
Ada rasa lega dalam hati Qodir setelah mengutarakan apa yang selama ini dia rasakan pada Lina.
Karena mau di tanyakan berkali-kali pun tentang perasaannya pada Lina, jawabannya akan tetap sama.
Pelan tapi pasti, Qodir sudah bisa merasakannya dengan pasti. Jika rasa cinta yang dia perjuangkan pada Lina bukanlah cinta yang sesungguhnya. Melainkan obsesinya pada cinta Lina saat mereka masih bersama.
Dan sayangnya, dia terlambat untuk menyadari kesalahannya itu. Bahkan dia terpaksa harus kehilangan orang yang secara tak sadar telah mengisi hatinya secara penuh.
Dan saat ini dia bertahan dengan Lina bukanlah karena rasa cinta, melainkan penebus rasa bersalahnya pada orang yang telah membawa hatinya.
Ya, dia adalah Habibah. Yang sekarang telah menjadi mantan istrinya dan bahkan telah menjadi milik orang lain serta telah hidup bahagia.
Dia terpaksa diam menghadapi segala perangai buruk Lina, bukan karena dia adalah orang yang penyabar. Melainkan dia sedang menghukum dirinya dari dosa yang ia tau sulit untuk mendapat ampunan.
Mungkin dia akan mendapatkan ampunan dari Allah, tapi dia tak yakin akan mendapatkan hal itu dari mantan istrinya serta buah cintanya dengan Habibah, yah dia adalah anak lelaki yang kini telah tumbuh jadi anak lelaki yang tampan dan baik, dialah Zain.
Sesungguhnya Qodir sangat merindukan anak semata wayangnya itu. Tapi,. dia tak ada keberanian untuk datang menemuinya.
Karena dia sadar benar jika dia tak layak untuk menyandang status sebagai ayah dari anak manis itu.
Tak ada satupun kewajibannya yang telah dia tunaikan demi Zain sejak anak itu masih dalam kandungan Habibah hingga kini anak itu sudah mencapai usia enam tahun.
Kini dia harus rela merasakan sakit akibat dari rasa rindunya yang ia pendam selama bertahun-tahun.
Sedangkan Lina, dia semakin merasa cemburu pada Habibah. Karena hingga kini pun Lina belum bisa memberikan keturunan pada Qodir.
Lina benar-benar takut jika suatu saat Qodir akan meninggalkannya hanya untuk kembali pada mantan istri dan anaknya itu.
Hal itu pulalah yang selalu jadi pemicu pertengkaran antar Lina dan Qodir.
Lina tak pernah bisa melepaskan diri dari rasa cemburunya yang sering tak beralasan. Banyak hal yang membuat Lina mencemburui Habibah. Tapi Lina tak mau mengakui jika memang banyak hal yang tak dia miliki dari sekian banyak kelebihan yang dimiliki oleh Habibah. Meski wanita itu tak pernah merasakan akan adanya kelebihannya itu.
***
Pagi hari setelah shalat subuh, Qodir bergegas ke dapur untuk memasak sarapan pagi dan membuatkan bubur untuk sang ibu yang sedang sakit karena selama sakit, ibu ya tak bisa memakan makanan yang bertekstur agak keras. Makanan hanya bisa tertelan jika makanan itu bertekstur lembut dan halus.
Sementara Lina, masih menikmati nyamannya pembaringan yang ia tempati. Lina memang sangat jarang menyentuh dapur. Bukan dia tak bisa memasak, melainkan dia benar-benar enggan untuk melayani keluarga Qodir yang menurutnya menyebalkan.
Lina adalah orang yang tak suka berpura-pura manis dan baik dihadapan orang-orang yang tak disukainya. Sekalipun itu pada mertuanya sekalipun.
"Dir, mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya ayahnya tiba-tiba.
" Seperti ini bagaimana sih pa?" tanya Qodir pura-pura tak mengerti maksud dari pertanyaan ayahnya itu.
" Hidup seperti sekarang ini? Rumah tangga macam apa yang sedang kamu jalani selama ini? Papa lelah melihat rumah tanggamu yang tak ada arahnya, tak ada ketenangan dan kebahagiaan di dalamnya.
Qodir, rumah tangga itu bukan hanya sekedar untuk mendapatkan status menikah saja. Tapi ada tujuan yang mulia didalamnya.
Selain menghalalkan syahwat, ada juga nilai ibadahnya. Dan nilai ibadah itu tak akan datang dengan sendirinya. Harus ada ikhtiarnya.
Ikhtiar yang akan membuat kita merasa nyaman, tentram dan bahagia. Bukan seperti yang sekarang tengah kamu jalani selama bertahun-tahun.
Jangan siksa dirimu kalau memang sudah tak ada jalan keluarnya, maka sebaiknya akhiri saja daripada membawa kemudhorotan pada semuanya, nak." ucap pak Yusuf panjang lebar.
Ayah Qodir sebenarnya bukan tipikal orang yang banyak bicara dan mencampuri urusan orang lain. Apalagi soal rumah tangga anak-anak nya.
__ADS_1
Tapi jika sampai ayahnya saja buka suara tentang rumah tangga Qodir, itu berarti ada hal yang benar-benar sudah tak dapat di terima nya.
" Iya, pa. Kasih aku waktu sedikit lagi. Aku masih memikirkan cara yang terbaik untuk mengambil keputusan ini. Tapi aku janji akan bicarakan ini baik-baik dengan Lina." walaupun dalam hati Qodir tak bisa yakin akan bisa bicara baik-baik dengan Lina.
Karena dia tau persis seperti apa watak Lina, apalagi ini mengenai rumah tangga mereka yang kini sudah benar-benar di ujung tanduk.
****
" Sepertinya kita harus bicara baik-baik sekarang. Jangan pakai emosi supaya permasalahan kita cepat selesai." Qodir memulai percakapannya dengan Lina setelah mereka selesai makan malam.
" Apa yang mau kamu bicarakan denganku mas? Soal kita? Maksudnya rumah tangga kita? Atau tentang keluargamu?" cecar Lina cepat.
" Tentang kita Lina, rumah tangga kita." jawab Qodir datar.
" Baik. Apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Aku ingin dengar sekarang." tandas Lina tak sabar.
" Lina, aku tau apa yang akan aku katakan ini akan terdengar konyol dan sulit diterima. Tapi apapun itu, semua yang aku katakan itu adalah kenyataan dan mau tak mau kita harus menerimanya." ucap Qodir mengawali pembahasan masalah mereka.
" Sudahlah mas, gak usah pakai basa-basi segala. Bicara poinnya aja deh apa? Aku malas ngomong berbelit-belit begitu." tukas Lina tak sabar dengan basa-basi yang di lakukan oleh suaminya.
" Aku sudah lama menyadari, kalau pernikahan kita ini dimulai dengan kesalahan. Kesalahan itu terus terjadi sampai sekarang Lina.
Kesalahan yang seharusnya tak kita lakukan, tapi nyatanya kita telah melakukannya."
" Jadi kamu menyesal karena menikah denganku mas?" Lina menyela dengan kesal pernyataan dari suaminya.
" Mungkin bukan menyesal, karena apapun itu namanya seharusnya sejak awal kita menghentikan semua kesalahan ini." ucap Qodir berhenti sesaat seraya mengatur nafasnya yang mulai terasa menyesakkan dada.
" Maksudmu apa mas bicara seperti itu?" nada suara Lina seketika itu juga naik beberapa oktav begitu mendengar pernyataan Qodir yang terakhir.
Dulu saat aku mengenal Habibah, aku benar-benar berharap jika apa yang aku niatkan karena untuk ibadah. Walaupun pernikahanku dulu tak seperti saat aku menikahi mu.
Tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa aku menikahinya memang benar karena untuk ibadah sedangkan aku menikahimu karena obsesiku yang tertunda karena kepergian mu dulu.
Aku tau ini jelas adalah kesalahanku. Seharusnya aku bisa menghilangkan obsesiku saat aku bertemu kembali denganmu, apalagi saat kamu kembali dulu aku sudah menikahi wanita baik-baik seperti Habibah.
Sayangnya aku telah lupa dan dibutakan oleh obsesi yang terasa begitu indah sampai aku menyangka kalau semua yang aku rasa dan aku fikirkan adalah rasa cintaku.
Tapi nyatanya aku salah, setelah aku menikahimu dan meninggalkan istri serta anak ku yang aku bahkan belum pernah menyentuhnya sekalipun. Justru hatiku merasakan sepi dan hampa.
Jika aku benar-benar mencintaimu dan bukan terobsesi padamu, bagaimana aku bisa merasakan kehampaan dan kesepian dalam hidupku?
Dan bodohnya aku, aku baru menyadari jika cinta itu justru telah tumbuh dalam hatiku untuk orang lain tanpa aku sadari sebelumnya. Tapi aku baru bisa merasakannya setelah aku benar-benar kehilangan dia dan aku tak akan pernah bisa memilikinya lagi.
Maafkan aku Lina, tapi inilah yang aku rasakan. Terlepas dari keluargaku yang memang tak pernah merestui pernikahan kita. Dan mungkin karena ketiada restuan dari mereka pula rumah tangga kita seperti yang kita rasakan selama ini." Qodir menjeda ucapannya demi melihat reaksi yang ditunjukan oleh istrinya yang telah mendengarkan kejujuran hatinya.
" Jadi, kamu menikahiku karena obsesi? Bukan karena kamu cinta? Kamu benar-benar jahat mas! Kau anggap apa aku selama ini?
Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Bahkan aku rela dicaci maki hanya demi bisa hidup denganmu. Aku bahkan rela meninggalkan keluargaku demi dirimu mas.
Aku tak pernah perdulikan perkataan semua orang yang mencibirku, bahkan aku abaikan orang tuaku hanya demi bersamamu.
Tapi inikah balasanmu padaku mas? Bagaimana bisa kamu mengatakan semua itu dengan entengnya bahkan setelah bertahun-tahun kita hidup bersama?" derai air mata Lina mengiringi setiap kata yang terucap dari bibirnya.
Lina bukan tak tau jika suaminya itu mencintai Habibah, mantan istrinya. Tapi dia benar-benar tak menduga jika suaminya itu akan mengatakannya langsung padanya.
__ADS_1
Tadinya Lina berharap, dengan berjalannya waktu dia bisa merebut kembali hati dan rasa cinta Qodir sebagaimana dahulu sebelum Qodir bertemu dan menikahi Habibah.
Tapi nyatanya waktu yang bukan sehari dua hari, bahkan sudah bertahun-tahun dia perjuangkan justru berakhir dengan hasil yang menyakitkan hatinya.
Dia tetap tak mampu menghapus rasa itu dari hati suaminya dan bahkan dia yang kehilangan segalanya.
" Karena itu aku minta maaf padamu Lina. Mungkin aku terlambat untuk mengatakan semua kebenaran ini. Tapi ini lebih baik daripada aku tak pernah mengatakannya sama sekali padamu.
Aku tak ingin terus menipumu juga menipu diri sendiri. Karena itu hanya akan terus menyakiti kita juga orang-orang yang ada di sekitar kita." Qodir berusaha bersikap setenang mungkin, walau sesungguhnya dia tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya yang sebenarnya.
Tapi ada yang pasti kini dirasakan oleh nya. Yaitu perasaan lega, karena dia telah berhasil mengatakan apa yang selama bertahun-tahun dia simpan dalam hatinya.
" Aku gak terima mas ! Aku benar-benar tak. bis.a terima semua ini? Apa sebenarnya tujuanmu mengatakan semua ini sekarang? Apakah kamu ingin mengejar cintamu lagi? Apa itu mungkin? Sedangkan dia sudah nikah dan hidup bahagia mas. Dan sampai kapan kamu akan terus seperti ini?
Tak bisakah kamu buka hatimu untukku lagi seperti dulu seperti sebelum kamu bertemu mantanmu itu?
Aku tak perduli pada apapun mas, asalkan kamu mau belajar mencintai aku dan menyayangi aku seperti dulu lagi. Aku bisa lupakan semua ucapanmu sekarang dan memberimu kesempatan lagi untuk bisa memperbaiki semua dari awal lagi." pinta Lina dengan air mata yang belum berhenti juga.
Dia benar-benar tak ingin kehilangan Qodir. Sudah kepalang tanggung, Lina sudah terlanjur kehilangan semuanya demi mendapatkan Qodir kembali. Jadi, bagaimana bisa sekarang dia menyerah begitu saja.
" Maaf Lina, sepertinya tak perlu lagi. Sebaiknya kita akhiri secepatnya. Demi kebaikan kita bersama. Karena percuma jika kita teruskan, karena hanya akan terus menambah luka untuk banyak hati."
" Aku gak mau mas ! Sampai kapanpun aku gak akan terima kalau kamu mau ceraikan aku. Apalagi hanya karena mantanmu itu, aku gak terima mas !" seru Lina sambil berdiri dari duduknya.
" Jangan keras kepala Lina ! Karena percuma saja, aku gak akan pernah bisa kembali seperti dulu. Aku benar-benar gak bisa Lina. Kalau memang bisa, seharusnya sekarang aku sudah bisa seperti dulu setelah kita bertahun-tahun bersama kan?
Tapi nyatanya sampai sekarang aku gak bisa Lina. Bahkan sampai sekarang akupun tak bisa mendapatkan restu dari orangtuaku. Dan itu sungguh menyiksaku Lina. Mengertilah..!" tanpa sadar emosi Qodir pun telah terpancing setelah mendengar teriakan dari Lina padanya.
Hal inilah yang semakin membuat dia tak bisa terus bertahan dengan Lina, dia tak merasa di hormati dan dihargai sama sekali sebagai seorang suami oleh Lina.
Dia akan selalu teringat pada habibah setiap kali diperlakukan seperti itu oleh Lina. Karena meskipun Qodir tak cukup mengenal Habibah saat menikahinya, tapi dia bisa merasakan betul bagaimana dihormati dan dihargai sebagai seorang suami.
Meskipun pernikahan itu bisa di bilang karena perjodohan, tapi Habibah tak pernah merendahkannya sebagai seorang laki-laki bahkan sebagai seorang suami.
Bahkan disaat dia telah mengkhianati pernikahan itu, Habibah tetap menghormatinya. Dan itu sungguh menyakitkan hatinya setiap kali dia teringat pada kebodohannya itu. Tapi sayang, penyesalan itu tak akan pernah bisa mengembalikan apa yang sudah dia buang dan hilangkan.
Malam ini akhirnya Qodir dan Lina harus kembali bertengkar. Yang awalnya baik-baik, tapi tetap berakhir dengan pertengkaran yang sepertinya tak akan ada akhirnya.
Walaupun tetaplah, pada akhirnya Qodir lah yang harus pergi meninggalkan Lina yang masih merasa belum puas untuk meluapkan amarahnya.
Ya Allah...
Bagaimana caranya agar aku bisa mengakhiri semua ini dengan tak menyakiti siapapun lagi?
Aku benar-benar lelah ya Allah...
Beri aku jalan yang terbaik agar tak ada lagi yang tersakiti karena perbuatan kami.
Terutama kedua orang tuaku.
Malam ini Qodir akhirnya menghabiskan malamnya di masjid yang memang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Dia beri'tikaf disana, selain untuk menenangkan diri juga mencari petunjuk dalam menyelesaikan permasalahan yang tengah dihadapinya.
Sementara Lina,masih terus bersungut-sungut sampai dia merasa lelah sendiri dan tertidur dengan keadaan kamar yang sudah tak seperti kamar lagi, karena sudah berantakan akibat amukan Lina yang melampiaskan amarahnya dikamar itu.
__ADS_1