia, tiba-tiba Habibah jatuh tak sadarkan diri. Membuat suasana bahagia berubah menjadi panik. Zelly yang masih ada disana, segera meminta agar Habibah di naikan kedalam mobilnya untuk dibawa ke klinik terdekat. Sesampainya di klinik, Habibah segera di bawa keruang pemeriksaan untuk penanganan awal. Setelah seorang dokter wanita memeriksa keadaan Habibah, tak lama dokter itu keluar menemui Zelly dan keluarga Habibah yang ikut mengantar Habibah ke klinik.


" Apakah bapak suaminya?" tanya dokter itu pada Zelly.


" Oh, bukan dok. Saya bukan suaminya, tapi mereka adalah keluarganya." Zelly menjelaskan dengan jantung yang berdebar tak karuan, dia khawatir telah terjadi sesuatu pada Habibah saat itu.


" Baiklah, kalau begitu saya hanya ingin memberitahukan kalau pasien saat ini dalam kondisi yang kurang baik. Sepertinya pasien sangat kelelahan sehingga imun tubuhnya menurun. Lain kali tolong di bantu untuk memperhatikan keadaan pasien jangan sampai dia kelelahan lagi...."


" Memangnya dia kenapa dok?" tanya Laily penasaran.

__ADS_1


" Lho.. Memangnya gak tau kalau saat ini pasien dalam kondisi mengandung? Kandungannya saat ini sudah memasuki usia 12 Minggu, itu sebabnya jangan biarkan dia kelelahan lagi. Tekanan darahnya saat ini cukup rendah, di tambah lagi kondisi tubuhnya sangat kelelahan jadi ini bisa jadi hal buruk untuk perkembangan janin saat ini." terang dokter lagi.


Semua yang ada disana tertegun, antara senang dan sedih menyelimuti hati mereka. Satu sisi senang karena Habibah mengandung, tapi sisi lain sedih karena ayah yang ada dalam kandungannya itu telah meninggalkannya sebelum janin itu bisa tumbuh dan lahir kedunia. Perlahan air mata ibu Sumarni dan ibu Sofia mengalir, entah air mata atau air mata sedih yang saat ini terjatuh. Hanya genggaman tangan mereka yang saling terpaut sebagai ungkapan untuk saling menguatkan satu dan lainnya.


__ADS_2