
Setelah kepulangan Purnomo, Habibah merenungi semua yang dikatakan oleh Purnomo padanya tadi. Semakin difikirkan dia semakin merasa bersalah pada Purnomo. Dia tak pernah menduga jika Ririn akan berbuat seperti itu pada Purnomo. Dia mengira cinta Ririn bisa membuat Purnomo bahagia, tapi ternyata justru kebalikannya. Maafkan saya mas Pur, karena saya kamu mengalami semua itu. Karena saya kamu mengalami penderitaan yang tak pernah saya bayangkan sama sekali. Saya rela jika tuhan menghukum saya dengan sebuah pernikahan yang sama seperti yang kamu alami mas. Saya gak akan menyesalinya, saya akan anggap itu sebuah balasan dari apa yang sudah saya lakukan padamu mas. Walaupun saya berharap bisa mendapatkan rumah tangga yang bahagia, tapi rasanya tak adil untukmu jika itu terjadi nanti. Mungkin saya memang tak pantas untuk di maafkan.
Keesokan harinya acara akad nikah pun dilangsungkan dengan penuh hidmat, tapi ada hal aneh yang dirasakan oleh Habibah. Dia tak merasakan apapun selama proses akad nikah itu berlangsung. Dia merasa biasa saja, tak ada rasa gugup ataupun apa namanya seolah itu bukan pernikahannya. Hatinya justru semakin terasa dingin, tak ada rasa haru atau apapun dalam hatinya. Semua seolah tak pernah terjadi padanya. Seolah itu pernikahan orang lain.
__ADS_1
Saat malam pertama mereka pun demikian, Habibah nampak biasa saja , entah bagaimana perasaan Habibah yang sebenarnya. Sewajarnya jika seorang gadis berada dalam satu ruangan yang sama dengan orang yang baru dalam hidupnya akan merasa gugup atau bahkan merasa takut. Tapi Habibah tak merasakannya, yang merasakan itu justru suaminya Qodir. Walaupun Qodir merasa heran dengan ekspresi wajah Habibah yang benar-benar datar, tapi dia tak berani untuk berspekulasi macam-macam.
" Apakah kamu takut?" tanya Qodir berusaha mencairkan suasana yang kaku..
" Saya gak takut, saya cuma ngantuk dan lelah saya mau istirahat." jawab Habibah dingin. Habibah bergegas membersihkan diri dan naik ke atas tempat tidur dan menarik selimutnya. Dia tak terganggu sama sekali dengan adanya Qodir di dalam kamarnya. Atau bahkan dia menganggap suaminya itu tak ada. Qodir hanya bisa memperhatikan Habibah, dia berusaha memaklumi sikap gadis itu padanya. Dia menyadari jika gadis itu mungkin tak menyukainya. Tapi Qodir menyukai Habibah dari sejak pertama kali mereka bertemu. Setelah membersihkan diri Qodir pun merebahkan tubuhnya di samping Habibah. Dia sangat gugup berada di samping Habibah walaupun gadis itu dalam posisi membelakanginya. Dia berusaha untuk memejamkan matanya, namun dia tak berhasil. Dengan ragu-ragu Qodir mendekatkan tubuhnya pada Habibah, dan memeluknya dari belakang. walaupun hatinya menolak Habibah membiarkan Qodir memeluknya, karena dia sangat sadari pria itu kini sudah resmi menjadi suaminya. Tak ada alasan baginya untuk menolak. Walaupun hatinya benar-benar menolak , tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
Malam itu tak terjadi apapun selain sebuah pelukan dari Qodir, walaupun sebenarnya Qodir sudah tak tahan untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pengantin baru. Namun dia masih takut, jika Habibah menolak untuk melakukannya demi melihat raut wajahnya yang masih datar dan dingin. Walaupun semua kewajiban dilaksanakan oleh Habibah, tapi wajah datarnya tak berubah sama sekali. Seminggu kemudian Qodir pun sudah tak tahan untuk melakukan hubungan suami istri. Habibah tak menolaknya, hanya saja tak merespon apapun yang dilakukan oleh Qodir. Hingga membuat Qodir merasa benar-benar tak nyaman melakukannya. Yang bisa dilihat oleh Qodir hanya air mata Habibah saat kesucian gadis itu telah didapatkan oleh Qodir. Ada rasa kesal, kecewa juga sedih melihat istrinya seperti itu. Bahkan Habibah tak pernah mau bertatap mata dengan Qodir, walaupun sudah menjadi suami istri, tapi Habibah tak pernah mau menatap wajah suaminya.
__ADS_1
" Apakah kamu menyeesali karena aku yang mengambil kesucian mu? " tanya Qodir lagi. Namun Habibah masih membisu. Qodir benar-benar merasa kesal dengan sikap Habibah yang selalu diam, dia seperti sedang berhadapan dengan sebuah robot yang tak berperasaan.
Sementara itu, sejak pernikahan Habibah dilangsungkan, Purnomo semakin menyibukkan diri dengan pekerjaannya juga putri semata wayangnya. Hingga datangnya sebuah surat dari kantor tempatnya bekerja, bahwa dia akan dinaikan jabatannya menjadi seorang Askep tetapi dengan syarat harus mau di mutasi kerja ke daerah lain. Entah mengapa yang dia ingat hanya tentang Habibah, dia sangat ingin gadis itu bahagia. Tapi dia tak sanggup untuk menyaksikan langsung bagaimana kehidupan gadis itu berjalan. Dengan adanya surat promosi dari perusahaan, dia akhirnya menyetujui untuk dimutasi kerja ke daerah lain. Walaupun hatinya menolak untuk pergi, tapi dia benar-benar tak sanggup menghadapi perasaannya sendiri. Dia berharap dengan dia menjauh akan dapat mengurangi perasaannya itu dan bisa memulai hidup baru dengan hati yang baru juga. Nur, apa yang harus aku lakukan sekarang...? Kamu sudah memiliki kehidupanmu sendiri, aku tak mungkin mengusik hidup barumu dengan perasaan ini. Walaupun aku tersiksa dengan perasaan ini, tapi aku selalu mendoakan agar kamu bisa hidup bahagia. Aku tak pernah menyesali semua perasaanku ini, aku juga tak pernah menyesali semua yang telah aku lalui karenamu. Aku akan coba menjauh lagi darimu, semoga kali ini kita bisa sama-sama saling melepaskan satu sama lain. Tapi hal yang sangat membuatku merasa beruntung dalam hidupku adalah aku pernah memiliki perasaan ini dan kamupun pernah memiliki perasaan itu untukku. Aku tak pernah menyesali hatiku ini pernah kuserahkan hanya untukmu dan tak akan pernah kusesali juga jika selamanya hati ini hanya memilihmu.
Sambil membuka lembaran buku diary Habibah yang masih dia simpan dengan baik, fikirannya hanya tertuju pada gadis yang kini telah menjadi istri orang lain. Tapi dia selalu merasa buku diary itu cukup untuk mengobati segala luka dan kesedihan dalam hatinya. Semua kata-kata yang tertulis disana benar-benar bisa menghibur hatinya yang lara. Entah kenapa dia tak pernah ingin menyingkirkan buku diary itu, dia bahkan menjaganya dengan baik dari sejak dia mendapatkan buku diary itu hingga kini dia tak pernah bosan untuk membacanya. Semua yang tertulis didalamnya adalah kata-kata yang tak pernah diucapkan oleh Habibah padanya. Kata-kata yang selalu ingin dia dengar dari mulut kecil Habibah. Tapi sampai saat ini, saat gadis itu telah menjadi milik orang lain dia tak pernah mengatakannya. Dia telah menyimpan semuanya sendiri.
Hari yang telah ditentukan untuk kepergiannya itupun tiba. Dia terpaksa meninggalkan Nur Laily putri semata wayangnya karena masih terlalu kecil. Dia juga belum mempersiapkan apapun untuk putrinya jika langsung dia bawa. Kelak dia akan menyewa jasa baby sitter atau asisten rumah tangga untuk merawat putri kecilnya itu jika dia pergi bekerja. Hati Purnomo sangat berat meninggalkan kampung halamannya itu, namun dia tetap harus pergi. Tak ada pilihan lain untuknya selain pergi dari kampung itu.
__ADS_1
***
dinginnya salju tak seberapa jika dibandingkan dengan dinginnya hati manusia😪😪