
Habibah hanya bisa tertunduk mendengar godaan yang di ucapkan oleh ibu mertuanya. Bahkan dia tak berani untuk menatap wajah Zelly yang duduk di hadapannya dengan jarak sejengkal saja.
" Ayo dong pakaikan cincinnya, masa cuma di pegangin aja. Itu cincin gak aja terpasang sendiri di jari istrimu Zell, dan gak mungkin juga dia mau pakai sendiri
Jadi kamu wajib memakaikannya. Atau the di mama juga yang harus urus cincinmu itu?" Limey terus berceloteh ria melihat anaknya hanya terus diam di hadapan Habibah.
Baik Habibah ataupun Zelly sama-sama tak ada yang mau mengulurkan tangan. Keduanya masih sangat malu untuk saling menyentuh tangan masing-masing.
" Kalian ini kayak anak gadis yang baru di nikahkan aja. Kalian kan sudah pernah melakukannya juga sebelumnya, kenapa masih malu-malu kucing gitu sih? Gemes deh aku jadinya.." tiba-tiba Nina kakak Habibah maju dan menarik tangan kiri Habibah lalu di serahkan pada Zelly.
Zelly hanya tertegun melihat tangan Habibah yang di sodorkan padanya,sampai akhirnya Limey menyadarkannya dengan menarik tangan kiri Zelly agar meraih tangan Habibah yang kini telah tersodorkan di hadapannya.
" Kelamaan kamu tuh, sudah halal juga pake lama banget mikirnya." ucap Limey dengan tak sabar.
Zelly dengan wajah yang tak henti-hentinya memerah dengan segala godaan dari ibunya meraih tangan Habibah yang terasa sangat dingin dan berkeringat, sama persis dengan keadaan dirinya saat ini.
Ternyata dia juga bisa mengalami keadaan seperti ini. Aku kira sikap tenangnya itu gak buat dia merasakan rasa tegang dan gugup seperti aku. Aahh...!! Ternyata sama juga seperti aku ππ
Zelly menyematkan cincin di jari manis Habibah dengan ditatap habis oleh orang-orang yang gemas dengan tingkah mereka. Seolah mereka ingin memakaikan cincin itu pada mempelai wanitanya, sebab rasa tak sabar mereka begitu melihat kedua mempelai yang bagai anak ABG yang baru mengenal cinta saja.
Ditatap sebegitu rupa membuat kedua mempelai itu semakin membuat rasa malu dan gugup mereka semakin besar. Dan akibatnya membuat keduanya semakin menunduk kan wajah mereka dengan pipi yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Akhirnya cincin itu berhasil di sematkan juga di jari manis Habibah, membuat semua orang yang menunggu dengan gemas pun merasa lega. Apalagi di saat Habibah harus mencium punggung tangan Zelly dan Zelly mencium kening Habibah. Semua yang menyaksikan momen itu ikut merasa baper dengan sikap malu-malu keduanya.
" Aih... kayak masih anak ABG aja yang masih malu-malu gitu, bikin gemes banget ya mereka itu..?" celetuk salah seorang pendamping dari keluarga Habibah pada temannya.
" Iya.. Mungkin begitu ya rasanya kalau kita nikah tanpa ada proses pacaran. Jadi pas harus deketan dan sentuhan gitu jadi pada malu-malu. Bikin gemes banget lihatnya.." jawab temannya menimpali.
"Aku kira cuma ada di sinetron-sinetron aja yang begitu, ternyata ada beneran ya di dunia nyata.? " Salah seorang yang lain menimpali temannya tadi.
Momen-momen antara Habibah dan Zelly hari ini menjadi bahan perbincangan para tamu yang hadir dan menyaksikan bagaimana ke uwuan mereka dalam prosesi pernikahan nya.
Ada yang menanggapinya dengan positif, dan ada juga yang menanggapinya dengan sinis dan berkata
" Hallahh... Pakai acara malu-malu segala, padahal bukan nikah yang pertama kali juga pakai acara sok polos gitu. Ngapain coba pakai acara malu-malu gitu?"
Yah, memang begitulah. Namanya juga orang, gak semua bisa suka dengan hal baik yang ada sama kita. Apalagi pada hal yang buruk kan? Mereka yang gak suka dengan kita pasti akan lebih sadis lagi saat mengomentari kita.
Tapi di antara banyaknya tamu yang hadis saat itu, ada seorang tamu yang tampak tak bahagia dengan pernikahan keduanya.
__ADS_1
Ternyata orang yang kamu pilih itu dia?
Bagaimana aku harus bersikap pada kalian sekarang?
Saat ini, aku harus senang atau bersedih dengan pernikahan kalian?
Yang satu adalah orang yang aku cintai dan aku rindukan dalam waktu yang sangat lama ini.
Dan yang satu lagi ada saudaraku, walaupun hanya saudara angkat saja. Tapi aku sangat menyayanginya seperti saudara kandung ku sendiri.
Jadi aku harus bagaimana sekarang?
Disaat para tamu yang hadir satu persatu sudah mulai pulang, dia pun akhirnya menghampiri kedua mempelai itu dengan perasaan yang campur aduk.
" Selamat ya dek, maaf kakak agak telat." ucapnya seraya cipika-cipiki dengan Habibah.
" Gak juga kok kak, kan ini juga masih banyak orang? Oh ya kak, ini mas Zelly suami Bibah sekarang." ucap Habibah sambil mempersilahkan Zelly yang masih duduk di tempatnya.
Seolah Zelly tak menghiraukan kehadiran tamu yang ada di hadapannya saat itu. Dan saat Habibah memperkenalkan dirinya sebagai suaminya, Zelly hanya diam mematung tanpa memperhatikan siapa yang datang. Seolah tak ada siapapun disana.
" Kita dah kenal kok sayang.." Zelly menimpali ucapan Habibah yang sedang memperkenalkan dirinya sebagai suami barunya kepada taunya itu.
" Kan bukan muhrim sayaaangg.. Masa suaminya di suruh bikin dosa depan matanya gini sih?" protes Zelly sambil meraih tangan Habibah dan menggenggamnya dengan lembut.
" I-Iya, maaf.. Lupa.." Habibah seketika merona dengan perilaku Zelly yang bersikap mesra di depan orang lain.
" Iya dek, gak apa-apa. Kenal kan gak mesti harus bersikap antusias juga kalau ketemu. Tapi kakak cukup kaget, ternyata orang yang kamu ceritain ke kakak itu orang yang sudah kakak kenal lama."
" Tapi, Bibah kan gak tau kalau kakak dah kenal sama mas Zelly... Tapi Bibah seneng karena kakak bisa hadir hari ini. Kakak sama siapa datangnya?"
" Kakak datang sendiri, ayah sama ibu udah dari tadi kan disini? Memangnya belum ketemu sama mereka?"
" Rasanya belum ketemu kak, mungkin masih ngobrol sama ayah. Biasalah, namanya juga orang tua yang udah lama gak ketemu. Kalau uda ketemu pasti dah lupa sama yang lain..ππ"
" Kakak seneng lihat kamu kayak begini sekarang, jadi lebih ceria. Gak kayak dulu, yang pendiam. Semoga rumah tangga kamu bahagia dan langgeng ya dek... Kakak mau pamit, soalnya masih ada urusan jadi maaf gak bisa lama-lama."
" Yaah... Kok sebentar banget kakak disini? Gak mau makan dulu kak? Bibah temenin?" bujuuknya berharap orang yang di panggilnya sebagai kakak itu mau menunda kepergian nya.
" Maaf dek, lain kali aja ya? Insyaallah kapan-kapan kakak mampir lagi kesini. Tapi kalau sekarang kakak bener-bener gak bisa lama."
__ADS_1
" Ya udah deh, kalau gitu. Terimakasih udah datang dan terima kasih juga atas do'anya. Mudah-mudahan kakak cepet dapat jodoh lagi dan bahagia. Aamiin..ππ"
" Terimakasih dek, kakak pergi dulu ya? Selamat untuk kalian semoga cepet dapat momongan dan langgeng sampai maut memisahkan kalian." ucapnya sambil menyalami dan memeluk Habibah.
" Iya kak, terimakasih π₯°"
" Mari bang, Ana pamit." ucapnya sambil berlalu meninggalkan Habibah dan Zelly dengan menhan gejolak di dalam dadanya.
Ternyata seperti ini rasanya menyaksikan orang yang di cintai bersanding dengan orang lain.
Apakah seperti ini juga dulu yang dirasakannya waktu aku menikah dengan orang lain?
Ataukah lebih sakit dari ini?
Maafkan aku, mungkin aku sudah bersikap serakah dengan mengharapkan dia masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu.
Harusnya aku sudah tau, kalau harapanku itu adalah hal yang mustahil terjadi.
Berbahagialah bang, karena kamu pantas untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Apalagi yang bersanding denganmu itu adalah adikku yang aku tahu dia tak akan mungkin membuatmu kecewa dan terluka.
Setelah kepergian orang yang bernama Ana itu, Habibah menatap lekat wajah suaminya yang sangat terlihat tak bersahabat sejak kedatangan Ana sampai kepergian nya tadi.
" Mas ada masalah apa sama kak Ana? Kok Bibah perhatikan wajah mas gak seneng gitu selama ada kak Ana tadi?" Habibah tak bisa menahan rasa penasarannya.
" Nanti aja ya bicaranya, sekarang bahas itu dulu. Sialnya aku lapar, bisa gak kita makan dulu? Kan gak lucu kalau nanti ada pengantin yang pingsan gara-gara kelaparanππ" Zelly coba mengalihkan pembicaraan, sebab dia benar tak ingin merusak momen bahagia mereka dengan membicarakan hal yang tak menyenangkan.
" Eh, iya. Maaf mas, saya lupa kalau mas belum makan.." kata Habibah dengan perasaan bersalah karena melupakan hal itu.
" Memangnya kamu sudah makan?" tanya Zelly.
" Belum sih, tapi kan saya belum lapar mas. kan kita beda perut dan beda kebiasaan,. jadi biar perut saya belum lapar, tapi kan perut mas dah lapar...."
" Pantesan aja istriku ini imut-imut terus. Ternyata jarang makan ya.." sela Zelly menggoda Habibah.
" I-iihh... Apaan sih mas.. Dah, ah.. Ayo kalau mau makan.." habibah merasa hatinya benar-benar berbunga-bunga, walaupun hanya di goda dengan hal kecil seperti itu.
Aahhh...!!
Istriku memang menggemaskan....π₯°π₯°
__ADS_1