Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Hari pernikahan


__ADS_3

Tak terasa hari yang sudah di nanti-nantikan itu datang juga. Malam hari H pernikahan diadakan acara pengajian dan kenduri di kediaman pak Rukmana. Sore harinya telah sampai juga pak Yusuf dan istrinya ( mertua Habibah), mereka ikut merasakan bahagia dengan pernikahan yang akan di jalani oleh Habibah.


Dulu anakku tak bisa membahagiakannya bahkan malah menyakitinya. Semoga sekarang dia mendapatkan seseorang yang benar-benar menyayanginya dan bisa membahagiakannya juga anaknya. Ah.. sudah sebesar apa sekarang cucuku?


Ditemuinya Habibah yang saat itu sedang bersiap-siap dengan pengajiannya.


" Assalamu'alaykum.." ucap pak Yusuf dan istrinya serentak.


"Wa'alaykumussalam warrahmatullah wabarokaatuh.." Habibah dan semua tamu yang hadir saat itu menjawab salamnya pun dengan bersamaan. Mereka menoleh kearah suara dengan serentak bagai ada satu komando yang menginstruksikan nya.


" Mama..!" Habibah menyambut ibu mertuanya itu dengan sebuah pelukan, pelukan yang sangat hangat.


" Ah sayang.. Mama bahagia bisa melihatmu lagi. Mama masih tak percaya jika kamu bukan menantuku lagi."


" Mama salah.. Sampai kapanpun Bibah tetaplah menantu mama dan papa. Kalian ada cucu dari Bibah, maka sampai kapan pun tak ada mantan menantu dan mertua. Kecuali Bibah tak ada anak maka kita bisa jadi mantan. Ayo masuk ma, pa.. Tapi maaf Bibah harus tinggal dulu, sebab acaranya mau di mulai. Atau mama mau ikut gabung dengan ibu-ibu pengajian yang lain? Dan papa bisa menunggu bersama ayah Bibah di dalam. Mari Bibah antar pa." Habibah mempersilahkan pada kedua mertuanya itu untuk bergabung. Dan ibu Sofia melihat kedatangan mertua pertama Habibah pun ikut berdiri dan menyambutnya.


" Oh ya ma, kenalkan ini mertua Bibah dan mama ini calon mertua Bibah sekarang. " Habibah memperkenalkan keduanya dan merekapun saling bersalaman dan memperkenalkan diri mereka masing-masing.

__ADS_1


Acara pengajian dan kenduri berlangsung dengan khidmat. Semua berjalan dengan lancar, rasa haru menyeruak kedalam hati ibu Masurai yang terus menatap menantu kesayangannya yang kini mendapatkan calon ibu mertua yang juga menyayanginya.


" Dia memanglah pantas untuk dicintai dan disayang. Tapi aku tak seberuntung mertuanya yang sekarang. Semoga anaknya akan benar-benar bisa membahagiakan Habibah dan cucuku." bisiknya perlahan. Dan tak terasa air matanya jatuh melewati pipinya dengan perlahan. Dia buru-buru mengusapnya, dia takut orang lain yang melihatnya akan salah faham karenanya. Dan saat itu ternyata memang ada yang melihatnya, dia adalah Nuraini. Wanita itu menghampiri ibu Masurai yang masih memperhatikan Habibah dan ibu Sofia yang sedang bersama.


" Ironis sekali ya, seorang menantu kesayangan yang kini sudah berpindah hati pada mertua barunya. Apakah itu pantas? Aku dengan dulu ibu sangat menyayanginya, tapi sekarang orang yang dulu disayangi itu telah mengabaikan ibu." Nuraini mulai dengan kata-katanya yang menusuk dengan tujuan provokasi.


" Yah.. Dia memang pantas mendapatkan kasih sayang dan cinta dari semua orang. Dia adalah anak yang terbaik yang pernah aku temukan. Aku rasa, aku tak akan bisa menemukan lagi anak yang seperti dia disisa hidupku." ibu Masurai mengatakan sesuatu yang tak diharapkan oleh Nuraini. Bahkan dia melihat jika wanita paruh baya itu mengatakan kan dengan senyuman yang tulus dari hati.


Kenapa semua orang bisa begitu menyayangi dia? Sihir apa yang sudah dia gunakan untuk semua orang? Seolah-olah dia tak memiliki celah sama sekali. Semakin aku mengatakan hal buruk tentang dia, kenapa mereka akan semakin menyayanginya? Ah.. sial...!!


" Hai ananda Nur Habibah, ada seorang lelaki yang akan menikahimu dengan nama Purnomo yang akan memberikan mas kawin kepadamu seperangkat alat sholat dan cincin emas seberat 2 gram. Apakah ananda menerima lelaki ini sebagai calon imammu dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari pihak manapun?" tanya penghulu syahdu.


" Saya bersedia menerimanya dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari siapapun." jawab Habibah yakin dari balik tirai.


" Alhamdulillah.. Semua yang hadir saat ini akan menjadi saksi bahwa keduanya sama-sama ikhlas dan ridho untuk saling menerima satu sama lain. Maka ijab qobul bisa kita laksanakan sekarang." ucap penghulu itu sambil kembali duduk ditempatnya dan melanjutkan prosesi ijab qobul itu dengan sangat lancar. Meskipun Purnomo merasa sangat gugup, tapi dia berhasil melakukannya hanya dengan satu kali pengucapan saja. Dan begitu semua saksi mengatakan sah, air mata haru tak bisa ditahannya dan menetes dari ujung dagunya. Dia benar-benar tak menyangka jika hari yang sejak dahulu dia nantikan kini telah menjadi kenyataan. Wanita yang selama ini dia cintai dan impikan kini benar-benar telah resmi menjadi istrinya.


Saatnya bagi Purnomo untuk menyerahkan mas kawin dan menyematkan cincin dijari manis Habibah. Tirai telah dibuka, dan Purnomo duduk tepat dihadapan Habibah yang sudah menunggunya dengan gugupnya. Sampai-sampai tangannya terasa sangat dingin karena menahan rasa gugup yang sangat. Pertama Purnomo menyerahkan kotak seperangkat alat sholat, dan yang keduanya yaitu menyematkan cincin dijari Habibah. Momen itulah yang sangat mendebarkan bagi keduanya. Karena mereka belum pernah saling berpegangan tangan, dan itu akan jadi momen pertama bagi mereka untuk melakukanya dan itu disaksikan didepan banyak orang. Keduanya nampak malu untuk saling memegang tangan, meskipun Purnomo telah memegang cincin yang akan disematkannya dijari Habibah. Tapi dia takut untuk meraih tangan itu walaupun jarak keduanya hanya 2 jengkal saja. Habibah hanya bisa menundukan kepalanya sambil memilin ujung dari lengan bajunya. Dadanya bergemuruh tak karuan, keduanya hanya bisa tersenyum malu yang membuat orang yang melihatnya menjadi gemas. Dan akhirnya ibu Sofia maju dan menarik tangan Habibah dan disodorkan pada Purnomo agar Purnomo memakaikan cincinnya dengan segera. Habibah agak menahan tangannya begitupun dengan Purnomo tampak malu untuk melakukannya.

__ADS_1


" Sayang.. lemaskan tanganmu. Kenapa tanganmu dikeraskan begini nanti tanganmu sakit. Dan kamu, cepatlah kamu pakaikan cincin itu. Apakah kamu mau memakainya sendiri?" olok ibu Sofia yang menambah malu keduanya. Akhirnya dengan tangan sedikit gemetar Purnomo memakaikan cincin itu di jari manis istrinya. Begitu tangan bersentuhan, bagai ada sengatan listrik yang dari keduanya sampai kehati mereka. Semua bersorak begitu Purnomo berhasil memakaikan cincin itu pada Habibah. Dan Purnomo meraih tangan Habibah yang telah mengenakan cincin darinya dan menciumnya dengan lembut. Dan itu mengejutkan semua orang. Bahkan Habibah tak bisa menahan air mata harunya karna tak menyangka Purnomo bisa melakukan hal itu padanya di depan banyak orang. Dan Habibah mencium punggung tangan Purnomo dengan bercucuran air mata. Air mata bahagia tentunya. Dan semua momen itu telah direkam oleh banyak orang.


Di balik kebahagiaan yang menyelimuti habibah dan Purnomo. Ada beberapa orang yang merasa tak bahagia sama sekali. Di kejauhan ada Qodir dan Lina yang hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Qodir merasakan hidupnya semakin hampa saat menyadari semua telah pergi darinya. Bahkan dia melihat kedua orang tuanya yang terlihat sangat bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan Habibah. Tapi tak bisa diberikan untuknya. Dia tak bisa melihat air mata haru itu untuknya, Yang ada air mata kekecewaan dan kemarahan untuknya. Lina hanya berdiri mematung dengan wajah tak sukanya , dia merasa iri melihat kebahagiaan yang diperoleh Habibah.


Kenapa aku tak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti dia? Bahkan dia bisa dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Sedangkan aku? 😠😠


Disisi yang lain ada Ririn yang hari itu juga datang untuk membuktikan perkataan dari ibu Sofia mertuanya jika Habibah adalah istri Purnomo yang sekarang.


Mas..


Ternyata waktu tak menggoyahkan cintamu pada Habibah. Bahkan kini kamu berhasil mendapatkannya. Sedangkan aku? Aku kini sendirian tanpa seorangpun perduli padaku. Mungkin ini balasan yang terbaik untuk ku. Kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan dan bahagia dengan orang yang kamu cintai. Aku harusnya ikut senagkan mas..? Dia dulu temanku, bahkan sangat menyayangiku walau dia tak pernah menunjukan diwajahnya, tapi dia menunjukan sayangnya dengan perbuatannya. Dan aku sudah menyadari sepenuhnya sekarang, jika tak ada teman yang sebaik dia didunia ini.


Maafkan aku mas, maafkan aku Habibah.. Maafkan mama sayang..😪😪


***


buah kesabaran itu memanglah manis🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2