
Sore hari seperti yang telah dijanjikan oleh Purnomo pada anaknya, jika dia akan menjemputnya pada jam 4 sore. Kedatangan Purnomo diterima oleh Dona, dia mempersilahkan nya masuk dan duduk diruang tamu.
" Sebentar ya mas Pur, aku lihat dulu dikamarnya." kata Dona setelah menyuguhkan segelas air untuk Purnomo. Namun tak berselang lama Dona telah kembali seorang diri.
" Maaf mas Pur, mereka masih tidur.." Dona menjelaskan.
" Mereka?" Purnomo tak mengerti maksud dari perkataan Dona.
" Ih mas Pur ini, ayo ikut aku sebentar.." Dona menarik tangan Purnomo agar mengikutinya.
" Coba lihat sendiri deh, aku gak tega ngebangunkannya.." kata Dona pada Purnomo seraya menunjukan sebuah pemandangan yang indah bagi siapapun yang melihatnya. Hanya saja Dona lupa satu hal, dia lupa jika saat itu Habibah tak mengenakan cadarnya sehingga wajah cantiknya terlihat jelas oleh Purnomo. Purnomo yang menyadari akan hal itu segera memalingkan wajahnya, tiba-tiba saja dadanya berdesir lembut hingga mengalir keseluruh tubuhnya. Tiba-tiba ada kegelisahan yang menyelinap kedalam hatinya.
Purnomo segera kembali keruang tamu dan menunggu sampai mereka bangun. Selang lima belas menit Habibah terlihat keluar dari kamarnya, dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui jika ada orang asing yang sedang duduk diruang tamunya. Dia segera berbalik dan kembali kedalam kamarnya untuk mengenakan cadar yang tadi dilepasnya.
Sejak kapan dia ada disana? Aih.. malunya kalau sampai dia melihatku tadi. Tenanglah.. Toh dia tadi gak lihat juga kan?
Habibah mencoba menenangkan perasaannya yang tiba-tiba bergemuruh. Setelah dirasa cukup tenang Habibah kembali keluar dari kamarnya. Tapi baru saja beberapa langkah dari kamarnya, terdengar sebuah suara memanggil dirinya.
" Tante.. Tante Nur.." suara parau milik Nur terdengar memanggilnya. Mendengar itu Habibah kembali lagi kedalam kamarnya dan melihat Nur telah duduk di atas tempat tidur dan disusul pula oleh Zain.
" Uma.. Zain haus.." kata Zain pelan sambil mengucek matanya yang masih terasa berat untuk dibuka. Habibah menyodorkan air minum kepada Zain yang memang telah disediakan didalam kamarnya. Karena memang Zain kuat minum air putih jadi agar lebih mudah saat malam hari bila Zain mau minum, Habibah sudah tak perlu mengambilnya dari dapur.
" Mau minum juga ?" tanya Habibah pada Nur yang sedang memperhatikan Habibah memberi Zain minum. Nur hanya menganggukkan kepalanya. Habibahpun memberinya segelas air putih pada Nur, Habibah menunggunya sampai nur selesai dengan minumnya dan meraih kembali gelas yang tadi digunakan Nur.
__ADS_1
" Anak pintar. Sekarang ayo turun, papanya Nur sudah jemput. Kasihan kalau kelamaan nunggu, papanya Nur sudah lama loh nunggu Nur bangun. " kata Habibah sambil tersenyum dan mengelus kepalanya dengan lembut.
" Papa sudah jemput?" tanya Nur mencoba memastikan jika ayahnya benar-benar sudah menjemputnya.
" Iya sayang, itu papanya sudah menunggu diruang tamu. Ayo kita keluar sama-sama." ajak Habibah. Habibah membawa Zain turut serta.
" Sudah lama mas nunggu disini?" tanya Habibah yang mengejutkan bagi Purnomo yang sedang asyik dengan lamunannya. Purnomo segera berdiri dari duduknya dan menatap ke arah suara itu datang, namun segera dia menundukan wajahnya. Dia teringat apa yang telah dia lihat tadi, meskipun kini Habibah mengenakan cadarnya namun wajah cantik Habibah terbayang dengan jelas dimatanya. Jadi baginya cadar itu tak ada gunanya, karena tak mampu untuk menghalangi bayangan itu muncul dimatanya. Habibah yang tak pernah melihat Purnomo bersikap seperti itu menjadi heran sendiri.
" Lu..lumayan a..agak lama" jawabnya terbata-bata.
" Ayo sayang kita pulang, sudah sore. Jangan merepotkan Tante Nur lagi." ajak Purnomo pada Nur, putri semata wayangnya itu.
" Iya.. Tante.. aku pulang dulu ya.. Besok aku main lagi kesini boleh gak?" tanya Nur pada Habibah.
" Oke kalau gitu, aku pamit pulang ya Tante." Nur menghampirinya dan mencium tangannya serta memeluk Habibah . Terlihat sangat jelas jika anak itu sangat berat hati untuk pergi meninggalkan rumah itu.
" Oke sayang.. daahh..!" Habibah melambaikan tangannya. Begitu pula dengan Zain yang ikut melambaikan tangannya,
" Papa..papa tau papanya Adek Zain gak?" tanya Nur tiba-tiba pada ayahnya.
" Papa gak kenal, ada apa dengan papanya Zain?" tanya balik Purnomo pada anaknya.
" Papanya Adek Zain tadi datang loh pa, kata tante Nur papanya Adek Zain gak tinggal di rumah itu. Dan tadi kayaknya tante nur juga marah sama papanya Adek Zain. Tadi waktu makan aku juga dengar tante Dona juga bilang, kalau papanya Adek Zain itu gak tau malu." celoteh Nur panjang pada ayahnya.
__ADS_1
" Husy... gak boleh nguping omongan orang, mulai sekarang jangan pernah lakukan itu lagi ya sayang. Gak baik, bagaimana kalau tante Nur tau anak papa yang cantik ini ternyata tukang nguping? Nanti tante Nur gak mau lagi sayang sama anak papa ini." Purnomo memberi pengertian pada Nur jika apa yang dilakukannya itu salah.
" Iya papa, aku janji gak akan nguping lagi dan gak akan bilang-bilang lagi kalau aku dengar sesuatu." janjinya bersungguh-sungguh seraya mengacungkan jari kelingkingnya pada ayahnya.
Purnomo sebenarnya sangat terkejut mendengar kabar yang berikan anaknya itu.
Berarti Nur juga sekarang seorang single parents? Sejak kapan itu terjadi? Kenapa tak ada yang tau tentang hal ini?
Entah datangnya dari mana perasaan bahagia itu menyeruak dalam hatinya begitu dia tau jika wanita yang selama ini ada dalam hatinya kini berstatus sama dengan dirinya. Perasaan bersalah dan berdosa telah mencintai istri orang pun hilang entah kemana. Purnomo kembali ke rumahnya dengan wajah yang berseri-seri. Dia sudah bertekad untuk mendapatkan wanita pujaannya itu kali ini.
Setelah makan malam, Nur mendekati papanya yang sedang memainkan handphone dikamarnya.
" Papa.. Aku suka tante Nur, kalau aku punya mama kayak tante Nur aku pasti senang." ucapnya sambil membaringkan tubuhnya di sisi ayahnya.
" Kenapa anak papa bisa suka sama tante Nur?" sellidik Purnomo ingin tau alasan anaknya menyukai Habibah.
" Papa tau gak, ternyata Tante Nur itu cantik banget. Aku suka lihat muka tante yang cantik itu. Tante Nur jiga mau suapin aku makan sama kayak Adek Zain. Aku juga suka kalau tente elus-elus kepalaku. Pokoknya aku suka semuanya.." dia mengatakan kepolosannya dengan mata yang berbinar-binar bagai orang yang sedang jatuh cinta saja.
Haih Nur.. Tidak kah kamu menyadari pesonamu itu yang terlalu kuat pada orang disekitarmu? Bagaimana bisa seorang anak seperti anakku saja bisa jatuh cinta padamu, lalu apa kabar diriku ini? Bagaimana bisa aku menghindari untuk tak jatuh cinta padamu? Sedangkan aku adalah pria dewasa yang normal.
Purnomo tak henti-hentinya menatap foto-foto Habibah yang ada di ponsel miliknya. Ada foto yang masih belum bercadar dan ada juga yang sudah bercadar termasuk saat acara ulang tahun anaknya pagi tadi, diapun mencuri foto Habibah. Tapi dia tak menyangka jika kini wajah Habibah jauh lebih cantik dan dewasa dari wajahnya dulu. Wajah cantik saat Habibah tidur tadi siang terus menari-nari dipelupuk matanya.dan hal itu benar-benar membuatnya gelisah dan takut. Dia takut jika Habibah menjadi milik orang lain lagi nanti. Dia takut tak memiliki kesempatan untuk mendapatkan Habibah kali ini. Bahkan dia membayangkan jika Habibah tak bisa dia miliki kali ini, entah bagaimana dengan dirinya nanti dan bagaimana kecewanya putri kesayangannya itu. Bermacam-macam telah difikirkan olehnya, dan hal itu benar-benar menyiksanya. Sementara wanita yang dia fikirkan itu sudah terlelap tidur dan terbuai dalam mimpinya.
***
__ADS_1
jatuh cinta itu memang tak bisa dijelaskan dengan logika yahðŸ¤ðŸ¤ðŸ¥°