
Qodir terus menatap Zain yang berada dalam pangkuan Habibah. Banyak yang ingin dia katakan, namun dia tak tau bagaimana cara untuk mengatakannya pada anak sekecil Zain. Apakah anak seusia Zain bisa mengerti apa yang ingin dia katakan padanya.
" Terima kasih.. Kamu sudah membawanya untuk menemuimu dan mengajarkan padanya untuk memanggilku dengan sebuah panggilan yang selama ini aku sendiri tak pernah bisa berharap untuk bisa mendengarnya. Terima kasih..." ucap Qodir lemah pada Habibah yang duduk tak jauh dari tempat ia berbaring.
" Tak perlu memikirkan banyak hal dulu, yang terpenting sekarang mas sembuh dan kembali pada keluarga mas yang menunggu mas dengan banyak harapan. Maka jangan kecewakan mereka." jawab Habibah dengan datar dan dingin yang bisa dirasakan oleh Qodir hingga kedasar hatinya.
Hatimu begitu dingin padaku, dan aku tak bisa menyalahkanmu. Aku memang pantas menerima semua sikap dinginmu. Tapi aku senang karena kau masih mau membawa anak kita untuk menemuiku dan memanggilku dengan sebutan Abah. Kau memang wanita yang berlapang dada, meskipun aku telah banyak menyakitimu tapi kau masih mau berbaik hati padaku. Sungguh beruntungnya lelaki yang kini telah bersanding denganmu.
Tak lama dokter pun datang bersama ibu Masurai. Dokter pun segera memeriksa keadaan Qodir. Setelah beberapa saat, dokter itupun memerintahkan perawat untuk melepas peralatan medis yang menempel ditubuh Qodir,. hanya selang infus yang masih tersisa..
" Sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik, tinggal menunggu kondisi tubuhnya kembali pulih saja. Insya Allah dalam beberapa hari ini pasien akan pulih. Tapi tetap harus di perhatikan emosinya dan pola makannya harus benar-benar sehat. Agar gula darahnya tak naik dengan drastis seperti tempo hari. Karena itu bisa membahayakan nyawanya jika sampai hal itu terulang lagi." pesan dokter pada ibu Masurai dan Lina.
" Baik dok, terimakasih banyak telah mengingatkan kami." jawab Lina sambil menatap wajah Qodir yang masih memandangi Zain. Dan dokter itupun meninggalkan ruangan bersama para perawat yang tadi mengikutinya.
" Bibah.. Bolehkan aku memeluknya?" tanya Qodir pada Habibah. Dipandanginya Zain yang duduk dalam pangkuannya. Dan megatakan keinginan Qodir pada Zain, dan Habibahpun memberi pengertian pada anaknya agar mau memenuhi keinginan dari ayahnya. Dan Zain pun terlihat menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Lina membantu Qodir untuk duduk bersandar pada bantal yang di susun sebagai sandaran punggungnya. Habibah mengangkat Zain agar berada dekat dengan Qodir ditempat tidurnya. Zainpun mendekati Qodir dan memeluknya perlahan.
__ADS_1
Hati Qodir seperti akan meledak menerima pelukan dari Zain anak semata wayangnya. Betapa haru memenuhi relung hatinya, sehingga air matanya tak dapat ia bendung lagi.
" Maafkan Abah.. Maafkan Abah.. Maaf.." ucap Qodir disela-sela tangisnya. Hanya kata itu yang mampu dia ucapkan pada Zain.
" Iya.." hanya satu kata itu yang keluar dari bibir mungilnya Zain.
Suasana haru itupun membuat ibu Masurai turut berderai air mata. Dia benar-benar tak menyangka jika momen seperti ini akan terjadi didepan matanya.
" Terima kasih sayang, begitu besarnya hatimu dalam mendidik anakmu ini. Kau tak membuatnya membenci ayahnya dan kaupun mau membawanya untuk membangunkan ayahnya dari tidur panjangnya. Entah balasan apa yang bisa aku lakukan untukmu sebagai ucapan terima kasih padamu." ibu Masurai menggenggam tangan Habibah dengan air mata yang masih membasahi pipinya hingga jatuh diujung dagunya dan membasahi kerudung yang dipakainya.
" Jangan bilang begitu ma.. Bagaimanapun juga Zain adalah anak dari mas Qodir, tak ada yang bisa memutuskan ikatan darah diantara mereka. Bibah hanya memenuhi kewajiban saja sebagai seorang ibu, tak ada yang lain dari itu. Jadi jangan pernah mengatakan soal balas Budi dan semacamnya. Karena semua ini adalah hak Zain yang harus Bibah tunaikan." Habibah menghapus lembut air mata ibu mertuanya itu.
Alhamdulillah...
Allah tak menyia-nyiakan penantian panjang ku dengan banyaknya luka yang harus kami lewati. Dan kini dia telah menjadi istriku yang selalu membuatku merasa kagum padanya. Aku bisa jatuh cinta padanya setiap kali aku menemukan hal-hal yang aku tak tau selama ini. Dan itu membuatku semakin merasa bersyukur padamu ya Allah..
Tak sia-sia cinta ini yang selalu hanya ada untuknya. Karena akhirnya Kau kembalikan dia padaku..
__ADS_1
Terima kasih ya Allah..🥰🥰
Selama dalam perjalan pulang, Purnomo hanya diam, Habibah masih sesekali bercengkrama dengan kedua anaknya. Hanya saja Purnomo tak begitu memperhatikan apa yang mereka bicarakan. Dia masih tenggelam dengan fikirannya sendiri. .
Sesampainya dirumah, Purnomo merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Walaupun dia tak melakukan apa-apa seharian, hanya menyetir yang waktunya pun tak begitu lama. Tapi entah kenapa dia sangat ingin cepat-cepat berbaring saja. Sementara Habibah harus mengurus anak-anaknya. Hingga keduanya tertidur baru Habibah bisa kembali ke kamarnya. Saat Habibah akan memasuki kamarnya, dia bertemu dengan ayah ibunya.
" Bagaimana keadaannya? Apa ada kemajuan? " tanya ayahnya pada Habibah.
" Keadaannya sudah jauh lebih baik yah.. Mas Qodir juga sudah sadar dia sekarang tinggal memulihkan tubuhnya saja. Dalam beberapa hari sudah bisa pulang. Semoga saja kondisi tubuhnya kembali stabil seperti semula." terang Habibah pada ayahnya.
" Baiklah.. Kamu kelihatannya juga lelah. Pergilah istirahat, kalau kamu merasa lapar. Mama masih menyimpan makanan di dapur. Kamu bisa memakannya."
" Iya ma, terimakasih.. Bibah mau mandi dulu, nanti kalau Bibah lapar akan cari sendiri didapur." jawab Habibah seraya masuk kedalam kamarnya.
" Anak kita benar-benar telah banyak berubah ya yah.. Dia benar-benar tak seperti anak kita yang dulu. Benar-benar telah dewasa." ucap ibu Sumarni pada suaminya..
" Iya. Meskipun dulu caraku mendidiknya dengan sangat keras, tapi ternyata dia tetaplah memiliki hati yang lembut. Meskipun sikap nya yang terlihat tegas, tapi itu tak bisa menutupi kelembutan hatinya . Dia adalah anak yang memiliki pendirian yang kuat, andai saja dia seperti anak-anak yang lain. Mungkin sekarang dia menjadi wanita yang keras sebagaimana didikanku yang keras padanya." ada penyesalan dalam hati kecil pak Rukmana yang mana dia telah menyadari kekeliruannya dalam mendidik Habibah yang seharusnya tak pantas dia lakukan pada anak gadis. Tapi dia sangat bersyukur karena ternyata caranya dalam mendidik tak terlalu berdampak pada kepribadian Habibah yang memang punya prinsip hidup yang kuat.
__ADS_1
Ibu Sumarni seolah mengerti apa yang sedang difikirkan oleh suaminya, diapun mengusap lembut punggung suaminya seolah ingin mengatakan " sudahlah, yang lalu telah berlalu. Yang terpenting sekarang anak kita sangat baik dan mengagumkan." senyum ibu Sumarni tampak menghiasai wajahnya saat pak Rukmana memandang wajah istrinya. Pak Rukmana pun menganggukan kepalanya seraya membalas senyuman istrinya..