Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Janji Nur Laily


__ADS_3

"Assalamu'alaykum Uma..." seru Nur Laily sembari menghambur ke dalam pelukan Habibah.


" Astaghfirullah sayang... Kamu sama siapa datang kesininya? Kenapa gak kasih kabar dulu sama Uma? Ya Allah, anak Uma yang sholeha...." ucap Habibah sambil menciumi wajah gadis kecilnya yang kini beranjak remaja dalam dekapannya itu.


" Kan aku mau buat kejutan buat Uma... Sekarang sudah boleh masuk belum? Aku lapar mau minta sarapan sama Uma, boleh?" kata Nur Laily sambil menunjukan wajah yang memelas.


" Astaghfirullah, sampai lupa.. Ayo masuk... Abah sama Adek Zain ada di dalam.." ajak Habibah akhirnya.


" Ayo sini, Uma kenalkan dulu. Ini mbok Ratih dan yang disana itu mba Susan. Tapi kalau kamu boleh panggil bibi. Dan disana ruang makannya. Jadi ayok kita sarapan sama-sama." ajak Habibah pada Nur Laily dan juga kedua asisten rumah tangga nya.


" Gak usah Bu, biar kami makan di dapur aja.. " jawab mba Susan menolak ajakan Habibah.


" Kenapa makan di dapur? Di dalam rumah ini kita itu satu keluarga, jadi jangan sungkan begitu. Saya gak suka kalau sampai mbak Susan sama mbok Ratih makan di dapur.


Bukannya selama mbok kerja disini juga sudah biasa kita makan Sama-sama? Kenapa tiba-tiba mau makan di dapur?" tanya Habibah tak senang.


" Tapi Bu..."


" Ayolah mba Susan, kalau Mbak benar-benar mau kerja disini harus ikut aturan saya. Kalau kata saya kita satu keluarga jadi ya keluarga. Mana ada keluarga yang di beda-beda kan. Jadi ayo sekarang kita makan Sama-sama." ajak Habibah sambil meraih tangan kedua asisten rumah tangga nya.


Sementara mbok Ratih hanya bisa mengangguk pelan pada mba Susan yang terus memandang padanya.


Baru tau ada majikan kayak gini. biasanya majikan itu paling gak suka duduk sama-sama dengan asisten rumah tangga nya apalagi sampai makan satu meja.


Terima kasih Tuhan..


Kau berikan aku majikan yang baik seperti mereka. Aku akan berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya dan tak akan mengecewakan mereka.


Batin Susan sambil mengikuti langkah kaki Habibah menuju meja makan.

__ADS_1


Pagi itu mereka benar-benar sarapan bersama-sama. Walaupun mbok Ratih dan mbak Susan tetap merasa canggung. Karena bagaimanapun mereka tetap merasa tak pantas berada disana karena status mereka yang berbeda.


💮💮💮


Setelah Zelly pergi bekerja yang sebelumnya ia mengantarkan Zain pergi ke sekolahnya terlebih dulu. Habibah dan Nur Laily menghabiskan waktu bersama untuk mengobati rasa rindu mereka.


" Jadi, bagaimana dengan sekolahmu? Mau lanjut dimana sekolahnya? Terus gimana sama eyang? Kamu kesini izin dulu kan sama eyang, bukan kabur?" tanya Habibah bertubi-tubi.


" Uma... Bisa gak nanyanya satu-satu?" jawab Nur Laily sambil tertawa melihat wajah Habibah yang tiba-tiba jadi serius.


" Oke. Kamu jawabnya satu-satu aja." sahut Habibah sambil mencubit hidung ana( gadisnya gemas.


" Aku sudah lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan Eyang sudah kasih izin kalau aku boleh sekolah disini sama uma. Tapi ijazah nya masih belum keluar. Paling cepat sebulan lagi katanya." ujarnya menjelaskan.


" Terus, bagaimana kamu bisa tau alamat rumah Uma di sini?" tanya Habibah penasaran bagaimana anaknya bisa sampai dirumahnya.


" Ih Uma kepo.. Itu rahasia mana boleh dikasih Taukan ke Uma." jawab Nur Laily sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


" Ngomong-ngomong, gimana kabar calon Adek yang ada disini? Apa dia sehat? Kira-kira nanti adeknya cewek apa cowok ya? Penasaran, nanti di mirip sama Uma atau sama Abah." ucap Nur Laily mengalihkan pembicaraan sambil mengelus pelan perut Habibah yang membuncit..


" Mau mirip sama siapapun gak apa-apa, Alhamdulillah. Yang terpenting itu nantinya jadi anak yang Sholeh atau Sholeha. Cantik atau tampan itu cuma bonus aja. Karena itu sifatnya hanya sementara aja, semakin tua umur maka semua itu akan hilang dan berubah jadi kerutan yang gak akan enak di pandang.


Tapi anak yang Sholeh atau Sholeha itu letak cantik atau gantengnya itu ada dihatinya, yang insya Allah akan dibawa sampai di akhirat kelak. Mangkanya, anak Uma harus jadi anak Sholeh dan Sholeha.. biar bisa tolong orang tua dari siksaan di akhirat nanti. Seperti kamu, kalau jadi anak yang sholeha bisa tolong papa dari siksa setelah kematian." ucap Habibah dengan wajah yang benar-benar tak bisa di jelaskan.


Ada keseriusan, ada kesedihan, ada kerinduan, ada harapan dan kasih sayang jadi satu dalam ekspresi nya kali ini. Bagaimanapun dia tak bisa membohongi hatinya jika dia terkadang masih merindukan Purnomo.


Semua rasa itu masih tersimpan disudut hatinya yang paling dalam. Memang benar sekarang Habibah merasakan kebahagiaan bersama Zelly. Tapi itu tak lantas menghilangkan semua rasa yang di milikinya pada Purnomo hilang seluruhnya.


Mungkin karena perasaan itu telah ada untuk almarhum suaminya selama berpuluh tahun. Kalau mau di ibaratkan lebihnya adalah asa yang dimiliki oleh Habibah untuk purnama itu sudah mendarah daging. Jadi mustahil bisa hilang.

__ADS_1


Tapi Habibah pun tau akan posisinya yang kini telah menjadi istri dari Zelly. Dia mencoba mengubur semua perasaannya itu di sudut yang akan sulit untuk di jangkau lagi di hatinya. Walaupun pada kenyataannya akan sulit, karena jika sudah menyebutkan nama Purnomo maka dengan otomatis semua itu akan muncul kembali.


Kini hari-hari yang di lalui Habibah sedikit lebih berwarna sejak kedatangan Nur Laily dirumahnya. Karena setiap hari selalu ada yang mengajaknya untuk bercerita dan bersenda gurau.


Terkadang Nur Laily meminta Habibah untuk mengajarinya memasak atau sekedar membuat kue. Habibah sangat senang melihat keinginan anak remaja di hadapannya itu yang menurutnya jarang ada di usianya yang masih remaja begitu.


Kebanyakan di usia seperti Nur Laily akan lebih senang bermain dan berkumpul bersama teman-temannya. Bahkan tak jarang yang anti untuk masuk ke dapur.


Tapi berbeda dengan Nur Laily, dia sangat ingin bisa memasak berbagai masakan dan membuat bermacam-macam jenis kue. Baik itu yang tradisional ataupun yang modern.


" Aku ingin bisa seperti Uma, yang bisa buat apa aja di dapur. Nanti kalau aku sudah dewasa, aku ingin lebih hebat lagi dari Uma. Biar nanti aku bisa masakin yang enak-enak untuk Uma. Bahkan kalau bisa yang lebih enak dari buatan Uma ." kata Nur Laily suatu hari.


Habibah hanya mengamini harapan dari anak gadisnya itu. Dia sangat mendukung ke inginan anaknya itu dengan sepenuh hati.


" Kayaknya anak gadis Uma bakal jadi chef yang hebat nanti. Tapi kalau semua itu di kabulkan sama Allah,, kamu gak boleh sombong ya sayang... Setinggi apapun prestasi yang kamu raih, jangan pernah membuat kamu lupa diri dan jadi sombong. Kamu harus tetap rendah diri.


Dan jangan lupa untuk berbagi, baik itu ilmu yang kamu dapat atau rejeki lain berupa makanan atau apapun yang sangat di butuhkan banyak orang


Karena kamu harus ingat juga, apapun yang kita dapatkan di dunia ini masih ada hak orang lain di dalamnya. Selama itu bisa jadi manfaat bagi orang lain maka berikanlah.


Kita gak boleh pelit, karena Allah aja gak pernah pelit sama kita. Allah sudah kasih apapun yang bahkan lebih dari yang kita butuhkan. Maka kita harus selalu bersyukur dengan cara membagi apapun yang bisa di bagi dan bermanfaat untuk banyak orang." Nasehat panjang dari Habibah untuk anak perempuan yang kini beranjak remaja itu sungguh-sungguh bermakna.


Itulah yang membuat Nur Laily sangat senang hidup bersama dengan Habibah. Karena Habibah tak pernah memperlakukan dirinya sebagai orang lain. Tapi seperti anak kandungnya sendiri.


" Iya Uma, aku akan ingat semua nasehat dari Uma. Aku juga ingin bisa jadi wanita hebat seperti Uma." janjinya dengan kesungguhan hati.


" Mana ada Uma hebat, yang hebat itu para sahabiyah.. kalau Uma gak ada apa-apanya kalau di bandingkan dengan para sahabiyah. Uma hanya akan jadi butiran debu di hadapan mereka." jawab Habibah sambil tertawa


" Tapi Uma adalah wanita terhebat dalam hidup aku. Mangkanya aku ingin bisa seperti Uma." bela Nur Laily.

__ADS_1


" Iya deh, iya ... Terserah kamu aja." ucap Habibah sambil mencubit hemat hidung Nur Laily yang mungil.


__ADS_2