Perjalanan Cinta Habibah..

Perjalanan Cinta Habibah..
Patah hati


__ADS_3

Setelah pertemuan terakhirnya dengan Purnomo membuat Habibah kembali murung. Bahkan saat cara perpisahan berlangsung di sekolahnya pun dia tak hadir. Yang semakin membuatnya semakin murung adalah sebab dia kehilangan buku diary nya yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Entah kenapa dia mengalami firasat buruk sejak buku diary nya itu hilang. Bahkan dia hampir tak bisa tidur nyenyak saat malam hari. Hingga suatu hari Purnomo datang mengunjungi rumah majikannya itu dengan alasan menemui Ririn, entah kenapa hatinya benar-benar merasa tak tenang. Saat Ririn sudah pulang ke rumah kakaknya, Purnomo masih ada dirumah itu bersama Alvian. Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, entah keberanian datang dari mana Purnomo mengetuk kamar Habibah.


Tok..tok..tok..


Mendengar suara ketukan di pintu kamarnya, Habibah pun segera membukakan pintu kamarnya tanpa curiga. Karena dia tak menyangka jika Purnomo masih ada dirumah itu.


" Mas Pur..!" gadis itu terkejut sekali mengetahui bahwa yang mengetuk pintu kamarnya ternyata adalah Purnomo.


" Aku mau bicara sama kamu sekarang, penting." entah kenapa dia menangkap nada kemarahan didalam suara pria itu. Ada apa dengannya? Sepertinya dia sedang marah.. bathinnya sambil mengikuti langkah Purnomo yang membawanya ke gazebo di tengah taman.


" Duduklah.." nada suaranya ditekankan sebagai tanda perintah. Dan entah kenapa gadis itupun menurut tanpa bertanya.


" Aku mau tanya, dan kamu harus jawab dengan jujur sejujur jujurnya.." ucapnya sambil berdiri tepat dihadapan gadis itu dengan wajah yang sangat serius. Bulu kuduk gadis itu merinding dibuatnya, karena selama mereka berteman tak pernah sekalipun Purnomo bersikap seserius itu. Suasana menjadi sangat tegang.

__ADS_1


" Apa akhir- akhir ini kamu kehilangan sesuatu?" lanjutnya lagi. Habibah nampak sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.


" Ehm.. Ya, memang ada.. kenapa mas tiba-tiba tanya soal itu?" tanya Habibah khawatir. Dia gak tanya soal buku diary yang hilang itu kan?


" Apa yang hilang itu?" tanya Purnomo lagi.


" Ehm... ada lah.. lagi pula kenapa mas Pur ingin tau?" jawab Habibah semakin cemas.


" Apakah ini punya kamu?" Purnomo mengeluarkan sebuah buku bersampul warna ungu yang sangat dikenali oleh Habibah. Tubuh gadis itu mendadak gemetar dan dingin. Dia tak bisa menjawab sepatah katapun bahkan dia tak berani mengangkat wajahnya. Bagaimana buku diary itu ada sama dia? Gawaattt...! Serunya dalam hati.


" Kenapa kamu Setega ini sama aku Nur? Aku menunggu jawaban dari hati kamu selama bertahun-tahun lamanya. Kamu sudah ada di hatiku sejak kamu masih kelas lima SD hingga sekarang kamu sudah lulus SMA.. Setiap hari aku menunggu dan berharap kamu mau mengatakan apa isi hatimu yang sebenarnya. Aku selalu menunggu dan bertanya pada diri sendiri apakah hatimu sama dengan hatiku? Apakah kamu merasa apa yang aku rasakan? Sampai kamu ingin agar aku menerima Ririn bahkan sampai kami bertunangan. Aku mengira selama ini aku hanya bertepuk sebelah tangan padamu. Itu sebabnya aku memberi kesempatan pada Ririn untuk tetap ada di sisiku. Aku terus mencoba menerima Ririn dalam hatiku. Tapi... " Purnomo menghentikan kalimat nya dan tangannya menunjukkan buku diary yang ada di pangkuannya sambil tersenyum pahit.


" Kenapa aku begitu bodohnya. Selama ini aku tak bisa melihat apapun dari matamu. Aku tak bisa melihat apapun dari sikapmu. Kenapa saat rencana pernikahanku sudah di tetapkan aku baru tau kalau selama ini kamu punya perasaan yang sama denganku. Dan kenapa kamu gak pernah kasih tau aku Nur..." suaranya pelan namun terdengar begitu menyayat hati. Purnomo merasa kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa menyadari bahwa gadis yang selama ini dia cintai itu ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia merasa marah pada Habibah karena tak pernah mau mengatakan perasaannya itu padanya. Sementara sekarang dia sudah bertunangan dengan Ririn dan tanggal pernikahan sudah ditentukan.

__ADS_1


" Aku harus bagaimana sekarang Nur? Coba kamu katakan aku harus bagaimana sekarang?" tanyanya lagi sambil menatap lekat wajah gadis yang di hadapannya itu. Habibah hanya diam dengan air matanya yang tak terasa telah membasahi pipinya.


" Bisakah kamu katakan padaku sekarang kalau kamu mau menerima perasaanku dan bersedia hidup dengan ku? Aku hanya ingin kamu mengatakannya sekali saja, maka aku berjanji akan melepaskan Ririn dan membatalkan rencana pernikahan itu. Aku hanya butuh kamu mengatakannya sekali saja." ucapnya lagi dengan penuh pengharapan. Habibah terkejut dengan permintaan Purnomo yang terdengar sangat tak masuk akal baginya.


" Maaf mas, saya gak bisa.. Mas jangan sakiti Ririn karena saya, dia lebih baik dari saya mas.. Selain itu dia sudah seperti saudara buat saya. Mungkin sekarang mas Pur masih belum bisa cinta sama Ririn, tapi saya yakin suatu saat mas bisa menyayangi dia dengan tulus dan sepenuh hati. Jadi saya gak mungkin menghianati Ririn demi diri saya sendiri. Ririn sangat menyukai mas, saya yakin suatu hari nanti mas akan bahagia dengan dia." jawaban Habibah menambah luka di hati Purnomo. Apakah hanya jadi seperti ini penantian ku yang bertahun-tahun lamanya itu?


" Sudahlah mas, sebaiknya mas sekarang pulang. Kalau ada yang melihat kita berdua akan ada kesalah fahaman nantinya. Bukankah mas juga tau kalau cinta itu tak harus memiliki. Saya sayang bahkan sangat sayang sama mas Pur, tapi saya gak pernah berharap untuk bisa bersama dengan mas. Saya merasa tak pantas berada di sisi mas Pur. Terlalu banyak kekurangan yang saya miliki sedangkan saya tak bisa menemukan kekurangan dari mas. Saya gak yakin bisa bahagiakan mas di kemudian hari." tambahnya lagi.


" Baiklah kalau itu yang kamu mau, aku ikuti keinginan mu. Tapi aku mau tiga syarat dari kamu. Pertama aku ingin kamu pergi sejauh mungkin dari pandangan mataku juga dari hidupku. Kedua kamu harus lupakan aku dan yang ketiga sebelum kamu pergi kamu harus hadir di pernikahanku nanti." ucap Purnomo yang terdengar bagai petir ditelinga Habibah. Seperti ada sebuah gada besar yang tiba-tiba menghantam dadanya. Tubuhnya semakin bergetar dan terasa lemah tak bertenaga. Namun dia berusaha tersenyum dihadapan Purnomo yang kini sudah berdiri dan siap melangkahkan kakinya.


" Baiklah mas, saya janji saya akan turuti syarat mas tadi" ucapnya lirih namun terdengar jelas oleh Purnomo. Pria itu pergi meninggalkannya yang masih syok dengan apa yang baru saja dia hadapi. Air matanya tak berhenti mengalir meski dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghentikannya. Seperti inikah yang namanya patah hati? Sangat sakit, seperti inikah yang dirasakan oleh mas Pur sampai dia bisa menangis di hadapanku? Maafkan saya mas, maafkan saya.. rintihnya dalam hati. Dia sangat menyadari jika Purnomo sangat terluka karenanya. Dan diapun sangat terluka dengan keputusannya itu. Tapi bagaimanapun dia tak mungkin menghianati Ririn hanya demi dirinya sendiri.


***

__ADS_1


repot ya kalau sudah urusan persahabatan dan cinta😪😪


__ADS_2