Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Mengundurkan diri


__ADS_3

Disaat Habibah siuman dan membuka kedua matanya, dia merasa heran saat menyadari kalau dirinya sekarang sedang terbaring di ranjang pasien dengan tangan yang terpasang jarum infus. Dia bertanya-tanya dalam hati kenapa dia ada disana sekarang.


" Mama... Bibah kenapa kok ada disini? Bibah gak sakit kok di rawat begini?" tanya Habibah pada ibunya dan juga ibu mertuanya.


" Tadi kamu pingsan sayang... Karena kami khawatir mangkanya kamu kami bawa kemari, dan kata dokter kamu kelelahan. Jadi sementara kamu disini dulu sampai badan kamu benar-benar fit. Jadi jangan mikir yang aneh-aneh dan istirahat aja yang baik, jangan buat kami khawatir lagi." ucap ibu Sofia lembut.


" Tapi ma..."


" Sudahlah... Dengarkan apa yang kami katakan ini, kesehatanmu lebih penting sekarang." ibu Sumarni menambahkan.


" Tapi Bibahkan gak sakit ma.." Habibah terus membujuk ibu dan ibu mertuanya agar dia bisa pulang.


" Kita lihat aja sampai malam ini, kalau kamu badan kamu sudah benar-benar fit baru kita pulang. "


Nanti saja kalau sudah pulang baru kasih kabar tentang kehamilannya. Kalau sekarang kayaknya kurang tepat, takutnya jadi beban fikiran lagi buat dia..


Diluar ruangan, Zelly duduk di dikursi tamu seorang diri. Dia merenungkan kondisi Habibah saat ini yang ternyata sedang berbadan dua. Tersirat sebuah senyum pahit dibibirnya. Disandarkannya tubuh lesunya pada dinding sambil memejamkan kedua belah matanya. Dia ingin menenangkan semua syarafnya agar dia tetap bisa berfikir dengan baik. Hanya saja ada rasa perih yang menusuk di dadanya saat menyadari jika harus pergi meninggalkan semua hatinya disini.


Nur...


Tuhan sangat menyayangimu.


Meskipun dia sudah di panggil tuhan, tapi Tuhan telah menitipkan penggantinya dalam rahimmu. Sementara aku, aku hanya akan tetap menjadi seseorang yang merindukan setiap senyum menghiasi bibirmu lagi. Aku hanya akan tetap menjadi orang yang menunggu binar cahaya dimatamu.


Aku takan tetap berada disalah satu sudut yang sunyi untuk terus memperhatikanmu.


Berbahagialah...


Kamu pantas mendapatkannya.


Malam harinya Habibah baru di perbolehkan pulang setelah dokter memastikan bahwa kondisinya sudah lebih baik. Zelly yang kelelahan tak sengaja tertidur di kursi tamu di depan kamar pasien. Saat mereka akan pulang, ibu Sumarni baru tahu kalau Zelly masih ada di klinik itu dan bahkan tertidur dikursi tamu. Semua terkejut saat tahu Zelly masih ada disana, ibu Sumarni membangunkan Zelly yang masih terlelap agar pulang bersama.


" Nak Zelly, bangun. Sudah malam, ayo kita pulang." ucap ibu Sumarni sambil menggoyang lembut bahunya. Dengan sedikit terkejut, Zelly terbangun dari tidurnya. Sambil mengerjapkan matanya, Zelly mengumpulkan seluruh kesadarannya.


" Nur sudah boleh pulang malam ini?" tanya Zelly begitu matanya menangkap sosok Habibah yang berdiri yang tak jauh dari ibu Sumarni.


" Alhamdulillah. Sudah boleh pulang sama dokternya, mudah-mudahan dia gak ngedrop lagi nanti." jawab ibu Sumarni sambil menoleh ke arah Habibah yang hanya menundukkan wajahnya.


" Okelah. Ayo kita pulang, saya juga mau mandi. Badan sudah kerasa lengket banget." kata Zelly sambil bangkit dari tempat duduknya. Zelly melangkahkan kaki dengan gontai menuju ke parkiran.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan pulang, tak ada yang bersuara sedikitpun. Semua tenggelam dalam lamunan masing-masing. Walaupun suasananya terasa sedikit canggung karena semua diam, tapi tak ada yang bisa mereka bicarakan satu sama lain. Zelly yang biasanya selalu punya cara untuk memecah kesunyian, Sekarang pun hanya diam membisu.


" Kenapa pada diam sih? Apa ada masalah yang Bibah gak tau?" tanya Habibah saat memperhatikan satu persatu yang ada didalam mobil tak bersuara.


" Gak ada apa-apa kok sayang, kita cuma merasa lelah aja. Sudah pengen cepet-cepet istirahat. Diklinik kan kami gak bisa baring-baring. Maklum kami sudah tua, jadi pinggang kami rasanya sudah kaku pengen cepet baring." jawab ibu Sofia menutupi yang sebenarnya.


Hanya saja Habibah bisa melihat kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh semua yang ada dalam mobil itu. Gaya saja dia gak mau memaksanya, karena dia yakin nanti mereka akan bicara dengan sendirinya.


Sesampainya dirumah Habibah segera membersihkan diri lalu tidur lebih awal. Sementara untuk ibu Sofia dan ibu Sumarni beserta pak Rukmana masih berbincang di ruang tamu. Dan untuk Zelly dia langsung pamit pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, Zelly pun langsung pergi mandi. Hanya saja setelah mandi dia gak bisa langsung tidur. Karena dia sudah tertidur di klinik tadi. Jadi dia hanya duduk termenung disisi tempat tidurnya sambil menatap foto-foto Habibah saat dulu masih menjadi keraninya. Tapi dia gak berani untuk memfoto Habibah saat sudah berubah memakai cadar sekarang.


Nur...


Aku cuma bisa lihat kamu dari dekat dengan cara seperti ini.


Foto-foto kamu yang menemani aku sejak dulu inilah yang jadi pengobat rinduku padamu.


Walaupun rasa rinduku ini gak pernah bisa hilang.


Nur...


Kalau aku pergi nanti, aku harap kamu bisa kembali ceria seperti dulu dan bahagia seperti beberapa bulan yang lalu.


Karena dengan kamu bahagia, maka aku juga akan merasa tenang.


Seminggu kemudian, masa cuti Zelly sudah berakhir. Dan sudah waktunya dia kembali bekerja. Sesampainya di kantor, Zelly bertemu dengan Asisten barunya. Yang kebetulan adalah teman sekolah dari Habibah. Agus yang saat sekolah menjadi ketua OSIS saat SMP. Agus sudah menikah dengan Faizah sahabat Habibah yang juga teman sekolah Agus.


" Apa kabarnya pak, bagaimana keadaan bapak sekarang? Saya dengar bapak habis kecelakaan waktu dinas ke Samarinda itu. Apakah sudah baikan?" sapa Agus saat bertemu di lobi kantor.


" Alhamdulillah sudah baikan, cuma masih kerasa ngilu-ngilu gitu dikaki. Kamu apa kabarnya? Sekarang kamu kamu disini? sejak kapan kamu kamu disini? Sayangnya kita gak bisa kerja sama dalam waktu yang lama. Ayo duduk dulu, biar enak ngobrolnya." ucap Zelly sesaat mereka masuk kedalam ruangan Zelly.


" Kenapa bisa begitu? Apakah bapak mau di mutasi ke daerah lain?" tanya Agus penasaran.


" Bukan mutasi, saya mengundurkan diri. Saya harus pulang kampung..."


" Kalau cuma pulang kampung kenapa harus ngundurkan diri juga pak? Kan bisa cuti?"


" Sayangnya kali ini gak bisa Gus, saya harus pulang. Ibu saya sudah tua, dan saya juga sudah lama gak pulang kampung. Mungkin saya akan buka bisnis kecil-kecilan disana nanti. Jadi sekarang saya cuma menunggu jawaban dari kantor Pusat aja. Kalau pengajuan saya sudah di setujui kantor pusat, saya langsung berangkat." Zelly menjelaskan pada Agus tentang rencananya saat pulang kampung nanti.


" Bagaimana anak-anak mu? Pasti sudah besar ya? Lama gak ketemu mereka, nanti kalau acara serah terima jabatan dengan pengganti saya. Kamu bawalah anak dan istrimu, anak-anak mu itu ganteng-ganteng kayak kamu. Manis-manis juga mereka itu, aku suka sama anak-anak mu." ucap Zelly lagi.

__ADS_1


" Mangkanya pak, kalau suka sama anak-anak bapak cepetan nikah dong.. Oh ya pak, saya permisi dulu. Saya harus memimpin apel pagi.." Agus berpamitan pada Zelly yang sebenarnya masih ingin mengobrol dengannya. Hanya saja Zelly pun tak bisa mencegahnya, karena itu memang sudah kewajibannya.


Setelah kepergian Agus,. Zelly teringat kembali pada ucapan Agus tadi mengenai anak. Selama ini dia tak pernah terfikirkan soal itu, walau ibunya sering meminta agar dia cepat menikah dan memberinya cucu. Tapi dia tak pernah memikirkannya sama sekali. Tapi sekarang, entah kenapa dia bisa terfikirkan soal anak.


Seandainya saja aku bisa menikahi dia, tentu aku bisa memberikan cucu pada ibuku. dan aku tak perduli mereka anak kandungku atau bukan, tapi aku sangat menyukai mereka. Biarpun selama ini aku cuma bisa melihat mereka dari jauh dan tak bisa menyentuh mereka. Tapi rasa suka ku pada mereka tak berkurang sedikitpun sebagaimana rasa cintaku ini pada ibu mereka.


Aahh...


Lagi-lagi dia..


Bagaimana nanti saat aku pulang kampung?


Aku masih disini aja aku gak bisa berhenti merindukan dia, kalau jauh nanti aku harus apa?


Disini kalau aku rindu, aku masih bisa melihat mereka dari kejauhan biarpun terpaksa harus sembunyi-sembunyi.


Tapi nanti, kalau aku dikampung?


Kalau aku rindu mereka, apa yang harus aku lakukan? Aku sudah gak bisa lagi melihat mereka dengan sembunyi-sembunyi atau melihat mereka dari kejauhan lagi.


Ya Tuhan...


Tolonglah aku...


Aku harus bagaimana dengan diriku ini?


Rinduku ini terus saja menyiksaku. Rasa rinduku ini membuatku kesepian dalam kesendirianku.


Tuhan...


Mudahkanlah langkahku saat meninggalkannya..


Aku meninggalkannya bukan karena aku telah berhenti mencintainya, atau menyerah padanya.


Aku pergi karena aku yang tak mampu berhenti mencintai dia barang sedetik. Aku yang tak mampu berjuang lagi untuk menghentikan segala perasaanku ini untuknya.


***


Maaf agak lambat up-nya..

__ADS_1


Lagi banyak tugas online, jadi agak susah cari waktu untuk bisa up.


Terima kasih karena sudah setia menunggu up-nya 🥰🥰🙏


__ADS_2